Skip to main content

Dari Comdev Turun ke Hati (Part 1)


“Mau ikut apa aja nih Robby?” tanya seorang kakak sewaktu masa-masa pengenalan kampus.
Saya bersemangat menjawab, “Saya mau ikut komunitas berkebun kak!”
Satu alasan mengapa saya ingin ikut komunitas berkebun karena berkebun adalah hobi dan obsesi saya. Berkebun adalah kegiatan kesukaan saya selain bermain air di kolam pembuangan (alias comberan) sewaktu tinggal di rumah lama. Hobi yang nggak pantas disebut hobi.

Hobi berkebun terasa semakin menyenangkan lewat kegiatan rutin yang dilakukan bapak saya setiap sore: merapikan lahan pembuangan sampah dan menyulapnya menjadi kebun singkong. Hasilnya luar biasa. Beberapa kali keluarga kami makan hasil dari sana.

Bisa dibilang orang tua saya sangat menyukai kegiatan menanam. Mama saya pernah punya satu pot tanaman cabai dan buahnya banyak (sebelum akhirnya lenyap dipetik tetangga). Bapak saya, seperti yang telah diceritakan, berhasil memberi manfaat dari tempat yang tidak terurus menjadi sepetak sumber makanan. Selain kedua orang terdekat di rumah, orang terdekat di samping rumah alias tetangga saya pun menyukai tanam-menanam. Tetangga saya memiliki beberapa tanaman obat.
Selama itu, ketika saya kecil, hanya satu yang sedang saya tanam: kejujuran.

Oke, yang ini nggak terlihat hijau.

Melihat jurusan kuliah saya masih punya hubungan dengan alam, saya melihat potensi saya dapat kembali diasah. Meskipun bukan kuliah di kampus pertanian, tidak membuat niat saya kendor untuk melanjutkan hobi berkebun.

Sejak awal kuliah saya menanti organisasi itu membuka pendaftaran anggota. Saya hanya ingin ikut ini. Titik. Tekad saya bulat. Walaupun dulu sewaktu pengenalan kehidupan kampus banyak sekali organisasi yang memikat hati saya, tetapi belum sekuat ini rasanya.

***

Sampai tiba suatu momen yang akhirnya membawa saya ke sebuah perjalanan panjang...

Pada sebuah perkenalan ormawa:

“Kalau community development tau nggak?”
“Hmmm,” saya berusaha berpikir, “Pengembangan komunitas.” Akhirnya hanya itu yang bisa saya katakan. Terjemahannya saja.

Singkat cerita, ternyata di kampus ini dikenal yang namanya comdev atau community development. Bukan seperti comdev yang dikenal secara umum, comdev di sini adalah ormawa yang bergerak dalam bidang pengembangan masyarakat di suatu daerah dan menjadi wadah mahasiswa dalam pengabdian masyarakat. Kerennya adalah di setiap fakultas punya comdev-nya sendiri. Di FMIPA UNJ, ada namanya Desa Binaan FMIPA UNJ. Kegiatannya seputar pengajaran anak-anak.
Kurang lebih itulah kesan pertama yang saya dapatkan ketika mendapat perkanalan seputar Desa Binaan (lebih akrab disebut DB).

Jauh setelah hari itu, saya pernah bertemu dengan mahasiswa dari kampus lain yang di kampusnya memiliki kegiatan serupa. Di IPB namanya IPB Mengajar, ITB namanya Skhole, dan skala yang lebih luas, ada Indonesia Mengajar. Kurang lebih kegiatannya serupa.

“Saya belum tertarik kak.”

Itulah yang saya katakan untuk DB kepada kakak fasilitator sewaktu perkenalan ormawa. Alasannya sederhana: saya nggak ngerti cara komunikasi sama anak-anak. Misalnya, seorang anak yang diam di pojokan. Saya nggak paham apa yang sedang dia rasakan dan saya nggak pernah punya rasa inisiatif buat nanya dia kenapa. Entah. Saya nggak paham sama sekali! Bahkan ketika saya masih anak-anak, saya jarang ngobrol dengan teman seumuran. Kecuali kalau sudah menyangkut obrolan dan permainan sepak bola, rasanya semua bahasa jadi mudah terjemahkan. Namun, teman-teman saat itu jarang yang mengerti bola. Akhirnya, saya lebih sering ngobrol sama bapak-bapak yang memang paham bola.

