Skip to main content

Posts

Merawat Niat

Rasanya lagi pas banget, apa yang saat ini saya tulis dengan beberapa nasihat yang saya dapat dan sampaikan. Sebuah topik yang menarik bagi saya secara pribadi. Apalagi setelah menjalani banyak lika-liku kehidupan yang cukup panjang.  Ya kali 20 tahun nggak ngerasain apa-apa~ Tentang niat. Dari perjalanan panjang itu, terutama aktivitas yang bermuara pada kebaikan, butuh niat yang kuat dan menghujam di awal. Setidaknya itu yang saya yakini. Innamal a’malu binniyat.  Sesungguhnya amal itu tergantung dari niat. Melalui niat, tujuan apa yang hendak kita kejar? Saya percaya bahwa segala hal tentang duniawi sudah Allah cukupkan bagi setiap manusia. Kita nggak perlu merisaukan urusan dunia. Semuanya sudah punya jatah masing-masing. Seharusnya pertanyaan yang perlu kita ajukan untuk diri kita pribadi adalah tentang sesuatu yang sifatnya belum pasti: apakah kita sudah dijamin mendapatkan ridho-Nya? Bolehlah kita cemas akan hal-hal yang beror...

7 Alasan Mengapa Kita Harus Menulis

Pasti banyak tulisan-tulisan serupa, bahkan kamu sendiri sudah paham alasannya. Nggak masalah. Dalam tulisan ini saya hanya berbagi dan bertukar pendapat. sumber gambar: Pixabay Memulai aktif menulis sejak 2014 di blog membuat saya banyak belajar. Memang belum banyak “materi” yang pernah saya dapat, tapi hal-hal yang tidak terlihat sudah banyak saya rasakan. Tulisan ini saya buat sebagai bentuk alasan saya selama ini tetap menulis blog. 1. Mempersenjatai diri Satu hal yang paling saya rasakan dari kebiasaan menulis adalah bertambahnya tools dalam diri saya. Maksud saya, tools ini adalah suatu modal yang bisa saya bawa ke dunia mana pun yang melibatkan proses menulis di dalamnya. Walaupun lebih sering nulis tentang curhatan di blog, kebiasaan menulis itu bisa banyak berdampak pada kelancaran saya menyampaikan pikiran. Di luar yang saya kira selama ini. Baca juga:  Berdasarkan Pengalaman: Tips Konsisten Menulis Sumber Ide untuk Menulis Contoh paling...

Bermimpi Jadi Penulis Buku

Lewat beberapa momen di pekan ini, akhirnya saya menulis post ini. Awalnya, saya membuat sebuah question di Instagram. Saya minta saran kepada kawan-kawan followers yang baik hati, kira-kira saya harus buat tulisan apa. Memang kesannya seperti pesanan. Tapi balik lagi, ini adalah saran. Bisa diambil, bisa ditolak. Di luar dugaan, ternyata banyak yang memberikan saran. Jelas sangat membantu saya yang sedang berusaha bangkit buat produktif nulis lagi. Hehehe. Tulisan ini pun akhirnya datang, walaupun dari saran yang telah ditampung nggak ada yang menyinggung soal “menjadi penulis”. Bukan berarti saran kalian nggak dipake ya, gaes. Topik tentang ini sebenarnya bukanlah topik baru. Sudah beberapa kali saya menulis, baik lewat satu post atau nyelip-nyelip di antara sebuah tulisan lain (semacam curcol). Diperkuat lagi keinginan buat nulis ini setelah melihat satu post di Instagram seperti ini. saya jawab nomor 6 Ditambah lagi setelah saya baca buku Mahasiswa Upnor...

Cerita Tentang Penerang Hati

Mahasiswa FMIPA UNJ punya tempat favorit buat kumpul, yaitu di belakang gedung FMIPA. Namanya Gedung KH. Hasjim Asj’arie atau lebih akrab disebut GHA. Bukan tempat ideal sebenarnya. Hanya pelataran biasa dan tempat parkir yang disulap menjadi tempat kumpul. Memang, pasca pindah dari Kampus B, kami belum pernah bisa merasakan tempat senyaman dulu. Betapa nikmatnya saung-saung diskusi yang dulu pernah ada—begitu yang pernah diceritakan kakak-kakak kami yang dulu merasakan kuliah di Kampus B. Selain dua tempat itu, ada lagi satu spot favorit, yaitu selasar GHA. Tempat ini setidaknya lebih layak disebut tempat kumpul. Didukung dengan angin sepoi-sepoi dan dekat dengan masjid, rasanya tempat ini menurut saya paling nyaman di FMIPA UNJ. Setelah disibukkan dengan urusan dunia dan menghabiskan waktu di sana, menyambut panggilan sholat jadi lebih ringan karena jaraknya yang dekat. Sore itu, kami ada agenda kumpul badan pengurus harian (BPH) BEM se-MIPA di belakang gedung GHA. Saya da...

