Skip to main content

Posts

How I Meet Chemistry

Di sekolah, kita pasti kenal dengan anak yang minimal menyukai satu pelajaran bahkan sampai menguasainya. Untuk beberapa guru, mereka akan memanfaatkan kemampuan muridnya untuk disuruh-suruh. Sandro, teman di SMA, paling sering disuruh maju mengerjakan soal Matematika di papan tulis. Teman gue yang lain, Silvi, sering diminta mencontohkan bagaimana cara men- dribble bola basket yang baik saat mata pelajaran Penjaskes. Keahlian gue saat itu hanyalah di pelajaran kosong. Tidak ingin hanya menguasai pelajaran kosong, gue bertekad untuk dapat menguasai minimal satu mata pelajaran di SMA. Gue berkaca pada sembilan tahun sebelumnya selama bersekolah, lalu muncul sebuah pertanyaan: pelajaran apa yang gue kuasai selama ini? Maksud dari pertanyaan itu agar gue tinggal melanjutkan dan meneruskan mapel kesukaan sampai lulus SMA bahkan kuliah. Sewaktu SMP gue paling suka Matematika dan IPA. Gue berpikir bakal selamanya seperti begitu. Kenyataannya enggak. Menjalani satu bulan pertama...

Kamu Mau Nikah?

Sepertinya ada yang aneh dengan selera musik gue. Namun, apakah selera seseorang terhadap musik bisa disalahkan? Seperti orang yang sedang jatuh cinta, nggak perlu banyak alasan untuk jatuh ke dalam alunan sebuah lagu. Kalau dirasa sudah “klik”, gue bisa suka banget sama satu lagu atau band dan penyanyinya sekalian. Untuk beberapa kasus, kesukaan gue terhadap Kangen Band adalah contoh nyata. Hidup Juminten! Lambang pelajar Indonesia di luar negeri. Entah kenapa, gue kembali suka dengan lagu tema tentang pernikahan. Mungkin di pikiran kalian, “Ini anak udah mau cepet-cepet nikah atau gimana?” Nggak begitu, kok. Tenang dulu. Kuping gue memang sering merasa “klik” dengan tema-tema tertentu dalam waktu terbatas. Misalnya, minggu ini tema pernikahan, minggu depan tema perjuangan (setiap hari nyanyi lagu Maju Tak Gentar), dan lain-lain. Ada kalanya tema itu balik lagi seperti semula. Lalu, kenapa gue dengerin lagu tentang pernikahan? Gue juga nggak tau! Menurut gue, lagu-lagu tentang pe...

Kali Pertama ke Kampus

"Elo dari fakultas apa? Jurusan apa?” Kalimat itu sering muncul ketika gue datang ke sana, calon kampus. Selama gue melewati orang-orang kalimat itu terus menerus muncul. Gue mau ikutin cara mereka buat nyari kenalan, tapi gue nggak berani memulai. Padahal, gampang aja sebenarnya buat melakukannya. Tinggal cari orang duduk atau berdiri sendiri, tanyain deh, “Elo dari fakultas apa?” Dalam perjalanan menuju calon kampus gue bertemu seorang cewek yang—tanpa sengaja gue lihat—wallpaper handphone-nya berupa screen capture bertulis “ RUTE KE UNJ ”. Kalau tahu begini, harusnya gue bisa nunjukin jalan tanpa harus membuat dia sering-sering buka handphone. Selagi masih dalam pandangan, gue mau ikutin dia... bakal nyasar atau enggak. Kalau nyasar gue ketawain. Turun dari angkot gue mengetahui ternyata dia berangkat bareng bapaknya. Berkumis dan pake sepatu olahraga membuat bapak itu terkesan galak. Feeling gue beliau anak bela diri. Atau paling tidak, pernah ikut tes masuk militer...

Seharusnya Bukan Ini yang Saya Catat di Kelas Biologi

Alasan gue mau masuk IPA adalah karena gue penasaran dengan Biologi. Wah, alasan yang sungguh ilmiah . Padahal, nggak gitu-gitu amat, sih. Waktu kecil, teman-teman gue, selain manusia, adalah tumbuh-tumbuhan. Nggak cuma itu, gue juga suka main apa aja yang ada di luar rumah. Di mes, tempat tinggal gue dulu, kebetulan selalu ada orang bakar sampah setiap sore. Nah, di situ gue suka main. Memang, bukannya main layangan atau kelereng, gue malah sibuk ketemu asap. Sekarang jadi takut sama asap . Gue biasanya ngelelehin sedotan, main masak-masakan, dan nyirem-nyirem thinner ke api biar nyalanya besar. Nggak jelas banget permainan gue dulu. Yang paling gue inget pas main masak-masakan adalah masak pasir. Jadi, tutup kaleng bekas di atasnya ada pasir, dipanasin. Terus, setelah pasir cukup panas, wadah tadi gue jadikan alas di kurungan ayam-ayam kecil. Alhasil ayam-ayam itu lompat-lompat kepanasan sambil kaget, “ORANG! ORANG! ORANG!” (Perhatian: Kebanyakan nonton acara sulap The M...

