Skip to main content

Menyelami Kolam Kalam

Salah satu sumber ide menulis bagi saya adalah media sosial. Bisa dari pengamatan aktivitasnya, bisa juga dari memanfaatkan fiturnya.

Fitur favorit saya di Instagram adalah Ask Me Question. Fitur ini sempat jadi perdebatan karena ada dua aliran cara penggunaannya. 

1) Versi pertama mereka yang berlaku sebagai penanya dan followers menjawab 
2) Versi kedua mereka yang menjawab pertanyaan followers. 

Pihak Instagram mengonfirmasi, cara yang benar adalah versi kedua. Tapi saya lebih suka versi pertama. #TimNanyaJawaban

Terlepas dari gimana cara pakainya yang benar, fitur ini banyak banget manfaatnya. Bicara sebagai blogger, dari fitur ini, saya bisa banyak ngobrol sama teman-teman followers. Misal, saran buat blog saya. Fitur Question menjadi jembatan saya berkomunikasi dengan teman-teman.

Aktivitas ngeblog saya mungkin lagi semangat-semangatnya. Semangat ini bikin terpikirkan satu hal yang ... cukup iseng: saya mau bikin sesuatu. Tapi, entah apa yang ingin saya buat. Mau bikin e-book, tapi usahanya besar banget kalau sendiri, lumayan capek. Mau bikin blog bahasa Inggris, saya nggak jago. Mau bikin keributan, nanti ditankep polisi. Semuanya masih dalam bentuk percikan keinginan.

Masa-masa stuck seperti ini membuat saya melihat diri sendiri, berharap bisa mendapatkan jawaban atas kebingungan ini. Kalau nggak segera disalurkan, sayang banget kalau semangat ini luntur begitu aja. 

Akhirnya saya menemukan jawaban: 
Saat ini saya merasa “kesepian” di dunia blog. 

Rasanya, butuh sekelompok orang yang bisa menaikkan semangat, entah langsung atau nggak langsung. Di tengah masa karantina di rumah, setiap kali mantengin story di medsos, ada link blog di situ, saya girang bukan main. Saya tahu, orang ini nggak pernah nulis sebelumnya, tapi ada sedikit muncul perasaan “bisa nggak nih dijadiin teman?”

Jadilah saya iseng, bikin Question di Instagram story: 
ada saran untuk proyek menulis? 

Di story yang sama, saya tambahkan poll. Pertanyaannya: “tertarik ikut?” Pilihannya: tertarik atau tidak.

Iseng macam apa ini ya.

Baca juga

Di luar dugaan, banyak yang ikut nge-vote, meskipun yang mengisi saran di kolom Question nggak sampai 5 orang. Dari sekian banyak yang ngevote, banyak juga yang tertarik ikut. Saya lihat siapa saja yang tertarik, saya ambil beberapa yang saya kenal, langsung saya hubungi via personal chat WhatsApp dan DM Instagram. Didapatkan beberapa orang yang mau ikutan proyek saya ini. Kami semua kuliah di fakultas yang sama, FMIPA UNJ.

Kemudian dibuatlah grup untuk banyak ngobrolin tentang proyek ini. Sebenarnya saya jadi kurang sreg dengan istilah “proyek”. Saya lebih suka dengan sebutan “mainan”. Tentu, bukan jadi mengartikan ke hal yang sepele, tapi lebih memberi kesan ringan dan santai. Apa pun itu, saya tetap sebut “proyek”. Khawatir bikin bingung kalau saya sebut “mainan”.

Pertama-tama, kami bahas apa yang mau kami lakukan. Nulis, ya pasti. Nulis tentang apa, medianya apa, teknisnya seperti apa, dan lain-lain. Semua itu saya bawa berdasarkan pengalaman dulu proyekan di WIRDY. Semangat yang saya bawa ke sini.

Setelah semua sudah jelas apa yang akan kami lakukan, PR selanjutnya adalah nama untuk wadah kami ini. Ya, sebuah hal yang menyulitkan buat saya. Bisa dilihat dari nama blog ini yang sering berganti-ganti.

Saya iseng mengusulkan nama “Kolam Kalam”. Apa sih maksudnya?

Kolam diibaratkan sebagai tempat besar. Isinya air, tergantung kebutuhannya apa dari si pemilik.  Biasanya kolamnya bikin seger. Kalau pas bulan puasa, kolam bakal dipakai untuk campuran makanan. Kolam kaling. Kan bikin seger juga.