Sepertinya DB bukanlah pilihan saya saat itu.

Comments

  1. hai anak mudaa, mari belajar bermain dan interaksi dengan anak-anak bersama komunitas saya TGR Community sembari melestarikan permainan tradisional Indonesia. Ini murni komunitas, dijamin bukan MLM. Mari Bergabung!!

    ReplyDelete
  2. Yang diem si pojokan itu tanda-tanda bentar lagi kesurupan..

    “AING MAUNG!! HRRR!”

    gitu.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca. Mari berbagi bersama di kolom komentar.

Popular posts from this blog

Berdasarkan Pengalaman: Tips Konsisten Menulis

Suatu hari saya iseng bikin question story di Instagram. Saya bikin question tentang “topik apa yang orang lain pengin baca di blog saya” . Biasa. Saya lagi bingung mau nulis tentang apa. Kehabisan ide. Di luar dugaan, jawabannya banyak. Banyak yang nggak nyambung. Ada yang minta follow back , ada yang dagang, ada yang “yuk kak cek IG kami”. Ada satu jawaban, tulisannya: "tips istiqomah menulis" . Nah, ini yang saya tunggu. Bisa jadi tulisan nih, kata saya dalam hati. Alhamdulillah, akhirnya ada bahan buat nulis. Saya mengartikan jawaban tersebut sebagai "tips konsisten menulis". Semoga nggak jauh-jauh artinya. Baca juga: Sumber Ide untuk Lancar Menulis Kepada Siapa Tulisan-tulisan Ini Ditujukan Sebelum bahas lebih jauh, harus diakui bahwa saya belum begitu konsisten dan rutin dalam menulis. Mungkin baru akhir-akhir ini, ketika pandemi covid-19 menyerang, saya jadi lebih sering nulis. Ketemu laptop terus soalnya. Sebenarnya, untuk tulisan...

Gerilya Bersenjatakan Buku

Setelah Tepi Buku nggak berjalan lagi , saya masih tetap membaca; sebagaimana orang bodoh yang tak mau terus-terusan menjadi bodoh. Dari Tepi Buku, banyak hal yang membuat saya belajar arti kolaborasi. Sebagaimana istilah yang saya temui di buku Kolaborasi Kebaikan karya Mas Alfath Bagus; kolaborasi artinya menemukan titik temu di antara banyak perbedaan. Buku Presiden Mahasiswa (Presma) BEM KM UGM 2017 itu begitu menginspirasi saya dalam memaknai kolaborasi. Atau, mengutip perkataan seorang guru: berbeda itu pasti, bersatu itu keharusan. Saya nggak ingin mengklaim Tepi Buku adalah milik saya seorang. Bukan. Namun, semangat yang dibangun sejak awal amat saya rasakan berada dalam diri saya. Pasca nggak berjalannya Tepi Buku, kami berlima tetap berteman. Fahmi masih baik sama saya. Masih suka makan bareng juga. Semua kembali sediakala. Sekali pun dalam kondisi yang enak buat ngobrol, saya jadi agak sungkan buat melanjutkan Tepi Buku.  Biarlah berlalu, nggak usah dip...

Memeluk Buku-buku yang Bertumpuk

Saya pernah berpikir, “Buku-buku di lemari ini, setelah saya meninggal, mau dibawa ke mana ya?” Sepertinya hanya akan tetap menumpuk. Ketika buku selesai dibaca, ia akan kembali bersama tumpukan buku yang lebih dahulu saya baca; selesai atau cuma sebagian.  Jujur, sampai saat ini, saya berobsesi pengin punya banyak buku. Andai dikasih kesempatan, saya mau punya perpustakaan sendiri di rumah, buku yang menghangatkan rumah . Minimal tempat baca untuk umum. Karena saya percaya prinsipnya: buku memang selesai di tumpukan, tapi isinya harus disebarkan. Saya nggak bisa senang sendirian karena baca buku. Orang lain harus tau isi dari apa yang saya baca, secara ide dan manfaat. Entah itu mereka yang membaca atau saya yang menceritakan.  Namun, ada kalanya saya nggak suka dengan tumpukan buku. Beberapa kali ini saya berpikir, mau ditaruh mana lagi nih kalau beli buku baru. Saya harus mengurangi sedikit tumpukan ini.  Salah satu caranya—pernah saya tulis di tulisan...