Skip to main content

Posts

Dalam Usaha Ingin Menguasai Dunia

Udah bulan Februari. Bulan yang tiba-tiba berubah jadi merah jambu, dipenuhi cokelat, dan gombalan-gombalan “bapak kamu pasti tukang ...”. Tetapi, bagi anak kelas 12, inilah garis awal menuju fase dibikin pusing sama ujian. Sudahlah. Gue lagi nggak kepengin bahas ujian-ujian dulu. Mengenai hari Rabu ini, 8 Februari 2017 menjadi hari yang sangat menyiksa mata. Jadi, di sekolah gue ada semacam psikotes. Ada tes minat juga. Waktu pelaksanaannya dari pukul 1 siang sampai setengah 6 sore. Hampir 5 jam melototin kertas dan bergulat dengan soal yang bikin otak cedera. Tapi, selama pengerjaan nggak tau kenapa, waktunya jadi terasa cepeeet banget. Pukul 1 ke pukul 3 jadi berasa cuma 30 menit. Pengerjaannya juga padat waktu. Satu jenis soal selesai, lanjut ke jenis soal yang lain. Kemudian, ada sesi mengetahui minat. Tes minat yaitu, tes yang kira-kira bisa ngarahin kita mau ke mana nanti kuliah. Program studi seperti apa yang bisa kita ambil. Di lembar soal ada kolom vertikal berisi nam...

Kumpul-kumpul Lucu Bareng Blogger Jabodetabek

Pertemuan yang kuimpikan, kini jadi kenyataan. Kira-kira begitulah lirik lagu yang cocok dengan isi post ini. Ehm, tapi kok jadi dangdut begini? Tanggal 11 Desember 2016 gue ikut kopdar blogger kedua dalam hidup. Tempatnya di Taman Ismail Marzuki. Satu hal yang mengganggu pikiran gue adalah: di mana itu Taman Ismail Marzuki. yang bikin: instagram.com/tigabumi Tiga hari sebelum kopdar gue sempat nyari informasi rute ke Taman Ismail Marzuki. Karena gue pengguna Transjakarta sejati, dengan usaha keras gue cari di halaman pertama Google. Hingga akhirnya bertemu sebuah blog yang mencerahkan kegundahan. Di sana disebutkan bahwa dari halte Kalideres naik bus ke arah Harmoni. Lalu nyambung naik ke arah Blok M, turun di Bank Indonesia. Kemudian di Bank Indonesia ngasih lamaran kerja jalan sebentar sampai perempatan, naik kopaja 502. Yok, semoga ngangkat. Semoga penjelasan tadi bisa masuk page one. Muehehe. Kali aja ada yang nggak tahu jalan kayak gue. Udah gue jelasin, nih. Huh...

Berwisata ke Kota Tua Jakarta dengan Teman Lama

Mendapat kabar dari teman yang sudah lama nggak ketemu memberikan rasa deg-degan luar biasa. Begitulah yang gue rasakan setelah Alvin, teman SD gue, mengirim pesan. Seingat gue, kami bertemu terakhir kali saat SMP. Dia pulang dari pesantren, lalu mampir ke rumah gue, dan kita berdua ke rumah Andika, teman SD yang lain. Ngomongin kehidupan setelah lulus SD dan nanya kabar teman-teman seangkatan. Akhir tahun 2016 Alvin kembali datang ke Jakarta setelah mendapat libur di pondok pesantrennya. Saat itu gue lagi sibuk bolak-balik aplikasi media sosial, Alvin mengirim pesan via Facebook. “Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam. Lu lagi di Jakarta?” tanya gue. “Lagi di Monas, nih.” Mendengar kabar Alvin di Jakarta, gue langsung pengin ketemu dia. Sekadar mengetahui kabarnya dan mengeratkan tali silaturahmi. Gue dengan cepat membalas, “Gue pengin main bareng lu.” Kalimat itu terasa seperti cowok yang kangen sama pacar LDR-nya. “Ayo aja gue mah.” Diputuskanlah pergi ke Kota Tua, Jaka...

