Skip to main content

Pesta Kelulusan

Sako terus menerus memaksaku pergi ke tanah lapang. Dia bilang, di sana sudah banyak pelajar SMA berkumpul mengadakan pesta kelulusan. Tiga SMA di sekitar sekolah kami bergabung menjadi satu berada di tengah lapangan yang sengaja disewa untuk keperluan pesta. Aku enggan ke sana karena tidak memberikan uang donasi.

Sumber: kumparan.com

“Aku tidak ikut membayar iuran, bagaimana bisa ikut?”

Sako menggelengkan kepala. “Ayolah. Di sana banyak teman-teman sekolah kita. Saya yakin mereka masih mengingat kita, lalu memberi kita segelas sirup kokopandan.”

Aku tetap tidak yakin untuk hadir dalam pesta itu. Hanya aku dan Sako yang masih tersisa di sekolah setelah tadi pagi pengumuman kelulusan dikumandangkan kepala sekolah bahwa kami lulus seratus persen. Bukan waktu yang singkat mengingat ini adalah tahun keempatku berseragam putih abu-abu. Satu tahun tinggal kelas membuat aku merasa hidup di sekolah ini terlalu lama.

“Bagaimana?” tanya Sako mengagetkanku. Teman sebangkuku ini adalah tipe anak yang dapat menyentuh berbagai kalangan. Dia bermain bersama kalangan atas dan bermain dengan orang-orang pembaca komik seperti kami. Sako berprinsip tidak ingin melihat orang-orang yang ada di sekitarnya bersedih.

“Bagaimana, ya?” gumamku ragu. “Aku tidak punya keinginan pergi ke sana. Aku hanya punya rencana mengadakan pesta memasak sendiri di rumah nanti malam.”

“Bukannya kamu tinggal sendiri di rumah? Bersama siapa kamu mengadakan pesta?” tanya Sako bertubi-tubi. “Kalau masak dan makan untuk sendiri, itu bukan pesta namanya.”

Aku terdiam. Niat awalku mengadakan pesta kecil adalah mengajak Sako bergabung. Namun, sepertinya dia akan pergi ke tanah lapang.

***

Sako memboncengku ke toko material. Dia ingin membeli cat tembok untuk mengantisipasi dinding rumahnya dicoret-coret pelajar. “Ini yang saya tidak suka,” keluhnya. “Mereka seharusnya menyemprotkan cat di atas seragam mereka, bukan di dinding rumah saya.”

Satu tahun lalu, aku pernah melihat gerombolan pelajar sedang mencoret-coret di tembok kantor kecamatan. Mereka menuliskan julukan sekolah mereka di sana. Ada satu coretan yang familiar dan paling membekas dalam ingatanku, yaitu sebuah coretan yang berisikan reaksi Haber-Bosch. Sebuah reaksi pembuatan amonia tersebut ditorehkan dengan menggunakan cat semprot warna kuning. Coretan itu tidak pernah dihapus hingga tiga bulan sampai-sampai setiap berangkat sekolah aku selalu memandangi coretan itu sambil menghafalnya.

Sako memintaku membawa satu ember kecil cat tembok warna hitam di belakang. Dia memacu motornya dengan cepat dan meninggalkan cat di rumahnya. Lalu kami bergegas pergi ke pasar membeli bahan-bahan untuk pesta memasak nanti malam.

Barang belanjaan sudah penuh. Tidak biasanya aku membawa sayur dan bumbu-bumbu sebanyak ini. Bubuk kari, bumbu rendang, lada, dan bumbu-bumbu beraroma tajam berhasil kami dapatkan. Aku pun belum tahu ingin memasak seperti apa. Hanya berbekal kemampuan membuat masakan manusia yang dapat aku andalkan.

“Robby, kita ingin memasak apa sebenarnya?” Sako bingung dengan pesta memasak yang terkesan mendadak ini. Tanpa tujuan, tanpa banyak persiapan ini itu. Yang terpenting hanyalah: ada bahan, ada sesuatu yang disajikan.

Sambil menunggu malam, aku menonton acara reality show di televisi rumahku. Tidak benar-benar kupahami apa makna acara tersebut. Dua orang sok tahu—mengaku sebagai konsultan cinta—menolong seorang klien yang kebingungan akan jalan cintanya. Kekasih si klien ketahuan selingkuh sehingga dia marah besar. Persoalan semakin rumit setelah si klien adu mulut dengan selingkuhan kekasihnya. Padahal, mudah saja bagiku bila aku berada dalam posisi si klien. Aku pergi meninggalkan mereka berdua, lalu keesokan harinya seharian membaca buku di perpustakaan kota hingga mataku miopi.