Tidak Kenal Potensi Bukan Lagi Kutukan

Hingga saat ini, setelah lulus SMA, kepala gue masih dihujani pertanyaan: Mau lanjut ke mana setelah ini? Lulus SMA bukanlah suatu hal yang bisa membuat gue tenang begitu saja. Setiap bangun pagi gue harus mengakrabkan diri pada kejenuhan. Tidak ada lagi uang saku, tidak ada lagi main-main. Semakin sadar bahwa semua tindakan harus dipikirkan matang-matang. Salah satunya adalah perihal pilihan jurusan kuliah. Kata orang, salah jurusan berarti salah pilihan hidup. Hal itu menjadi salah satu alasan ketakutan bagi anak kelas 12. Bingung mau melangkah ke mana. Mau kerja, tapi nggak punya kemampuan khusus, terutama anak SMA yang memang belum punya keahlian seperti anak SMK. Menjadi anak kelas 12 berarti sering dihadapkan dengan ujian batin. Pikiran gue mentok saat itu. Dalam pikiran gue, dibumbui rasa frustrasi, hanya orang yang pintar Matematika saja yang bisa sukses. Gue melihat nilai rapor dari semester satu sampai lima, hati gue berbisik, “Astagfirullah...” Mata pelajaran yang p...

Insiden Laboratorium

Adanya asap membuat kita tahu akan kondisi di sebuah tempat. Asap yang membumbung tinggi di langit menandakan adanya kebakaran (atau orang bakar sampah?). Asap yang disertai kumpulan orang beramai-ramai juga salah satu tandanya. Lain halnya bila ada asap, orang ramai-ramai, ditambah ada aroma sedap... itu orang lagi nyate. Gue paling payah ketika ketemu asap. Di angkot, kalau ada orang yang ngerokok, gue menyelamatkan diri dengan cara nongolin kepala ke jendela. Sama halnya sewaktu dibonceng motor, pas di depan gue ada bus metromini atau kopaja. Gue bakal bengek-bengek. Ada kalanya gue ngerasain takut berlebih ketika berhadapan dengan asap. Apakah ada nama phobia terhadap asap? Sampai pada suatu hari, gue berhasil melawan ketakutan gue akan asap. Tidak bisa dimungkiri, nggak jarang anak jurusan IPA melakukan kegiatan di laboratorium. Gue, sebagai anak IPA yang nggak IPA-IPA banget, sebenarnya suka berada dalam ruangan ini. Berada di laboratorium membuat gue merasa keren. Cita-...

Menjadi Pengamat, Mencari Keringat

Saat ini, kegiatan sehari-hari gue habiskan di rumah. Penuh kejenuhan, tanpa pekerjaan yang benar-benar bikin capek. Dulu, semasa sekolah, gue sering dihadapkan dengan aktivitas yang menguras keringat, seperti jalan cepat biar bisa naik bus sekolah, lari biar nggak telat masuk sekolah, ngejar teman terus nepok pundaknya dari belakang, dan nungguin hasil ulangan. Percayalah, kegiatan terakhir itu selalu bikin keringetan dan penasaran, “Minggu ini remedial nggak, ya?” Setelah gue ingat-ingat lagi, ulangan harian gue yang tuntas itu terhitung jari. Parah emang, remedial mulu. Sekarang hidup gue kayak bintang laut: nempel mulu. Di kasur. Selain itu, kerjaan gue yang lain adalah nyentil kunciran keponakan, bukain kulkas setiap sejam sekali, baca buku, dan latihan soal. Gue kurang gerak. Pokoknya benar-benar kangen masa-masa berkeringat itu. Agar fungsi organ ekskresi tetap seimbang, gue memutuskan untuk bersepeda sebagai aktivitas berkeringat pengganti olahraga berat. Misalnya, smackdo...