Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2017

Menjadi Pengamat, Mencari Keringat

Saat ini, kegiatan sehari-hari gue habiskan di rumah. Penuh kejenuhan, tanpa pekerjaan yang benar-benar bikin capek. Dulu, semasa sekolah, gue sering dihadapkan dengan aktivitas yang menguras keringat, seperti jalan cepat biar bisa naik bus sekolah, lari biar nggak telat masuk sekolah, ngejar teman terus nepok pundaknya dari belakang, dan nungguin hasil ulangan. Percayalah, kegiatan terakhir itu selalu bikin keringetan dan penasaran, “Minggu ini remedial nggak, ya?” Setelah gue ingat-ingat lagi, ulangan harian gue yang tuntas itu terhitung jari. Parah emang, remedial mulu. Sekarang hidup gue kayak bintang laut: nempel mulu. Di kasur. Selain itu, kerjaan gue yang lain adalah nyentil kunciran keponakan, bukain kulkas setiap sejam sekali, baca buku, dan latihan soal. Gue kurang gerak. Pokoknya benar-benar kangen masa-masa berkeringat itu. Agar fungsi organ ekskresi tetap seimbang, gue memutuskan untuk bersepeda sebagai aktivitas berkeringat pengganti olahraga berat. Misalnya, smackdo...

Sahabat Masa Kini

Aku berkedip-kedip, berusaha mencari tahu di mana sebenarnya aku sekarang. Aku merasakan permukaan empuk yang menahan punggungku. Aku melihat ke sebelah kanan, Iqbal sedang tidur setengah telanjang. Aku merasa tidak sadarkan diri karena terjaga menemani malamnya. Padahal, pukul 7 nanti aku harus menemani Iqbal ke kantornya. Menemani setiap kegiatannya mulai dari sarapan hingga makan siang. Segala cuaca: dari panas hingga hujan. Semua aku lakukan atas nama persahabatan. Persahabatan ? Entahlah. Lebih dari itu, mungkin. Dapat dikatakan juga ke hubungan yang lebih intim. Sumber: pixabay.com Aku berteman baik dengan Iqbal sejak tiga tahun lalu. Aku ingat betul momen saat kami bertemu. Pertemuan di sebuah gerai ponsel di mal dekat kantor tempat Iqbal bekerja. Di antara ramainya teman-temanku, Iqbal mendekati aku yang sedang tidak berbicara dengan siapa-siapa. Iqbal melirikku yang masih sendiri, lalu dia menghampiriku dan meninggalkan teman wanitanya. Sebuah pertemanan yang k...

Pesta Kelulusan

Sako terus menerus memaksaku pergi ke tanah lapang. Dia bilang, di sana sudah banyak pelajar SMA berkumpul mengadakan pesta kelulusan. Tiga SMA di sekitar sekolah kami bergabung menjadi satu berada di tengah lapangan yang sengaja disewa untuk keperluan pesta. Aku enggan ke sana karena tidak memberikan uang donasi. Sumber: kumparan.com “Aku tidak ikut membayar iuran, bagaimana bisa ikut?” Sako menggelengkan kepala. “Ayolah. Di sana banyak teman-teman sekolah kita. Saya yakin mereka masih mengingat kita, lalu memberi kita segelas sirup kokopandan.” Aku tetap tidak yakin untuk hadir dalam pesta itu. Hanya aku dan Sako yang masih tersisa di sekolah setelah tadi pagi pengumuman kelulusan dikumandangkan kepala sekolah bahwa kami lulus seratus persen. Bukan waktu yang singkat mengingat ini adalah tahun keempatku berseragam putih abu-abu. Satu tahun tinggal kelas membuat aku merasa hidup di sekolah ini terlalu lama. “Bagaimana?” tanya Sako mengagetkanku. Teman sebangkuku ini a...

Percakapan Sebelum Try Out

Gue bingung harus ke mana. Setelah turun dari halte Mangga Besar, gue harus tetap ngirit baterai Mifi Bolt—satu-satunya harapan untuk tersambung ke internet—yang tersisa satu batang. Heran. Setiap kali gue butuh benda ini sebagai modal menuju lokasi try out pasti selalu kehabisan baterai. Padahal, gue selalu mengisi baterainya dari malam. Tetapi, kenapa pada pagi harinya baterai tersisa satu batang? Ini masih menjadi misteri. (Baca juga cerita gue dalam menghadapi kehabisan baterai Bolt habis di sini: Karena Peka Itu Harus ) Satu senjata gue untuk sampai ke lokasi try out adalah Google Maps. Karena untuk membuka aplikasi ini harus menggunakan koneksi internet, gue harus berhati-hati dalam menggunakan Mifi agar tidak cepat habis. Lalu yang gue lakukan adalah seperti ini: jalan 20 meter, nyalain Maps – ingetin bakal belok ke mana – jalan lagi 50 meter - ternyata belokannya udah kelewat. Hari itu juga menjadi hari bersejarah dalam hidup gue. Selama lebih-kurang 17 tahun 9 bulan, a...

Terima Kasih SMA Negeri 33 Jakarta

Saya selalu punya sekolah impian. Dulu, ketika lulus SD, saya berkeinginan melanjutkan bersekolah di SMP Negeri 45 RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional). Bisa dibilang itulah impian besar saya setelah lulus. Nilai ujian nasional yang saya peroleh dirasa cukup untuk mendaftar di sekolah tersebut. Saya memberanikan diri untuk menginjakkan kaki di SMP impian saya. Meskipun pada akhirnya saya gagal bersekolah di sana karena saat itu sekolah RSBI masih bayar. Sedih bila mengingat momen itu. Seorang bapak duduk di sebuah meja pendaftaran. Kakak saya bertanya, “Pak, masih adakah jalur untuk reguler?” “Jalur reguler tidak ada untuk tahun ini,” jawabnya. Kakak memberi tahu saya biaya masuk sekolah ini cukup besar. Sedih, ya, sedih. Mau bagaimana lagi. Saya masih sayang orang tua, tidak ingin memberatkan mereka dengan biaya sekolah. Impian saya hampir terwujud meskipun hanya sebatas “pernah masuk SMPN 45”. Cuma sampai meja pendaftaran. Akhirnya saya bersekolah di...