Sako sendiri asyik membaca majalah olahraga lama. Aku lupa untuk menumpuknya di dalam kardus berisi koran dan majalah lamaku di sana dan dijual ke pembeli barang bekas. Terakhir kali aku menjual koran dan majalah bekas, aku mendapatkan uang yang cukup untuk biaya hidupku dan membayar sewa rumah selama dua bulan. Kemudian aku menyesali akan satu hal setelah ijazah SD dan SMP milikku ikut terjual.

Aku bertanya, “Kamu sudah bilang orang tuamu akan menginap di sini?” Dia hanya menganggukkan kepalanya. Kali ini sebuah novel milikku yang dia baca. Entah dari mana dia dapatkan.

“Hei, Robby,” Sako memanggilku, “bukumu ini bagus sekali. Tentang pertanian.”

“Begitulah,” aku setuju. “Itulah alasanku ingin menjadi petani.”

Dalam buku itu, kumpulan cerpen yang aku lupa apa judulnya, diceritakan seorang lelaki yang tidak punya latar belakang dalam pertanian mencoba peruntungannya di bidang itu. Bertahun-tahun dia mempelajari cara membuat komposisi pupuk yang baik, mencoba menyambungkan dua batang tanaman berbeda, hingga membedah kulit buah durian untuk mendapatkan kualitas buah terbaik. Baginya, buah durian adalah buah surga, meskipun kulitnya tidak sempurna—sehalus—buah lain.

Lelaki itu terpaksa mengeluarkan banyak uang demi eksperimen dalam hidupnya tersebut. Dalam satu bagian juga diceritakan dia sempat memakan rumput liar di hutan. Kehidupannya benar-benar sengsara demi menekuni sebuah bidang. Hingga akhirnya penantian bertahun-tahun berbuah hasil. Buah mentimun kecil muncul di atas lahan pertaniannya. Dia rawat baik-baik sampai buahnya besar. Setelah besar dia masak dan itulah buah pertama dan terakhir yang berhasil dia nikmati dari perjuangannya sebagai petani. Dia mati setelah memakan mentimun mentah-mentah, tanpa dicuci.

Aku memotong-motong sayur untuk dijadikan sup. Tidak tahu apakah bumbu dan sayuran yang aku beli di pasar ini benar atau tidak untuk memasak sup. Sako pun tidak memberi sanggahan karena dia sendiri tidak mengerti tentang memasak.

Air sudah mendidih. Aku memasukkan bumbu ke dalam panci. “Apa yang belum?” tanya Sako.

Aku menunjuk baskom berisi sayuran yang sudah dipotong-potong, lalu memasukkannya ke dalam panci.

“Aku lupa akan satu hal,” kataku teringat sesuatu.

“Apa?”

Aku bergegas berlari menuju kamar tamu. Aku menghampiri tas dan mengambil sesuatu di dalamnya dan berlari kembali ke dapur. Menyobeknya menjadi beberapa bagian kecil dan memasukkan ke dalam panci.

“ROBBY!” teriak Sako. “Apa yang kamu lakukan?”

“Aku ingin seperti petani itu,” jawabku santai. “Menikmati hasil dari buah perjuanganku.”

Sebuah ijazah SMA yang aku terima tadi pagi teraduk bersama sayuran di dalam sup. Semangkuk sup ijazah kami santap malam itu. “Bagaimana rasanya?” tanyaku pada Sako.


Sako mengoyak kertas ijazah dengan gigi taringnya dan mengunyah perlahan seperti memakan daging rusa. “Rasanya seperti diludahi guru killer.”

Comments

  1. itu beneran di cemplungin ?

    kalo beneran. salut dah wkwkwk

    ReplyDelete
  2. Aneh
    Kan ijazah bukan buah
    Apalagi buah buahan
    Pusing euy

    ReplyDelete
  3. eh! itu beneran ijazah kejual di loakan??

    kok setelah baca bagian akhir ijazah sma di masak jadi ragu😅

    dulu waktu kelulusan aku gak merayakan apapun. Aku malah pusing mikir mau kuliah di mana? 😀

    ReplyDelete
  4. Sako ini siapanya Masako ?

    ReplyDelete
  5. Pesta apaan makan ijazah ? Lebih enak sup SKHUN ! Gurih!

    wadaw

    ReplyDelete
  6. Awalnya Sako udah keren tuh bilang, "Pesta apaan sendirian?" Terus sekarang gue juga pengin bilang, "Pesta apaan berdua doang? Wqwq."

    Setelah mengetahui bahan yang dicemplungin, aing kesel. :(

    ReplyDelete
  7. Taek. Si Sako mau aja makan hasil masakannya Robby :(

    Baca ini kayak bukan anak baru lulus SMA yang nulis. Kelihatan kayak orang yang punya wawasan luas karena hidup lebih lama yang nulisnya. Dan ternyata semua itu karena Robby suka baca buku iya nggak sih~ Buku adalah jendela dunia~

    Sama mungkin kagum dengan anak pertanian juga sih. Anak pertanian yang dari Bengkalis kan, Rob? Unch unch.

