Skip to main content

Untuk Kesekian Kalinya...

Untuk kesekian kalinya, saya pengin ngeblog lagi. Alhamdulillah, akhirnya bisa punya kesempatan ngisi tulisan di blog tersayang sejak SMA kelas 10 ini. 

Salah satu faktor penguat niat mengisi blog ini adalah domain. Sering kali kepikiran tentang hal yang sama: bayar domain mahal kalau nggak diisi buat apa blognya? Belum lagi harga domain setelah diperpanjang jadi mahal banget. Namun, hal itu nggak jadi terasa memberatkan. Rasanya seperti lebih berat ninggalin robbyharyanto.com dibanding bayar lebih untuk sewa domain setahun. Demi sebuah branding.  Selanjutnya, tinggal memaksimalkan domain yang diperpanjang.

Faktor lain yang jadi pendorong untuk saya mengisi blog kembali adalah faktor lingkungan. Entah kenapa, saya seperti “dipaksa” melihat hal-hal keren akhir-akhir ini. Maksudnya, orang-orang di sekitar saya kok bisa ya punya sesuatu yang mereka kerjakan selain bergelut dengan kesibukan utamanya? Dalam hal ini, saya melihat contoh teman sesama mahasiswa yang produktif. Jadi gregetan sendiri rasanya. Dulu mungkin saya pernah merasa sangat produktif di samping menyeimbangkan urusan akademik saat SMA. Kenapa sekarang nggak bisa. Itu yang harus saya renungi.

Namun, saya pun sedang berpikir, produktif seperti apa yang akan saya perjuangkan. Mengingat masa muda adalah masa yang penuh dengan gemerlap impian, saya akan memilah mana yang layak untuk diperjuangkan dan mana yang seharusnya ditinggalkan.

Mungkin 1,5 tahun ini saya belum bisa menemukan ritme menulis itu kembali. Membandingkan dengan usaha Haruki Murakami dalam mempersiapkan marathon, usaha saya untuk fit dalam menulis berusaha saya rintis kembali. Ya, untuk kesekian kalinya saya bilang begini.

Comments

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca. Mari berbagi bersama di kolom komentar.

Popular posts from this blog

Maret 2025: Penantian Panjang dan Nikmat Ramadhan

Bulan Maret ini banyak banget hal yang mau ditulis. Ditambah sedang dalam bulan Ramadhan, nggak mungkin kekurangan cerita dari perjalanan ibadah di bulan suci ini.  Saat post ini ditulis, saya sedang berada di kampung. Ngetik di laptop, sambil mendengar suara alam, dan ditemani teh kemanisan yang mulai dingin. Rasanya bawa laptop ke kampung jadi keputusan yang tepat untuk tetap jaga ritme aktivitas. Ditambah lagi masih cukup luang waktu di kampung. Penantian Panjang Sejak mulai rutin merekap aktivitas bulanan di blog, saya sering menyebut tentang publikasi artikel. Akhirnya, setelah penantian tersebut, artikel saya terpublikasi. Silakan bagi yang berminat membaca Analysis of Students Scientific Literacy in Integrated Acid-Base Learning Socioscientific Issues Kalau ditanya bagaimana perasaannya, yang pasti senang banget! Karena ini akan membuka peluang untuk publikasi artikel-artikel berikutnya. Semoga rasa semangat itu terus hadir. Dan yang paling penting, tulisan saya bisa membawa...

Januari 2025: Kembali Seperti Masa Kuliah

Satu bulan lepas dari domain .com di blog ini ternyata tidak banyak perbedaan yang berarti dalam hidup saya. Salah satu alasannya memang karena beberapa tahun terakhir saya sudah kurang serius mengelola blog ini. Jadi, menurut saya, domain .com belum menjadi kebutuhan utama saat ini, sehingga ketika tidak melanjutkan perpanjangan waktu semuanya jadi biasa saja. Cukup menjadi kenangan 10 tahun bersama.  Sekarang mari kita memulai dengan santai dan tanpa beban.  Tahun 2025 ini saya berencana untuk punya rekap aktivitas setiap bulan. Sebetulnya saya punya file khusus tentang ini Google Drive melalui Spreadsheets. Namun, hanya tulisan singkat saja yang dapat jadi pemantik untuk saya tuang lebih banyak di blog. Lagi-lagi, ini adalah salah satu cara untuk mengembalikan semangat diary online yang menjadi identitas blog ini sejak saya SMA. Semoga ini jadi cara untuk merekam sedikit ingatan, mengembalikannya di masa depan, dan upaya tetap terhubung dengan rekanan yang lebih luas. Oke,...

Pengalaman Berjualan Buku

Sudah saya sadari sejak lama bahwa lemari buku saya semakin penuh dari tahun ke tahun. Terhitung sejak kelas 9 SMP, diawali dengan memiliki buku Marmut Merah Jambu-nya Raditya Dika, hingga kini buku saya sudah mencapai puluhan jumlahnya. Memang belum sampai 40, tapi rasanya sudah saatnya saya harus menyikapi hal ini. Buku-buku itu kebanyakan hanya dibaca sekali (kecuali buku-buku Raditya Dika yang rata-rata minimal 3 kali baca ulang). Mereka berbaris rapi menempati lemari. Lemari saya kepenuhan. Terinspirasi dari seorang blogger, saya memberanikan diri menjual buku-buku saya. Saya upload ke Tokopedia semua buku yang sudah lama tidak dibaca, dibaca cuma sekali, atau nggak ada keinginan lagi untuk membacanya ulang. Dapat dipastikan, dengan kriteria seperti itu, buku-buku Raditya Dika nggak saya upload. Sayang banget waktu itu (sekarang sudah masuk ke toko virtual saya di sana). Awalnya saya ragu. Apa iya ada yang mau beli? Kalaupun ada, nunggu sampai kapan? Namanya anak baru, maunya...