Skip to main content

Posts

Perjalanan Ngeblog Tahun 2020

Memasuki akhir tahun, selama aktif di dunia organisasi, saya jadi akrab sama istilah evaluasi. Hari-hari kita bakal diisi dengan pertanyaan, “Apa yang jadi kekurangan di periode kita ya?”  Dan, ya... izinkan kali ini saya mengevaluasi diri, khususnya tentang blog, dan menuangkannya di blog tercinta—yang baru aja memperpanjang domain yang kelima kalinya. Asek~  Sebetulnya lebih pengin bikin tulisan ala-ala kaleidoskop gitu untuk kali ini. Oke, mari kita lihat akan jadi apa. Pada tahun 2020 saya mengganti template blog—seperti yang dilihat saat ini. Bagi teman-teman yang sering mampir ke sini, pasti tahu saya termasuk orang yang suka ganti-ganti tampilan blog. Alasannya, karena ngelihat tampilan orang lain, “Kok enak ya dipandangnya?” Akhirnya ganti template . Nggak macam-macam, bagi saya, yang penting tampilannya responsive itu sudah cukup. Selebihnya belum belajar lagi.  Selain template, blog saya pun berganti judul menjadi “Diary Refleksiku”. Sebuah plesetan dari salah ...

Mengeja Jejak Positif

Saya akhirnya mengerti, mengapa masa muda sangat baik untuk kita mengukir banyak hal-hal positif.  Belum lama ini, saya melihat-lihat lagi kenangan dan perjalanan saya menulis. Memang, cara ini tetap jadi cari ampuh untuk mengembalikan hasrat menulis. Kenangan itu, memang kelihatan remeh hari ini. Tetapi, setelah saya ingat bagaimana kenangan itu tercipta, ada banyak pesan yang membuat saya merenung kembali.  Ketimbang meremehkannya hari ini, justru meremehkan itu sendiri adalah aktivitas remeh. Andai kita mau melihat sesuatu yang positif, getaran yang menggerakkan itu sangat mudah dirasakan. Ambil contoh, yang tengah saya rasakan, arsip blog saya. Selalu dan selalu hal ini menjadi alasan saya memulai lagi menulis. Kalau bicara kualitas, tulisan lama saya dikatakan jelek, pasti jelek. Tulisannya sepele.  Dibanding sekarang mungkin ada sedikit peningkatan. Sisi positifnya, dulu saya punya semangat yang tulus, begitu simpul saya malam ini. Terus menulis hingga merasakan per...

Ketika Hidup Terasa Banyak Keluhan

Hari terakhir di bulan September tahun 2020, masih tetap mengeja kapan wabah berakhir. Setidaknya tetap perlu direnungi kembali, bulan ini sudah masuk bulan akhiran “ber”, bulan yang menimbulkan rasa dingin. Brrrr . Wabah terus menjangkit, semangat diuji untuk bangkit. Banyak orang yang tidak lagi bekerja karena pengurangan karyawan. Bagi dia yang termasuk ke dalamnya, hal positifnya adalah diberikannya waktu istirahat. Barangkali bekerja bertahun-tahun membuat dia kelelahan, tak sempat punya waktu bersama keluarga.  Namun, bayangnya bukan hanya tentangnya. Masih ada istri dan anak-anaknya yang tetap butuh dihidupi. Satu-satunya harapan yang dia miliki hanya kepada Sang Maha Pemberi. Dia percayakan kepada-Nya, badai pasti berlalu. Seperti hujan yang setia membasahi tanah di bulan September, seperti kering di bulan Maret. Semua hanya persoalan waktu. Menanti hingga reda, berani untuk kembali memulai, tegar dalam ketandusan.  Dia teringat kisah ulama Imam Hasan ...