Duh, anjlok banget ini humornya. 

Lanjut.

Lalu kalam. Di KBBI, artinya: 
1) perkataan, kata (terutama bagi Allah Swt.); 
2) berkata, sifat yang wajib bagi Allah Swt.

Paduan antara kolam dan kalam adalah wadah atau tempat yang—diibaratkan berisi air—di dalamnya terdapat perkataan bagi Allah Swt. Dengan kata lain, kami ingin wadah ini tetap bertujuan pada membawa pesan kebaikan. Selain itu, dari segi kalimat, Kolam Kalam punya bunyi yang mirip. Jadi gemes aja gitu bacanya.

Ide itu yang kurang lebih saya sampaikan di grup. Mereka setuju. Dipakailah nama Kolam Kalam.

Tahap selanjutnya, saya buat blog. Saya pakai blogspot untuk media menulis kami. Kolamkalam.blogspot.com. Cukup sederhana. Tapi karena alamat itu sudah dipakai, saya bingung harus menggantinya jadi apa. Karena ingin tetap mempertahankan keutuhan namanya, saya tambahkan angka “4133”, yang artinya merupakan ayat dalam Al-Qur’an: surat ke-41, surat Fussilat, ayat 33. Ayat yang menjadi dasar semangat kami dalam menjalankan Kolam Kalam ini.

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh , aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri?)?” (Q.S. Fussilat: 33)

Ya, mungkin wadah ini masih terlalu muda. Saya pun nggak tau sampai kapan kami tetap menulis bersama. Kelak ketika masing-masing bunga penulis telah mekar pada waktunya, kami pernah berada dalam proses yang panjang. 

Mohon doanya untuk proyek, eh, mainan, eh program, atau apa pun yang kami kerjakan ini. Semoga bisa membawa manfaat.

---
Note: Untuk saat ini, Kolam Kalam sedang menulis tema “bersyukur”. Update setiap Senin 19.00, tetapi selama bulan Ramadan menjadi pukul 16.00 setiap Senin. Silakan berkunjung ke kolamkalam4133.blogspot.com

Comments

  1. Semoga berjalan lancar proyek mainannya mas Robby, siapa tau dari niat awal yang hanya untuk mengisi waktu luang bisa menjadi hal yang bermanfaat ke depannya :D

    ReplyDelete
  2. Seneng deh kalau mulai ada lagi blog baru muncul dan konsisten. Soalnya gue (sama Kresnoadi) sempat mengira kalau eranya blog tuh udah abis. Eh ternyata belum (kayaknya) muehehehe.

    ReplyDelete
  3. Wah selamat atas projek barunya ya. Persis sama dengan yang saya rasakan di tahun ini, tambah semangat dengan adanya sekelompok orang yang satu visi. Sama-sama mau konsisten nulis.

    Eh lucu juga yah kalo dilafalkan bunyinya 'Kolam Kalam' sekilas mirip penyebutannya. Awas aja ntar disingkat jadi Grup KK hihi

    Oiya grup bloggerku malah belum punya nama, mau dirundingkan dulu rencananya😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. KK. Krusty Krab~ huehehe

      Semangat juga nemuin nama buat grupnya!

      Delete
  4. Jadi ingat, dulu sempat bikin website yang macam ini juga. Tapi sepertinya ini lebih personal dan filosofis. Dan jujur, filosofinya juga keren. Meski awalnya, saya kebayang Kolam Tai-nya Podcast Awal Minggu. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huaaah, pernah ikut juga dulu. Simolor yak?

      Bukan wey :D

      Delete
  5. Waahh, lama gak ke blog dedek robby, smpet pangling sih awalnya, "lah ini gak salah alamat kan, yak?" Huehee, trnyata dia sukak ganti2 nama/tema blog yaa. Sumpah dah nentuin nama atau branding buat blog itu susah, gak dpt2 gue idenya. Ujung2nya nama sndiri aja udah wkwk. Itu kata kolam kalam bagus, Rob! Kalo gadijelasin artinya ga ngrti sih. Hhuehe. Gue kira malah "kalam" itu tenggelam... Eh, monmaap, itu karam deh kyaknya?

    Enak yaa tmen2 dunia nyata nya ada yg satu hobi dan bisa diajak krjasama untuk kolaborasi menulis... kolaborasi? proyek? mainan? apalah itu. apajadah. Bikin vote, prtnyaan atau fitur lain di ig bikin gak pede jg sih, nah pasti yg notis kurang dri 5 org yg orgnya itu lg itu lagi. Kalo gue yakk.

