Skip to main content

Kurikulum 2013 dan curhatan penderitanya


Assalamualaikum... oyy bacain Surat Al-Fatihah dulu yokk. Pertama, buat guru olahraga di SMAN 33 yang lagi sakit. Yg kedua, buat kedua orangtua kalian semua yang baca ini. Yang ketiga, buat gua yang lagi batuk pilek *uhukk. Gws for me. Bener pada bacain ya, awas kalo ga baca.


Bentar..



“Ah, Kurikulum sekarang ga enak, bikin capek”
“K’13 mah ke enakkan gurunya, jarang ngajarin. Murid lebih aktif”
“Kurikulum sekarang mah di wajibkan ikut pramuka”
“Kurikulum 2013 sama aja kayak kurikulum sebelumnya. Uang jajan gua tetep ga nambah tuh”

Begitulah sekelumit komentar yang sering gua dengar dari para “korban k’13”. Macem-macem lah komentarnya. Belum lagi, ada yang komentarnya ngebandingin pendidikan di luar negeri sama pendidikan di Indonesia. Contoh:
“Pendidikan di Finlandia lebih enak. Jarang ada pr. Udah gitu di sesuaikan dengan minatnya”
“Pendidikan di Australia lebih bagus, karena begini begini begini”
(kenapa gua bilang begini 3x, karena gua ga tau pendidikan di Australia gimana)
“Lebih enak di Tasikmalaya, banyak biduan”
*lah

Makin absurd lagi, nyalahin Menteri Pendidikan. Parah emang warga kita.
Tapi gua akui, K’13 emang bikin capek. Yaiyalah, kalo ga capek mending lu tidur aja sonoh sambil kipas-kipas di rental ps2, yang sejam 2rb. Yang boleh minjem memory card. Yang boleh ganti stik. Yang kalo maen 10x gratis es teh manis semangkok. Mangkok bubur lagi. Es teh manis rasa gula batu. Batu kali (kenapa ngalor-ngidul gini)
Tapi K’13 ini sebenernya ga melulu soal kepintaran siswa aja. Attitude juga (sangat) dibutuhkan. Kan enak, yg bego ga selalu tinggal kelas. Yg penting attitudenya dijaga. (btw, artinya attitude apaan sih?)
Eh iya, udah mau Midtest aja nih. Kalo di sekolah gua tanggal 5 Oktober nanti. Insha Allah jadinya tahun ini (emang mau kapan lagi?)
Hmmm.. cukup sekian post kali ini. Doain gua ya di Midtest nanti semoga dimudahkan. Aamin

Comments

Popular posts from this blog

Berdasarkan Pengalaman: Tips Konsisten Menulis

Suatu hari saya iseng bikin question story di Instagram. Saya bikin question tentang “topik apa yang orang lain pengin baca di blog saya” . Biasa. Saya lagi bingung mau nulis tentang apa. Kehabisan ide. Di luar dugaan, jawabannya banyak. Banyak yang nggak nyambung. Ada yang minta follow back , ada yang dagang, ada yang “yuk kak cek IG kami”. Ada satu jawaban, tulisannya: "tips istiqomah menulis" . Nah, ini yang saya tunggu. Bisa jadi tulisan nih, kata saya dalam hati. Alhamdulillah, akhirnya ada bahan buat nulis. Saya mengartikan jawaban tersebut sebagai "tips konsisten menulis". Semoga nggak jauh-jauh artinya. Baca juga: Sumber Ide untuk Lancar Menulis Kepada Siapa Tulisan-tulisan Ini Ditujukan Sebelum bahas lebih jauh, harus diakui bahwa saya belum begitu konsisten dan rutin dalam menulis. Mungkin baru akhir-akhir ini, ketika pandemi covid-19 menyerang, saya jadi lebih sering nulis. Ketemu laptop terus soalnya. Sebenarnya, untuk tulisan...

Gerilya Bersenjatakan Buku

Setelah Tepi Buku nggak berjalan lagi , saya masih tetap membaca; sebagaimana orang bodoh yang tak mau terus-terusan menjadi bodoh. Dari Tepi Buku, banyak hal yang membuat saya belajar arti kolaborasi. Sebagaimana istilah yang saya temui di buku Kolaborasi Kebaikan karya Mas Alfath Bagus; kolaborasi artinya menemukan titik temu di antara banyak perbedaan. Buku Presiden Mahasiswa (Presma) BEM KM UGM 2017 itu begitu menginspirasi saya dalam memaknai kolaborasi. Atau, mengutip perkataan seorang guru: berbeda itu pasti, bersatu itu keharusan. Saya nggak ingin mengklaim Tepi Buku adalah milik saya seorang. Bukan. Namun, semangat yang dibangun sejak awal amat saya rasakan berada dalam diri saya. Pasca nggak berjalannya Tepi Buku, kami berlima tetap berteman. Fahmi masih baik sama saya. Masih suka makan bareng juga. Semua kembali sediakala. Sekali pun dalam kondisi yang enak buat ngobrol, saya jadi agak sungkan buat melanjutkan Tepi Buku.  Biarlah berlalu, nggak usah dip...

Memeluk Buku-buku yang Bertumpuk

Saya pernah berpikir, “Buku-buku di lemari ini, setelah saya meninggal, mau dibawa ke mana ya?” Sepertinya hanya akan tetap menumpuk. Ketika buku selesai dibaca, ia akan kembali bersama tumpukan buku yang lebih dahulu saya baca; selesai atau cuma sebagian.  Jujur, sampai saat ini, saya berobsesi pengin punya banyak buku. Andai dikasih kesempatan, saya mau punya perpustakaan sendiri di rumah, buku yang menghangatkan rumah . Minimal tempat baca untuk umum. Karena saya percaya prinsipnya: buku memang selesai di tumpukan, tapi isinya harus disebarkan. Saya nggak bisa senang sendirian karena baca buku. Orang lain harus tau isi dari apa yang saya baca, secara ide dan manfaat. Entah itu mereka yang membaca atau saya yang menceritakan.  Namun, ada kalanya saya nggak suka dengan tumpukan buku. Beberapa kali ini saya berpikir, mau ditaruh mana lagi nih kalau beli buku baru. Saya harus mengurangi sedikit tumpukan ini.  Salah satu caranya—pernah saya tulis di tulisan...