Skip to main content

Diangkat dari Buku Harian

Sudah 53 hari blog ini nggak ada postingan baru. Setelah postingan terakhir berjudul “Menghadapi Pingsan”, nggak ada lagi update tulisan di blog ini. Mungkin blog ini sengaja gue “pingsankan”. Ini pun sebenarnya masih belum benar-benar sadar karena cuma nyolong waktu-waktu senggang. Memanfaatkan libur semester 1 yang tersisa hingga 28 Februari. Sekaligus ini adalah update blog pertama di tahun 2018.



Saat-saat seperti ini, banyak juga orang-orang yang kayak gue. Setelah lama nggak posting, bingung mau nulis apa. Bingung mau mulai dari mana. Gue pun sedang merasa begitu. Kebiasaan menulis untuk blog pelan-pelan terkikis menjadi kebiasaan membuat broadcast message undangan rapat atau informasi organisasi. Mungkin ke depannya gue mau update blog lagi. Nggak akan sering juga. Ngisi blog biar stamina menulis kembali pulih. Soalnya ke depannya gue butuh ketahanan nulis yang tinggi. Iya, iya, terlalu dini kalau gue bilang skripsi.

Selama vakum, gue sempat mikir perihal stamina itu. Stamina yang terlatih sejak kelas 10 SMA hingga banyak banget menghasilkan tulisan yang banyak juga jumlahnya. Nggak sebentar membentuk itu semua. Meskipun gue tahu, tulisan-tulisan yang terdahulu itu nggak terlalu penting, tapi gue merasa ada hikmahnya, yaitu terbentuknya ketahanan gue menulis.

Gue bisa membandingkan dengan beberapa teman ketika disuruh mengarang. Saat teman-teman gue baru menulis satu halaman, gue bisa mencapai satu setengah halaman. Kebiasaan menulis itu gue dapat dari ngeblog, terutama dulu nulis cerita sehari-hari. Berarti bisa diambil kesimpulan, penulis-penulis yang rajin banget ngeluarin buku, ketahanan nulisnya udah teruji. Pasti mereka juga dulu pernah pada masanya nulis buku harian.

Bicara soal buku harian, ada beberapa buku yang berangkat dari suatu buku harian dan berhasil meninggalkan kesan buat gue. Atau genre yang dulu bener-bener jadi kesukaan gue, yaitu personal literature. Entah itu genre atau merek dagang, tetapi tulisan-tulisan yang menceritakan tentang diri sendiri selalu mengajak gue untuk mengambil hikmah dari setiap cerita. Buku-buku yang diangkat dari buku harian adalah Becoming Che: Karena Mundur adalah Pengkhianatan, Kambingjantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh, dan Catatan Seorang Demonstran.

1. Becoming Che: Karena Mundur adalah Pengkhianatan
Pernah dengar Ernesto Guevara? Gue cuma pernah dengar namanya, tapi nggak banyak tau. Dari buku itu, ternyata dugaan gue kalau dia orang Kuba adalah salah. Dia adalah orang Argentina. Guevara juga seorang penjelajah Amerika Latin. Di buku itu, dia menjelajahi Argentina, Bolivia, Ekuador, dan Peru bersama Carlos Ferrer, sahabat sekaligus yang menjadi narator dalam buku tersebut.

Buku ini ditulis oleh Calica (panggilan dari Carlos Ferrer). Beberapa kali Calica mengutip apa-apa yang ada di dalam buku pribadi maupun surat yang ditulis Guevara kepada keluarganya sebagai pendukung jalannya cerita. Dari beberapa tulisan di buku pribadinya Guevara, terlihat dia sering menceritakan keresahannya seputar kepemerintahan yang ada di negara-negara Amerika Latin. Kediktatoran terutama yang membuat Guevara gerah. Membandingkan kondisi Guevara dengan gue, di buku harian gue paling-paling gerah karena mati listrik. Kipas nggak bisa nyala.
Meskipun nggak diceritakan langsung oleh Guevara, jalan cerita di buku ini terasa dekat dengan Guevara. Hal itu mungkin dikarenakan ditulis oleh sahabatnya sendiri. Lain kali mungkin gue akan membahas buku ini di postingan terpisah.

2. Kambingjantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh
Bisa dibilang Kambingjantan adalah buku yang banyak menginspirasi orang untuk menulis diari komedi di internet. Salah satunya gue. Apalagi waktu itu gue sedang duduk di bangku SMA, masa yang kata orang indah dan banyak gejolak. Halah gejolak.

Kambingjantan yang dibuat berformat benar-benar seperti buku harian, membuat gue membacanya seperti sedang tukeran diari, meskipun gue nggak pernah melakukan itu. Gue inget waktu itu baca Kambingjantan kelas 9 SMP. Lagi stres-stresnya mau UN, gue malah baca buku yang bikin stres ketawa.

Walaupun ejaan yang dipakai di buku ini nggak baku dan banyak bahasa slangnya, gue belajar nulis dari buku ini. Bukan belajar ejaannya mungkin, tapi belajar semangat menulisnya. Susah, lho, kalau mau nulis nggak bermodalkan semangat. Mau sejago apa pun kita nulis, pemahaman soal ejaan kita udah hebat, tapi semangatnya kurang, gue kira suatu tulisan nggak akan sampai selesai.


3. Catatan Seorang Demonstran
Buku ini sebenarnya belum selesai gue baca. Gue masih baca buku ini pelan-pelan. Karena banyak hal yang bikin ngantuk, misalnya kalau buku ini sedang bahas soal filsafat. Buku ini diambil dari catatan harian milik seorang mahasiswa bernama Soe Hok Gie. Sosok yang begitu dikenal, terutama di kalangan mahasiswa, karena sangat lantang mengkritik pemerintahan saat itu.

Buku ini formatnya mirip Kambingjantan—benar-benar dibuat mirip buku harian. Dari beberapa bagian yang gue baca, buku ini banyak mengungkapkan protes terhadap pemerintah, kepesimisan hidup, dan hal-hal filsafat. Soe Hok Gie juga menunjukkan betapa pentingnya manusia belajar sejarah.

Meskipun bahasan di buku ini terdengar serius, ada juga cerita-cerita anak sekolah pada masanya. Misalnya, ketika Gie berdebat dengan gurunya mengenai lamanya kepemerintahan Ken Arok. Gue seakan-akan sedang berada di kelas itu, duduk di pojokan, nontonin mereka berdua adu argumen.
Di antara cerita anak-anak sekolah yang pernah gue baca di buku ini, gue sempat ngakak di bagian Gie menceritakan temannya madol alias bolos. Entah kenapa gue bisa ketawa gara-gara baca kata “madol”. Tulisan itu ditulis tahun 1960-an dan sampai gue SMA, gue masih dengar kata “madol”. Ternyata “madol” emang udah lama banget dilestarikan.

Satu bagian yang menggelitik adalah saat Gie merasa miris.
 “... aku bertemu dengan seorang (bukan pengemis) yang tengah memakan kulit mangga. Rupanya ia kelaparan. Inilah salah satu gejala yang mulai nampak di ibukota. Dan kuberikan Rp2,50 dari uangku...
Ya, dua kilometer dari pemakan kulit “paduka” kita mungkin lagi tertawa-tawa, makan-makan dengan istri-istrinya yang cantik.”

Bahkan sampai sekarang, hal semacam itu masih terjadi. Orang-orang yang berkuasa sedang gembira, orang yang kesulitan sedang menaggung lara.

Buku harian bagi beberapa orang menjadi hal tabu untuk diketahui orang banyak. Namun, menulis buku harian bisa sebagai sarana melatih kelancaran menulis. Siapa tahu, cerita kita yang ditulis di buku harian bisa jadi lahan ide untuk lahirnya suatu karya.

Pertanyaan untuk diri pribadi: Nggak jadi vakum ngeblog, Rob?

Comments

  1. Nah itu pertanyaan untuk diri pribadi siapa yang harus jawab?
    Terus kenapa belum ada jawabannya
    Tentukan jawabanmu sekarang juga
    .
    Eh kalo buku diare yang isinya ttng biodata temen2 termasuk buku harian juga engga ya?

    ReplyDelete
  2. Kalau bisa ngeblog ngapain vakum, Rob?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Robby mungkin vakum di blog, tapi siapa tahu aja dia diem-diem lagi bikin novel. Wahaha. :D

      Delete
  3. Biasanya nih, baru dapet satu – dua kalimat. Dibaca bentar. Berasa jelek. Hapus.
    Udah gitu aja diulang-ulang terus, dan akhirnya nggak jadi nulis.