    Seakan2 mncerminkan dunia nyata gtu, pnya tmen bnyak, tp ttep aja kefilter lg dgn yg bner2 deket sama kita. haha. apesi. Semangat trs untuk kalian nulisnyaa dan mnyebarkan nilai2 kebaikan yaaks!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iya kak, dah lama nggak main juga ke sana huehehe

      Aamiin, mohon doanya kak biar istiqomah

      Delete
  6. Semoga projek barunya berjalan lancar ya, sesuai dengan nama blognya

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca. Mari berbagi bersama di kolom komentar.

Popular posts from this blog

Berdasarkan Pengalaman: Tips Konsisten Menulis

Suatu hari saya iseng bikin question story di Instagram. Saya bikin question tentang “topik apa yang orang lain pengin baca di blog saya” . Biasa. Saya lagi bingung mau nulis tentang apa. Kehabisan ide. Di luar dugaan, jawabannya banyak. Banyak yang nggak nyambung. Ada yang minta follow back , ada yang dagang, ada yang “yuk kak cek IG kami”. Ada satu jawaban, tulisannya: "tips istiqomah menulis" . Nah, ini yang saya tunggu. Bisa jadi tulisan nih, kata saya dalam hati. Alhamdulillah, akhirnya ada bahan buat nulis. Saya mengartikan jawaban tersebut sebagai "tips konsisten menulis". Semoga nggak jauh-jauh artinya. Baca juga: Sumber Ide untuk Lancar Menulis Kepada Siapa Tulisan-tulisan Ini Ditujukan Sebelum bahas lebih jauh, harus diakui bahwa saya belum begitu konsisten dan rutin dalam menulis. Mungkin baru akhir-akhir ini, ketika pandemi covid-19 menyerang, saya jadi lebih sering nulis. Ketemu laptop terus soalnya. Sebenarnya, untuk tulisan...

Dilanku, Dilanmu, Dilan Kita Semua

Lemari buku saya semakin penuh. Untuk menguranginya, satu per satu saya jual. Saya nggak nyangka ada yang mau beli buku bekas milik saya. Dari hasil penjualan itu, alhamdulillah saya bisa beli makan di akhir bulan.  Seiring berjalannya waktu, ada dua hal yang saya sesali. Pertama, kenapa uang penjualan buku nggak saya tabung. Padahal ada sekitar 10 lebih buku sukses terjual dengan harga 25-30 ribu per buku. Kedua, saya nggak bisa hemat. Ya sudah, biarlah yang lalu telah terjadi. Nasi sudah menjadi nasi goreng. Baca juga: Pengalaman Berjualan Buku Buku yang Menghangatkan Rumah Meskipun beberapa buku sudah terjual, saya tetap membeli buku yang lain, bahkan sekarang lebih banyak dari sebelumnya. Saya jadi bingung. Niat saya jual buku biar buku di lemari saya berkurang.  Sekarang malah ditambah.  Gimana sih maunya saya. Melihat kondisi begini, terbersit dalam pikiran saya, “Buku ini harus tetap bermanfaat, tapi saya nggak mau kehilangan mereka, tapi ...

Gerilya Bersenjatakan Buku

Setelah Tepi Buku nggak berjalan lagi , saya masih tetap membaca; sebagaimana orang bodoh yang tak mau terus-terusan menjadi bodoh. Dari Tepi Buku, banyak hal yang membuat saya belajar arti kolaborasi. Sebagaimana istilah yang saya temui di buku Kolaborasi Kebaikan karya Mas Alfath Bagus; kolaborasi artinya menemukan titik temu di antara banyak perbedaan. Buku Presiden Mahasiswa (Presma) BEM KM UGM 2017 itu begitu menginspirasi saya dalam memaknai kolaborasi. Atau, mengutip perkataan seorang guru: berbeda itu pasti, bersatu itu keharusan. Saya nggak ingin mengklaim Tepi Buku adalah milik saya seorang. Bukan. Namun, semangat yang dibangun sejak awal amat saya rasakan berada dalam diri saya. Pasca nggak berjalannya Tepi Buku, kami berlima tetap berteman. Fahmi masih baik sama saya. Masih suka makan bareng juga. Semua kembali sediakala. Sekali pun dalam kondisi yang enak buat ngobrol, saya jadi agak sungkan buat melanjutkan Tepi Buku.  Biarlah berlalu, nggak usah dip...