Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Memeluk Buku-buku yang Bertumpuk

Gerilya Bersenjatakan Buku

Setelah Tepi Buku nggak berjalan lagi , saya masih tetap membaca; sebagaimana orang bodoh yang tak mau terus-terusan menjadi bodoh. Dari Tepi Buku, banyak hal yang membuat saya belajar arti kolaborasi. Sebagaimana istilah yang saya temui di buku Kolaborasi Kebaikan karya Mas Alfath Bagus; kolaborasi artinya menemukan titik temu di antara banyak perbedaan. Buku Presiden Mahasiswa (Presma) BEM KM UGM 2017 itu begitu menginspirasi saya dalam memaknai kolaborasi. Atau, mengutip perkataan seorang guru: berbeda itu pasti, bersatu itu keharusan. Saya nggak ingin mengklaim Tepi Buku adalah milik saya seorang. Bukan. Namun, semangat yang dibangun sejak awal amat saya rasakan berada dalam diri saya. Pasca nggak berjalannya Tepi Buku, kami berlima tetap berteman. Fahmi masih baik sama saya. Masih suka makan bareng juga. Semua kembali sediakala. Sekali pun dalam kondisi yang enak buat ngobrol, saya jadi agak sungkan buat melanjutkan Tepi Buku.  Biarlah berlalu, nggak usah dip...

Membangun Tepi Buku

Nggak lama setelah tercetuskan nama Tepi Buku , saya dan Fahmi mulai merancang gerak langkah kami. Kami nggak berdua. Ada tiga orang teman lain yang ikut proyek ini. Kami cukup intens berkumpul untuk merumuskan seperti apa Tepi Buku nanti bergerak. Selepas kuliah di masjid kampus, sampai beberapa kali nginep bareng di kosan Fahmi. Memang di antara kami berlima, saat itu saya dan Fahmi yang banyak menggarap konsep dan teknis. Tiga orang lainnya membantu share info dan memberi masukan. Nggak jarang mereka yang berperan nyiapin cemilan. Nggak masalah. Setiap orang punya peran. Sekecil apa pun, peran itu tetaplah berharga. Buah awal dari diskusi kami adalah pembuatan logo. Dengan membuat filosofi yang niat dan skill desain Fahmi, terciptalah satu logo Tepi Buku. Pasca adanya logo itu, semangat kami, terutama saya, semakin meningkat. Kami nggak terlalu sibuk bahas dari nol. Kami tahu, masalah dari proses pinjam-meminjam buku adalah pada waktu pengembalian. Seperti yang p...

Tempat Pinjam Buku

Bang Yoga , seorang penggagas WIRDY, pernah berbagi pengalaman dan progresnya membaca di aplikasi iJakarta, aplikasi buat baca e-book gratis. Aplikasi itu memungkinkan penggunanya merasakan perpustakaan digital. Penggunanya bisa pinjam e-book selama 14 hari. Persis perpustakaan sungguhan, aplikasi ini punya stok untuk suatu judul buku. Jadi ada kemungkinan buku sudah habis dipinjam. Enak ya zaman sekarang. Mau pinjam buku nggak ribet. Kita tinggal punya aplikasinya, ketik judul, pinjam. Saya suka konsep aplikasi ini. Meminjam buku semudah klik.  Buat saya, baca e-book berlama-lama bikin mata capek. Saya bukan tipe orang yang betah berlama-lama ngadepin e-book .  Dari sekian hari, saya masih tetap mengantongi harapan: memudahkan orang lain untuk membaca.  Masih ada dalam hati sepercik motivasi meminjamkan buku . Sejauh ini saya punya beberapa referensi untuk dipadukan jadi sebuah ide. Mungkin saya bakal menerapkan ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi). E...

Motivasi Meminjamkan Buku

Sejak kejadian di SMA dengan buku Dilan, saya sedikit trauma meminjamkan buku. Bukan apa-apa, buku-buku itu dibeli dengan perjuangan. Saya sampai rela nggak jajan. Kalau pun jajan, paling cuma beli air mineral sama keripik jagung di koperasi. Kalau diajak teman, “Ayo, Rob, beli makan”, saya jawab, “makan jagung cukup kok.” Aslinya pengen juga kayak yang lain. Uang saku saya simpan buat beli buku baru. Semua dilakukan sambil nahan-nahan diri; di saat orang lain bisa bebas ke bioskop pas ada film baru, bisa traktir teman-teman kongkownya terus upload foto ke medsos, saya nggak bisa begitu. Saya memilih nabung buat beli buku bacaan bagus dibanding itu semua.  Makanya saya nggak rela kalau buku saya jatuh ke tangan yang salah. Misalnya, jatuh ke tangan kiri. Kan nggak baik nerima sesuatu pakai tangan kiri. Saya hampir nggak percaya lagi buat minjemin buku sejak kejadian Dilan . Begitu juga ketika mau pinjam, semacam ada rasa takut lama mengembalikannya. Pinjam-meminjam ...

Dilanku, Dilanmu, Dilan Kita Semua

Lemari buku saya semakin penuh. Untuk menguranginya, satu per satu saya jual. Saya nggak nyangka ada yang mau beli buku bekas milik saya. Dari hasil penjualan itu, alhamdulillah saya bisa beli makan di akhir bulan.  Seiring berjalannya waktu, ada dua hal yang saya sesali. Pertama, kenapa uang penjualan buku nggak saya tabung. Padahal ada sekitar 10 lebih buku sukses terjual dengan harga 25-30 ribu per buku. Kedua, saya nggak bisa hemat. Ya sudah, biarlah yang lalu telah terjadi. Nasi sudah menjadi nasi goreng. Baca juga: Pengalaman Berjualan Buku Buku yang Menghangatkan Rumah Meskipun beberapa buku sudah terjual, saya tetap membeli buku yang lain, bahkan sekarang lebih banyak dari sebelumnya. Saya jadi bingung. Niat saya jual buku biar buku di lemari saya berkurang.  Sekarang malah ditambah.  Gimana sih maunya saya. Melihat kondisi begini, terbersit dalam pikiran saya, “Buku ini harus tetap bermanfaat, tapi saya nggak mau kehilangan mereka, tapi ...

Memeluk Buku-buku yang Bertumpuk

Saya pernah berpikir, “Buku-buku di lemari ini, setelah saya meninggal, mau dibawa ke mana ya?” Sepertinya hanya akan tetap menumpuk. Ketika buku selesai dibaca, ia akan kembali bersama tumpukan buku yang lebih dahulu saya baca; selesai atau cuma sebagian.  Jujur, sampai saat ini, saya berobsesi pengin punya banyak buku. Andai dikasih kesempatan, saya mau punya perpustakaan sendiri di rumah, buku yang menghangatkan rumah . Minimal tempat baca untuk umum. Karena saya percaya prinsipnya: buku memang selesai di tumpukan, tapi isinya harus disebarkan. Saya nggak bisa senang sendirian karena baca buku. Orang lain harus tau isi dari apa yang saya baca, secara ide dan manfaat. Entah itu mereka yang membaca atau saya yang menceritakan.  Namun, ada kalanya saya nggak suka dengan tumpukan buku. Beberapa kali ini saya berpikir, mau ditaruh mana lagi nih kalau beli buku baru. Saya harus mengurangi sedikit tumpukan ini.  Salah satu caranya—pernah saya tulis di tulisan...