    Balada mahasiswa yang aktif di organisasi kampus, sibuk kuliah dan rapat – rapat club.

    ReplyDelete
  4. Tulisan RA Kartini juga diangkat dari tulisan harian. Habis Gelap Kok Nggak Terang-Terang, seandainya Kartini tau putri bangsa masa kini adalah generasi rentan galau. XD

    ReplyDelete
  5. Keren tulisannya! Semangat nulis terus, kak! :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca. Mari berbagi bersama di kolom komentar.

Popular posts from this blog

Maret 2025: Penantian Panjang dan Nikmat Ramadhan

Bulan Maret ini banyak banget hal yang mau ditulis. Ditambah sedang dalam bulan Ramadhan, nggak mungkin kekurangan cerita dari perjalanan ibadah di bulan suci ini.  Saat post ini ditulis, saya sedang berada di kampung. Ngetik di laptop, sambil mendengar suara alam, dan ditemani teh kemanisan yang mulai dingin. Rasanya bawa laptop ke kampung jadi keputusan yang tepat untuk tetap jaga ritme aktivitas. Ditambah lagi masih cukup luang waktu di kampung. Penantian Panjang Sejak mulai rutin merekap aktivitas bulanan di blog, saya sering menyebut tentang publikasi artikel. Akhirnya, setelah penantian tersebut, artikel saya terpublikasi. Silakan bagi yang berminat membaca Analysis of Students Scientific Literacy in Integrated Acid-Base Learning Socioscientific Issues Kalau ditanya bagaimana perasaannya, yang pasti senang banget! Karena ini akan membuka peluang untuk publikasi artikel-artikel berikutnya. Semoga rasa semangat itu terus hadir. Dan yang paling penting, tulisan saya bisa membawa...

Januari 2025: Kembali Seperti Masa Kuliah

Satu bulan lepas dari domain .com di blog ini ternyata tidak banyak perbedaan yang berarti dalam hidup saya. Salah satu alasannya memang karena beberapa tahun terakhir saya sudah kurang serius mengelola blog ini. Jadi, menurut saya, domain .com belum menjadi kebutuhan utama saat ini, sehingga ketika tidak melanjutkan perpanjangan waktu semuanya jadi biasa saja. Cukup menjadi kenangan 10 tahun bersama.  Sekarang mari kita memulai dengan santai dan tanpa beban.  Tahun 2025 ini saya berencana untuk punya rekap aktivitas setiap bulan. Sebetulnya saya punya file khusus tentang ini Google Drive melalui Spreadsheets. Namun, hanya tulisan singkat saja yang dapat jadi pemantik untuk saya tuang lebih banyak di blog. Lagi-lagi, ini adalah salah satu cara untuk mengembalikan semangat diary online yang menjadi identitas blog ini sejak saya SMA. Semoga ini jadi cara untuk merekam sedikit ingatan, mengembalikannya di masa depan, dan upaya tetap terhubung dengan rekanan yang lebih luas. Oke,...

Februari 2025 : Datang dari Pondok Cabe, Mengunjungi Bandung, Kelaparan di Salemba

Bulan Februari terasa lama sekali buat saya. Setiap hari bolak-balik buka web jurnal dan email, menanti kapan artikel saya di-submit. Saking nggak sabarnya punya artikel ilmiah perdana. Langsung saja, beberapa potongan tulisan saya di bulan Februari yang tercatat. Kedatangan Banyak Buku Awal bulan Februari saya selesai registrasi mata kuliah, yang mana berbarengan dengan pemesanan buku mata kuliah. Untuk yang belum tahu, saat ini saya sedang berkuliah S1 (lagi) di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Terbuka. Total di semester ini saya ambil 6 mata kuliah dengan total 18 sks.  Ketika paket datang, saya antusias luar biasa. Sayangnya saya lupa memfoto sebelum unboxing . Bagaimana perasaannya setelah membuka paket tersebut? Tentu bahagia!  Sekaligus... serius ini tebel-tebel banget, ya Allah. Kalau semua buku ditumpuk, tingginya setara dua bantal di rumah. Sebetulnya banyak pengalaman baru dan menarik buat saya pribadi selama persiapan menjadi mahasiswa UT. Kalau ada waktu dan ke...