    ReplyDelete
  8. Ini ko malah jadi pesta makan sup ijazah

    ReplyDelete
  9. Wkkk walau ini fiksi, tapi ijazah dirobek dimasukin soup, sungguhlah ekstrim :))

    ReplyDelete
  10. Ijazah pedas manis yes wkwkwkw
    Apa ijazah asem asin?

    XD

    Aneh bener pestanya ahhaha

    ReplyDelete
  11. Seharusnya ijazahnya di pepes aja. Aroma daun pisang yang dikukus tuh bikin bumbunya lebih meresap. Si Sako tolong bilangin suruh hidupin lampu lalu lintas lagi, F1 gak bisa tanding nih.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca. Mari berbagi bersama di kolom komentar.

Popular posts from this blog

Berdasarkan Pengalaman: Tips Konsisten Menulis

Suatu hari saya iseng bikin question story di Instagram. Saya bikin question tentang “topik apa yang orang lain pengin baca di blog saya” . Biasa. Saya lagi bingung mau nulis tentang apa. Kehabisan ide. Di luar dugaan, jawabannya banyak. Banyak yang nggak nyambung. Ada yang minta follow back , ada yang dagang, ada yang “yuk kak cek IG kami”. Ada satu jawaban, tulisannya: "tips istiqomah menulis" . Nah, ini yang saya tunggu. Bisa jadi tulisan nih, kata saya dalam hati. Alhamdulillah, akhirnya ada bahan buat nulis. Saya mengartikan jawaban tersebut sebagai "tips konsisten menulis". Semoga nggak jauh-jauh artinya. Baca juga: Sumber Ide untuk Lancar Menulis Kepada Siapa Tulisan-tulisan Ini Ditujukan Sebelum bahas lebih jauh, harus diakui bahwa saya belum begitu konsisten dan rutin dalam menulis. Mungkin baru akhir-akhir ini, ketika pandemi covid-19 menyerang, saya jadi lebih sering nulis. Ketemu laptop terus soalnya. Sebenarnya, untuk tulisan...

Dilanku, Dilanmu, Dilan Kita Semua

Lemari buku saya semakin penuh. Untuk menguranginya, satu per satu saya jual. Saya nggak nyangka ada yang mau beli buku bekas milik saya. Dari hasil penjualan itu, alhamdulillah saya bisa beli makan di akhir bulan.  Seiring berjalannya waktu, ada dua hal yang saya sesali. Pertama, kenapa uang penjualan buku nggak saya tabung. Padahal ada sekitar 10 lebih buku sukses terjual dengan harga 25-30 ribu per buku. Kedua, saya nggak bisa hemat. Ya sudah, biarlah yang lalu telah terjadi. Nasi sudah menjadi nasi goreng. Baca juga: Pengalaman Berjualan Buku Buku yang Menghangatkan Rumah Meskipun beberapa buku sudah terjual, saya tetap membeli buku yang lain, bahkan sekarang lebih banyak dari sebelumnya. Saya jadi bingung. Niat saya jual buku biar buku di lemari saya berkurang.  Sekarang malah ditambah.  Gimana sih maunya saya. Melihat kondisi begini, terbersit dalam pikiran saya, “Buku ini harus tetap bermanfaat, tapi saya nggak mau kehilangan mereka, tapi ...

Gerilya Bersenjatakan Buku

Setelah Tepi Buku nggak berjalan lagi , saya masih tetap membaca; sebagaimana orang bodoh yang tak mau terus-terusan menjadi bodoh. Dari Tepi Buku, banyak hal yang membuat saya belajar arti kolaborasi. Sebagaimana istilah yang saya temui di buku Kolaborasi Kebaikan karya Mas Alfath Bagus; kolaborasi artinya menemukan titik temu di antara banyak perbedaan. Buku Presiden Mahasiswa (Presma) BEM KM UGM 2017 itu begitu menginspirasi saya dalam memaknai kolaborasi. Atau, mengutip perkataan seorang guru: berbeda itu pasti, bersatu itu keharusan. Saya nggak ingin mengklaim Tepi Buku adalah milik saya seorang. Bukan. Namun, semangat yang dibangun sejak awal amat saya rasakan berada dalam diri saya. Pasca nggak berjalannya Tepi Buku, kami berlima tetap berteman. Fahmi masih baik sama saya. Masih suka makan bareng juga. Semua kembali sediakala. Sekali pun dalam kondisi yang enak buat ngobrol, saya jadi agak sungkan buat melanjutkan Tepi Buku.  Biarlah berlalu, nggak usah dip...