Menulis Bernilai Ibadah

Menulis bernilai ibadah.  Ya, begitulah kesan yang saya dapat maknai setelah membaca salah satu tulisan Ust. Salim A. Fillah di blog pribadinya. Rasanya ingin saya salin ke sini semuanya, tetapi izinkan saya untuk meminta teman-teman membaca tulisan apik dari beliau di sini: Menulis, dari Makna hingga Daya.   Semoga sudah dibaca, ya. Dan sama-sama kita doakan beliau terus menebarkan kebaikan melalui tulisan-tulisannya. Udah, saya nggak perlu menyampaikan banyak hal. Sudah terangkum di sana semua, hehehe. Selamat memaknai kembali aktivitas yang kita sukai ini, sahabat!

Terlambat

Tidaklah sama antara hal buruk dengan hal baik, walaupun hal buruk itu terlihat lebih menarik. Kedewasaan dibuktikan dengan kematangan membedakan keduanya, sekalipun kilauan hal buruk begitu memanjakan mata. ⁣ ⁣ Dalam pilihan hidup pun demikian. Sejatinya masa kini adalah hasil dari pilihan-pilihan yang pernah kita ambil. ⁣ ⁣ Menjadi diri kita sekarang ini adalah perjalanan panjang beribu-ribu detik yang telah dilalui. Pada suatu persinggahan, kita akan berpikir bahwa sudah terlambat untuk kembali. Kita mengutuk diri atas kesalahan masa lalu dalam mengambil keputusan, hingga berbuah keputusasaan. ⁣ ⁣ Tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik.

Memilih Kesibukan

Selalu saya ingat perkataan pada awal menginjakkan kaki di kampus ini: saya ingin menjadi orang yang bermanfaat. Belum terbayang bermanfaat seperti apa. Yang jelas, andai ada kegiatan bermanfaat, saya pasti berkeinginan untuk ikut.  Ada beragam aktivitas di kampus. Luar biasa, saya takjub. Sangat melimpah kegiatan-kegiatan yang dilakukan mahasiswa di kampus yang tak seberapa besarnya ini. Mereka asyik dengan aktivitasnya masing-masing. Kegiatan sosial mengajar anak-anak, berdiskusi, mendengarkan kajian keagamaan, dan masih banyak lainnya. Semua aktivitas itu saya yakin membawa manfaat. Kadang saya dengar percakapan beberapa teman. Aku mau ikut kegiatan X, tapi bagian yang nggak sibuknya aja ah, takut capek , begitu katanya. Menurut saya perkataannya itu aneh. Setiap aktivitas yang dipilih pastilah ada kesibukannya. Andai dari luar dilihat tak sibuk, pastilah ada masanya diterpa kesibukan. Apabila suatu saat menemui kondisi seperti ini, kira-kira apa yang akan dilakuka...

Mencoba Produktif dengan To-Do-List

Lebih dari sebulan * segala aktivitas banyak dilakukan dari rumah. Kalau ditanya bagaimana perasaannya, kurang bervariasi aja rasanya. Kangen kejar-kejaran bus Transjakarta 5C di Harmoni, ketiduran sampai Kampung Melayu sewaktu mau ke kampus Rawamangun, dan masih banyak drama sebelum kuliah lainnya. Sekarang, drama yang dialami paling sekadar ketiduran dan telat online .  Asyiknya, selama pandemi, saya jadi punya banyak waktu melakukan banyak hal. Kadang, melakukan banyak hal dalam satu waktu. Misal, nugas sambil bikin sirup sambil rapat online sambil ngetik buat tulisan di blog. Dengan kata lain, blenger juga kalau begini terus. Saya nggak pernah bisa fokus.  Saya berstrategi agar seluruh aktivitas harian bisa (mendekati) maksimal hasilnya. Ya, sebuah cara yang sering saya buat, tetapi sering juga tidak terlaksana: membuat to do list harian. sumber: Pixabay Sempat ragu dalam memakai cara ini. Karena, menurut saya, buat apa bikin daftar kegiatan kalau ak...