Surat Dari Ibu

Tinggal berdua dalam satu rumah adalah hal yang tidak pernah aku inginkan. Apakah ada lelaki, berumur enam belas tahun, yang menginginkan tinggal bersama adiknya, yang baru berumur delapan bulan? Agak gila. Aku seperti gadis belasan tahun yang disetubuhi hingga hamil kemudian ditinggal sang lelaki bajingan. Aku seringkali membuat penyangkalan, bahwa aku tidak pantas ditempatkan dalam kondisi begini. Tinggal serumah dengan manusia yang tidak bisa membantuku mengerjakan apa pun. Aku seperti hidup sendiri, kemudian diberi beban lagi. Saat diri tidak terkontrol, sepintas aku berpikir ingin menusuk pisau roti ke punggung adikku, sehingga beban di rumah ini berkurang. Ayahku pergi dua bulan sebelum Herman, adikku, dilahirkan. Ibuku tak kuketahui kabarnya pasca-melahirkan. Aku tak pernah mendapatkan informasi pasti di mana keberadaan kedua orang tuaku. Kerabat terdekatku, Tante Tresna, mengatakan, mereka ada di sebuah kota untuk mencari nafkah, dan kedua anaknya dititipkan pada adik A...

Kontemplasi Akhir Tahun

Dari SD sampai SMA, nggak banyak rumah teman yang pernah gue kunjungi. Gue memang agak segan main ke rumah teman. Banyak faktor yang membuat gue jarang ke rumah teman. Pertama, gue orangnya kaku. Jangankan ke rumah teman, ke rumah saudara saja gue cuma duduk diam atau menonton televisi. Gue takut kejadian itu juga terjadi di rumah teman. Ditanya orang tuanya teman, gue malah cengengesan nggak nyambung. Kedua (ini alasan yang dibuat-buat), gue takut nggak bisa pulang lagi. Takut nyasar. Farhan adalah salah satu teman yang rumahnya pernah gue kunjungi. Waktu itu gue lagi deket banget sama dia. Main ke mana-mana bareng. Dan nggak biasanya, Farhan bisa menjadi teman belajar. Sudah terlalu banyak teman gue yang “diajak main ayo, tapi diajak belajar nolak”. Saat itu, cuma Farhan yang mengerti kondisi kita. Saat itu gue sedang kelas 6. Persiapan UN lagi getol-getolnya. Selain jarang ke rumah teman, gue juga agak takut mengajak teman-teman ke rumah. Khawatir mereka nggak suka dengan p...

Reaksi Dari Dihapusnya Ujian Nasional

Apa yang paling ditakuti pelajar selain guru killer ? Kebanyakan orang jawab Ujian Nasional. Setelah sebuah wacana yang cukup menggemparkan muncul di berbagai media, kini ketakutan itu perlahan menghilang. Sebuah wacana berupa penghapusan Ujian Nasional disambut sukacita bagi mereka yang memperjuangkan itu sejak lama. (Walaupun gue nggak tahu kebenarannya ada atau nggak, yang jelas itu kemerdekaan bagi orang-orang penolak UN.) Wacana ini memberikan gue kebimbangan luar biasa. Kebanyakan orang senang dengan dihapuskannya Ujian Nasional. Sebagian kecil justru sedih. Mungkin mereka yang sedih adalah bandar kunci jawaban. Ya, maklumlah. Ladang usaha mereka berkurang. Akhirnya mereka beralih jadi bandar Kunci Mas. Alias bandar minyak goreng. (Pada tahu merek Kunci Mas nggak, sih?) Bila melihat posisi gue sekarang, antara senang atau sedih, gue nggak berada di sana. Di irisannya pun nggak ada. Gue lebih tepatnya nggak masuk ke dalam masalah ini. Gue berada dalam lingkaran permasala...

Pengalaman Baru Ke Pasar Baru, Jakarta

Selera masyarakat kekinian sudah semakin beragam. Ada orang-orang yang suka kemodernan, dan ada pula yang suka gaya tradisional. Sebagian orang juga menyukai sesuatu hal yang memiliki nilai historis. Misalnya, orang suka pakai sepeda onthel karena nilai sejarahnya tinggi. Dianggap langka dan unik. Tempat wisata pun begitu. Nilai-nilai sejarah menjadi daya tarik sebuah tempat. Jakarta, yang sudah “sibuk” sejak zaman kolonial, punya banyak tempat wisata peninggalan zaman penjajahan. Salah satunya adalah Pasar Baru. Pasar Baru, pasar yang nggak pernah lama. Selalu disebut baru. Keinginan gue untuk mengunjungi tempat ini sudah sejak lama dipendam. Ketika itu gue ke tempat ini bersama anak-anak KIR. Nah, bersamaan dengan turun di halte Pasar Baru, gue melihat ada gapura besar bertuliskan “Passer Baroe”. Mungkin suatu saat nanti gue akan ke sana, kata gue saat itu. Untuk mewujudkannya, satu hari di bulan Oktober 2016 gue ke sana. Hanya dengan bermodalkan kartu Transjakar...