Skip to main content

Merawat Orangtua Menggapai Surga

Pernahkah tebersit dalam pikiran kita, dianugerahi amanah oleh Allah untuk merawat orang tua yang telah lanjut usia? Atau merawat orang tua yang menderita suatu penyakit yang membuat mereka tak berdaya dan tak lagi mampu mengurus dirinya sendiri? Menjalaninya seolah menjadi beban yang tak berkesudahan, menguras tenaga, pikiran, dan lebih-lebih lagi kesabaran. Tak jarang, hari demi hari berlalu, dipenuhi dengan keluh kesah, bahkan disertai marah-marah.




Judul: Merawat Orangtua Menggapai Surga
Penulis: Ari Subiakto
Penerbit: Pro-U Media
Jumlah halaman: 168 halaman

Menjadi sebuah keberuntungan bagi saya mendapatkan buku ini. Saya nggak beli buku ini, melainkan dapat hadiah dari menulis. Saat itu saya menulis sebuah rubrik di media sosial Lembaga Dakwah (LD) Ulul Albaab FMIPA UNJ tentang semangat setelah Idul Fitri. Iseng-iseng, eh, dapat buku. Alhamdulillah.

Kesempatan itu saya dapat setelah seorang teman sekelas—yang merupakan staff Departemen Humas LD Ulul Albaab—meminta saya untuk membuat sebuah tulisan. Jadilah tulisan tersebut. Beberapa pekan selanjutnya, saya mendapat buku Merawat Orangtua Menggapai Surga. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Berangkat dari menulis, maka saya harus kembali lagi dengan menulis. Saya akan membahas buku ini di blog.

***

Membaca blurbnya, saya tersentak pada kalimat terakhir di paragraf pertama—saya tulis di paragraf pertama post ini. Kayaknya sering banget nih saya ngelakuin hal-hal gitu ke orang tua. Marah-marah, kesal, dan segala macam, begitu pikir saya.

Secara keseluruhan, buku ini berbagi inspirasi dan motivasi dalam berbakti dan merawat orang tua. Mas Ari, penulis buku ini, berkisah soal penyakit kelumpuhan yang diderita ayahnya pasca kecelakaan. Mas Ari merawat ayahnya hingga ayahnya wafat pada tahun 2011.



Di tengah kondisi yang serba sulit itu, seseorang diminta untuk bersabar dalam menghadapi persoalan hidup. Sebagaimana ada tiga kesabaran yang mungkin pernah kita dengar: sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar dalam menerima ketetapan Allah. Semua itu akan berbuah keberuntungan seperti yang disebutkan di Ali Imran ayat 200

"Hai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (Q.S. Ali Imran: 200)

Berbakti kepada orang tua (birrul walidain) adalah mutlak bagi seorang anak. Bagi kita yang masih berkesempatan bertemu dengan orang tua, mari jadikan sebagai momentum untuk meraih surga-Nya. Rasullullah sampaikan, “Orangtua itu adalah pintu-pintu surga yang paling tengah. Maka terserah kepadamu, hendak kau sia-siakan pintu itu (tidak mendapatkan surga) atau kau gunakan kesempatan itu (untuk mendapatkan surga).” (HR. Tirmidzi)

Seiring bertambahnya usia, orangtua akan menemui masalah-masalah dalam kesehatan. Penyakit-penyakit mulai bermunculan. Fungsi penglihatan, pendengaran, daya ingat, kekuatan tulang mulai menurun. Orang tua pun mudah lelah dalam beraktivitas.

Selain itu, masalah-masalah psikologi juga mulai memengaruhi sifat orang tua. Mudah depresi, merasa cemas berlebihan, dan gangguan fungsi kesadaran adalah beberapa contoh. Seorang harus mampu mengerti dan memahami apa yang sedang dialami orang tua. Walaupun sulit, janganlah kita terlalu menganggap mereka sebagai orang lemah.

Dalam merawat orang tua, kita perlu menjaga sikap di hadapan mereka. Tunjukkanlah wajah yang berseri, bertutur kata yang sopan dan lemah lembut, memposisikan diri lebih rendah di hadapan mereka, dan melayaninya sepenuh hati. Mudah memang secara teori, tetapi kita harus yakin Allah akan membalas ini semua dengan kebaikan.

Akhir dari segala bahasan—bukan berarti akhir dari segalanya—yaitu adalah berdoa. Mendoakan orang tua adalah poin terakhir bagi kita dalam berbakti pada orang tua.

Dari Abu Said as-Sa’idi berkata; ketika kami duduk bersama Rasulullah, tiba-tiba datang seorang lelaki dari Bani Salamah, lalu berkata, “Ya Rasulullah, apakah masih ada kesempatan lagi untuk berbuat baik kepada kedua orang tuaku setelah keduanya meninggal?” Rasulullah menjawab, “Iya. (Bentuknya adalah) mendoakan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan teman dekat keduanya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Di akhir buku ini, di bagian epilog, pembaca diingatkan lagi untuk bersabar agar amal kita tidak berakhir sia-sia. Seperti yang difirmankan oleh Allah di surat Hud ayat 115
“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Hud: 115)

Memang berat bagi kita yang mungkin telah lelah dengan urusan pribadi, harus berbakti kepada orang tua. Begitulah, banyak ujiannya.

Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik. Lalu, akankah kita menyia-nyiakan amal kebaikan kita sendiri dengan sikap ketidaksabaran kita?

Comments

  1. Dulu kita yang dirawat, sekarang gantian kita yang merawat. Jadi persiapan dirinya juga kudu matang, karena makin dewasa makin banyak tanggung jawab. itu masih ke orang tua ya, belum lagi ke yang lainnya. semangat, semoga kita bisa jadi anak yang berbakti kepada orang tua kita :)

    ReplyDelete
  2. Ngebayangin kalo kita dr skr aja ga mau berbakti kepada mereka, lalu setelah tua nanti, anak kita akan melakukan hal yg sama :(. Nauzubillah min zalik.. aku juga ga terlalu Deket Ama ortu, mungkin Krn dulu didikan mereka sedikit otoriter :p. Tp biar gimana mereka ortu, aku ttp hrs nahan diri, dan sopan, walo susah utk bisa mengekspresikan sayang , Krn memang ga biasa . Makanya dengan anakku, ga pgn melakukan hal yg sama. Aku ga mau anakku takut Ama ortunya hanya Krn didikan yg terlalu keras.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah, semoga anaknya jadi anak yang sholeh/ha ya mbak

      Delete
  3. Sedih bacanya, soalnya saya jauh dari orang tua, padahal dulu cita-cita mau kerja keras membahagiakan ortu, tapi malah terkukung di sini jauh dari ortu dengan serba keterbatasan hiks.
    Semoga Allah masih memberi kesempatan buat membalas budi :(

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca. Mari berbagi bersama di kolom komentar.

Popular posts from this blog

Maret 2025: Penantian Panjang dan Nikmat Ramadhan

Bulan Maret ini banyak banget hal yang mau ditulis. Ditambah sedang dalam bulan Ramadhan, nggak mungkin kekurangan cerita dari perjalanan ibadah di bulan suci ini.  Saat post ini ditulis, saya sedang berada di kampung. Ngetik di laptop, sambil mendengar suara alam, dan ditemani teh kemanisan yang mulai dingin. Rasanya bawa laptop ke kampung jadi keputusan yang tepat untuk tetap jaga ritme aktivitas. Ditambah lagi masih cukup luang waktu di kampung. Penantian Panjang Sejak mulai rutin merekap aktivitas bulanan di blog, saya sering menyebut tentang publikasi artikel. Akhirnya, setelah penantian tersebut, artikel saya terpublikasi. Silakan bagi yang berminat membaca Analysis of Students Scientific Literacy in Integrated Acid-Base Learning Socioscientific Issues Kalau ditanya bagaimana perasaannya, yang pasti senang banget! Karena ini akan membuka peluang untuk publikasi artikel-artikel berikutnya. Semoga rasa semangat itu terus hadir. Dan yang paling penting, tulisan saya bisa membawa...

Dilanku, Dilanmu, Dilan Kita Semua

Lemari buku saya semakin penuh. Untuk menguranginya, satu per satu saya jual. Saya nggak nyangka ada yang mau beli buku bekas milik saya. Dari hasil penjualan itu, alhamdulillah saya bisa beli makan di akhir bulan.  Seiring berjalannya waktu, ada dua hal yang saya sesali. Pertama, kenapa uang penjualan buku nggak saya tabung. Padahal ada sekitar 10 lebih buku sukses terjual dengan harga 25-30 ribu per buku. Kedua, saya nggak bisa hemat. Ya sudah, biarlah yang lalu telah terjadi. Nasi sudah menjadi nasi goreng. Baca juga: Pengalaman Berjualan Buku Buku yang Menghangatkan Rumah Meskipun beberapa buku sudah terjual, saya tetap membeli buku yang lain, bahkan sekarang lebih banyak dari sebelumnya. Saya jadi bingung. Niat saya jual buku biar buku di lemari saya berkurang.  Sekarang malah ditambah.  Gimana sih maunya saya. Melihat kondisi begini, terbersit dalam pikiran saya, “Buku ini harus tetap bermanfaat, tapi saya nggak mau kehilangan mereka, tapi ...

Berdasarkan Pengalaman: Tips Konsisten Menulis

Suatu hari saya iseng bikin question story di Instagram. Saya bikin question tentang “topik apa yang orang lain pengin baca di blog saya” . Biasa. Saya lagi bingung mau nulis tentang apa. Kehabisan ide. Di luar dugaan, jawabannya banyak. Banyak yang nggak nyambung. Ada yang minta follow back , ada yang dagang, ada yang “yuk kak cek IG kami”. Ada satu jawaban, tulisannya: "tips istiqomah menulis" . Nah, ini yang saya tunggu. Bisa jadi tulisan nih, kata saya dalam hati. Alhamdulillah, akhirnya ada bahan buat nulis. Saya mengartikan jawaban tersebut sebagai "tips konsisten menulis". Semoga nggak jauh-jauh artinya. Baca juga: Sumber Ide untuk Lancar Menulis Kepada Siapa Tulisan-tulisan Ini Ditujukan Sebelum bahas lebih jauh, harus diakui bahwa saya belum begitu konsisten dan rutin dalam menulis. Mungkin baru akhir-akhir ini, ketika pandemi covid-19 menyerang, saya jadi lebih sering nulis. Ketemu laptop terus soalnya. Sebenarnya, untuk tulisan...