Skip to main content

April 2024: Belajar Buat Video dan Kembali Praktikum

 1/

Salah satu aktivitas baru yang mulai saya coba di bulan April adalah buat video. 

Awal keinginannya sederhana: karena saya senang ngobrol tentang buku. Kalau ketemu orang yang sejenis, bahas buku akan menjadi diskusi panjang untuk berbagi apa yang telah dibaca masing-masing. Itulah asal-usul judulnya #BagiBaca, berbagi apa yang telah dibaca.

Jadilah, saya mulai ngobrolin tentang buku di Youtube. Sampai tulisan ini diposting, sudah ada 2 video #BagiBaca di channel saya.


2/

Selain buat video di Youtube, saya juga mulai buat video-video pendek di Reels, Short, dan Tiktok. Satu bulan ini memang saya jadikan sebagai ajang percobaan dan belajar. Nonton video sana sini, cek analytics mereka, dan kira-kira apa yang bisa diterapkan di akun-akun saya. Ternyata menyenangkan. 

Bagian menyulitkannya adalah tentu.. semangat untuk buat videonya. 


3/

Setelah sekian lama tidak praktikum kimia, akhirnya saya kembali melakukan praktikum di sekolah. Terakhir tahun 2019 saat kuliah, sebelum pandemi, saya masih ketemu alat-alat kimia. 

Buat yang pernah praktikum titrasi, praktikum ini tingkat kesulitannya di tingkat SMA, bagi saya, ada di level menengah. Selain ketepatan mengamati perubahan warna, juga alat-alatnya yang perlu perhatian khusus. Berdasarkan pengalaman, alhamdulillah praktikum berjalan aman. Anak-anak bekerja sesuai instruksi. Tapi dalam diri saya masih ada rasa penasaran mengganjal: saya bisa nggak ya melakukan titrasi lagi?

Di sela-sela menyiapkan bahan untuk praktikum kelas lain, saya iseng melakukan percobaannya sendiri. Ini dia hasilnya.

Masih ada ya sisa-sisa skill 5 tahun lalu. Hehehe.

Comments

Popular posts from this blog

Berdasarkan Pengalaman: Tips Konsisten Menulis

Suatu hari saya iseng bikin question story di Instagram. Saya bikin question tentang “topik apa yang orang lain pengin baca di blog saya” . Biasa. Saya lagi bingung mau nulis tentang apa. Kehabisan ide. Di luar dugaan, jawabannya banyak. Banyak yang nggak nyambung. Ada yang minta follow back , ada yang dagang, ada yang “yuk kak cek IG kami”. Ada satu jawaban, tulisannya: "tips istiqomah menulis" . Nah, ini yang saya tunggu. Bisa jadi tulisan nih, kata saya dalam hati. Alhamdulillah, akhirnya ada bahan buat nulis. Saya mengartikan jawaban tersebut sebagai "tips konsisten menulis". Semoga nggak jauh-jauh artinya. Baca juga: Sumber Ide untuk Lancar Menulis Kepada Siapa Tulisan-tulisan Ini Ditujukan Sebelum bahas lebih jauh, harus diakui bahwa saya belum begitu konsisten dan rutin dalam menulis. Mungkin baru akhir-akhir ini, ketika pandemi covid-19 menyerang, saya jadi lebih sering nulis. Ketemu laptop terus soalnya. Sebenarnya, untuk tulisan...

Dilanku, Dilanmu, Dilan Kita Semua

Lemari buku saya semakin penuh. Untuk menguranginya, satu per satu saya jual. Saya nggak nyangka ada yang mau beli buku bekas milik saya. Dari hasil penjualan itu, alhamdulillah saya bisa beli makan di akhir bulan.  Seiring berjalannya waktu, ada dua hal yang saya sesali. Pertama, kenapa uang penjualan buku nggak saya tabung. Padahal ada sekitar 10 lebih buku sukses terjual dengan harga 25-30 ribu per buku. Kedua, saya nggak bisa hemat. Ya sudah, biarlah yang lalu telah terjadi. Nasi sudah menjadi nasi goreng. Baca juga: Pengalaman Berjualan Buku Buku yang Menghangatkan Rumah Meskipun beberapa buku sudah terjual, saya tetap membeli buku yang lain, bahkan sekarang lebih banyak dari sebelumnya. Saya jadi bingung. Niat saya jual buku biar buku di lemari saya berkurang.  Sekarang malah ditambah.  Gimana sih maunya saya. Melihat kondisi begini, terbersit dalam pikiran saya, “Buku ini harus tetap bermanfaat, tapi saya nggak mau kehilangan mereka, tapi ...

Gerilya Bersenjatakan Buku

Setelah Tepi Buku nggak berjalan lagi , saya masih tetap membaca; sebagaimana orang bodoh yang tak mau terus-terusan menjadi bodoh. Dari Tepi Buku, banyak hal yang membuat saya belajar arti kolaborasi. Sebagaimana istilah yang saya temui di buku Kolaborasi Kebaikan karya Mas Alfath Bagus; kolaborasi artinya menemukan titik temu di antara banyak perbedaan. Buku Presiden Mahasiswa (Presma) BEM KM UGM 2017 itu begitu menginspirasi saya dalam memaknai kolaborasi. Atau, mengutip perkataan seorang guru: berbeda itu pasti, bersatu itu keharusan. Saya nggak ingin mengklaim Tepi Buku adalah milik saya seorang. Bukan. Namun, semangat yang dibangun sejak awal amat saya rasakan berada dalam diri saya. Pasca nggak berjalannya Tepi Buku, kami berlima tetap berteman. Fahmi masih baik sama saya. Masih suka makan bareng juga. Semua kembali sediakala. Sekali pun dalam kondisi yang enak buat ngobrol, saya jadi agak sungkan buat melanjutkan Tepi Buku.  Biarlah berlalu, nggak usah dip...