Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2020

Tempat Pinjam Buku

Bang Yoga , seorang penggagas WIRDY, pernah berbagi pengalaman dan progresnya membaca di aplikasi iJakarta, aplikasi buat baca e-book gratis. Aplikasi itu memungkinkan penggunanya merasakan perpustakaan digital. Penggunanya bisa pinjam e-book selama 14 hari. Persis perpustakaan sungguhan, aplikasi ini punya stok untuk suatu judul buku. Jadi ada kemungkinan buku sudah habis dipinjam. Enak ya zaman sekarang. Mau pinjam buku nggak ribet. Kita tinggal punya aplikasinya, ketik judul, pinjam. Saya suka konsep aplikasi ini. Meminjam buku semudah klik.  Buat saya, baca e-book berlama-lama bikin mata capek. Saya bukan tipe orang yang betah berlama-lama ngadepin e-book .  Dari sekian hari, saya masih tetap mengantongi harapan: memudahkan orang lain untuk membaca.  Masih ada dalam hati sepercik motivasi meminjamkan buku . Sejauh ini saya punya beberapa referensi untuk dipadukan jadi sebuah ide. Mungkin saya bakal menerapkan ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi). E...

Anda Mendapat Pesan dari Robby

Kau mungkin bingung. Pesan apa nih? Robby pesan makanan? Satu hal yang pasti, rasa bersalah dan khilafku tak pernah luput dari benakmu. Entah karena ucapan langsung maupun tulisanku di media sosial yang bersliweran.  Yah... Mohon maaf atas segala keliru, pada setiap tingkah laku. Mungkin pesan ini hanya sekadar tulisan. Semoga tidak mengurangi niatku untuk memohon maaf dan keikhlasanmu dalam memberikan maaf.  Semoga Allah terima amal ibadah kita selama sebulan lalu, meningkatkan kualitas kita, sebagaimana tujuan utamanya: menjadi orang-orang yang bertakwa.  Sebab, posisi kita berada di antara pertengahan, antara harap dan takut. Berharap ampunan Allah, takut akan tidak diterimanya amalan-amalan.  Ramadan telah berlalu. Hidupkan nyala semangatnya hingga 11 bulan ke depan, sampai Allah pertemukan kembali dengan bulan penuh keberkahan. Aamiin. Jangan lupa puasa 6 hari di bulan Syawal~ Saudaramu, Robby Haryanto

Motivasi Meminjamkan Buku

Sejak kejadian di SMA dengan buku Dilan, saya sedikit trauma meminjamkan buku. Bukan apa-apa, buku-buku itu dibeli dengan perjuangan. Saya sampai rela nggak jajan. Kalau pun jajan, paling cuma beli air mineral sama keripik jagung di koperasi. Kalau diajak teman, “Ayo, Rob, beli makan”, saya jawab, “makan jagung cukup kok.” Aslinya pengen juga kayak yang lain. Uang saku saya simpan buat beli buku baru. Semua dilakukan sambil nahan-nahan diri; di saat orang lain bisa bebas ke bioskop pas ada film baru, bisa traktir teman-teman kongkownya terus upload foto ke medsos, saya nggak bisa begitu. Saya memilih nabung buat beli buku bacaan bagus dibanding itu semua.  Makanya saya nggak rela kalau buku saya jatuh ke tangan yang salah. Misalnya, jatuh ke tangan kiri. Kan nggak baik nerima sesuatu pakai tangan kiri. Saya hampir nggak percaya lagi buat minjemin buku sejak kejadian Dilan . Begitu juga ketika mau pinjam, semacam ada rasa takut lama mengembalikannya. Pinjam-meminjam ...

Dilanku, Dilanmu, Dilan Kita Semua

Lemari buku saya semakin penuh. Untuk menguranginya, satu per satu saya jual. Saya nggak nyangka ada yang mau beli buku bekas milik saya. Dari hasil penjualan itu, alhamdulillah saya bisa beli makan di akhir bulan.  Seiring berjalannya waktu, ada dua hal yang saya sesali. Pertama, kenapa uang penjualan buku nggak saya tabung. Padahal ada sekitar 10 lebih buku sukses terjual dengan harga 25-30 ribu per buku. Kedua, saya nggak bisa hemat. Ya sudah, biarlah yang lalu telah terjadi. Nasi sudah menjadi nasi goreng. Baca juga: Pengalaman Berjualan Buku Buku yang Menghangatkan Rumah Meskipun beberapa buku sudah terjual, saya tetap membeli buku yang lain, bahkan sekarang lebih banyak dari sebelumnya. Saya jadi bingung. Niat saya jual buku biar buku di lemari saya berkurang.  Sekarang malah ditambah.  Gimana sih maunya saya. Melihat kondisi begini, terbersit dalam pikiran saya, “Buku ini harus tetap bermanfaat, tapi saya nggak mau kehilangan mereka, tapi ...

Memeluk Buku-buku yang Bertumpuk

Saya pernah berpikir, “Buku-buku di lemari ini, setelah saya meninggal, mau dibawa ke mana ya?” Sepertinya hanya akan tetap menumpuk. Ketika buku selesai dibaca, ia akan kembali bersama tumpukan buku yang lebih dahulu saya baca; selesai atau cuma sebagian.  Jujur, sampai saat ini, saya berobsesi pengin punya banyak buku. Andai dikasih kesempatan, saya mau punya perpustakaan sendiri di rumah, buku yang menghangatkan rumah . Minimal tempat baca untuk umum. Karena saya percaya prinsipnya: buku memang selesai di tumpukan, tapi isinya harus disebarkan. Saya nggak bisa senang sendirian karena baca buku. Orang lain harus tau isi dari apa yang saya baca, secara ide dan manfaat. Entah itu mereka yang membaca atau saya yang menceritakan.  Namun, ada kalanya saya nggak suka dengan tumpukan buku. Beberapa kali ini saya berpikir, mau ditaruh mana lagi nih kalau beli buku baru. Saya harus mengurangi sedikit tumpukan ini.  Salah satu caranya—pernah saya tulis di tulisan...