Berprasangka Baik kepada Allah? Bisa!

Kesulitan dan kemudahan dalam kehidupan pasti selalu datang. Semuanya tergantung bagaimana kita menyikapi hal yang datang kepada kita. Setidaknya begitulah yang pernah saya simpulkan ketika mendengar cerita penuh nasihat dalam suatu majelis ilmu. Cerita ini saya pernah dengar dua kali. Karena sangat berkesan, saya cari cerita tersebut di Google untuk kelak saya bagikan kepada orang lain, dan semoga kita sama-sama mendapatkan hikmah dari cerita tersebut. Ternyata, cerita itu pernah ditulis Ust. Salim A. Fillah dalam bukunya Dalam Dekapan Ukhuwah. Beginilah ceritanya. *** Cerita ini ada pada masa ‘Abbasiyah. Ada seorang budak yang diberikan libur pada hari Jumat. Hari libur itu dia gunakan untuk bekerja, mengumpulkan uang untuk menebus dirinya pada majikannya. Dia bercita-cita menjadi orang yang merdeka. Suatu hari, setelah uangnya terkumpul, dia meminta izin kepada majikannya. Gayung bersambut, majikannya mengizinkan sang budak untuk menebus diri. Luar biasanya lagi, ...

Lift, Tempat Merawat Impian

Di kampus, khususnya di gedung fakultas saya, alhamdulillah sudah disediakan fasilitas lift. Banyak bahasan terkait ini, hingga terdengar di kelas-kelas saat proses belajar. Contohnya, orang naik lift hanya pindah satu lantai dianggap melakukan pemborosan, beberapa orang iseng memencet semua tombol, dan jangan banyak bicara di lift. Yang saya sebut terakhir adalah bagian favorit saya. Ketika itu disampaikan dosen saya saat semester 2. Dosen saya bilang, alasannya, apa yang keluar dari mulut kita, bukan hanya menimbulkan kebisingan, tetapi karbondioksida yang nggak diperlukan dalam pernapasan. Coba semuanya ngomong, karbondioksida ngumpul semua. Oksigen makin dikit, karbondioksidanya malah lebih banyak. Kalau dirasa alasan karbondioksida membingungkan, mungkin yang paling terlihat adalah alasan bising tadi. Beliau mengilustrasikan kira-kira begini: “Bayangin,” kata beliau penuh semangat, “seandainya ada mahasiswa yang abis ngerjain skripsi, capek dan pusing, lalu di dalam lift ...

Komitmen Muslim Sejati: Saya Harus Mengislamkan Akidah Saya

Satu hal yang ingin saya lakukan sejak lama adalah membuat catatan dari buku yang pernah saya baca. Saya sering mencatat hal menarik dari sebuah buku. Sayangnya, catatan saya selalu berantakan. Ketika mau baca catatan itu, entah ke mana saya harus mencarinya. Melihat kondisi lemari buku sekarang—yang ternyata lumayan banyak isinya, saya anggap ini sebagai peluang untuk memperbanyak tulisan di blog dengan membuat resume buku yang saya baca. Rencana saya, buku apa pun yang pernah saya baca, (kalau niat) akan saya buat resumenya.  Harapannya, kelak ketika saya ingin membaca buku tersebut, tetapi tidak membawanya, saya bisa langsung ke sini. Juga untuk berbagi kepada pembaca semua pastinya. Untuk kesempatan pertama, buku itu berjudul Komitmen Muslim Sejati karya Fathi Yakan. Buku terjemahan yang berjumlah 182 halaman terbitan Era Adicitra Intermedia. *** Apa artinya saya mengaku muslim? Pengakuan sebagai Muslim bukanlah klaim terhadap pewarisan, bukan klaim terhadap ...