Skip to main content

Posts

Pelajaran Dari Sepeda

Seminggu ini, gue lagi sering banget naik sepeda. Berangkat-pulang sekolah naik sepeda. Berangkat-pulang les juga naik sepeda. Cuma berangkat umroh aja nggak naik sepeda. Belum ada uangnya, coy. Karena kebiasaan gue yang baru ini, banyak teman yang bertanya, "Emang nggak capek naik sepeda?" Jujur aja, masalah capek naik sepeda itu pasti ada, tapi mau gimana lagi, udah terlanjur cinta banget sama sepeda. For your information , jarak rumah gue ke sekolah sekitar 3 atau 4 kilometer. Dan, itu nggak terlalu jauh bagi gue. Kenapa harus ada pertanyaan "Emangnya nggak capek?" Gue baru bisa naik sepeda kelas 6 SD . Payah? Emang, payah banget. Ketika teman gue udah ada yang naik motor Scoopy saat itu, gue baru belajar sepeda. Yang lain udah naik motor kopling, gue baru bisa naik sepeda mini (sampe sekarang gue nggak paham dengan konsep penamaan sepeda mini. Padahal ukurannya besar). Mungkin ketika gue baru bisa naik motor, teman gue yang super tajir udah bisa naik awan. ...

Kebiasaan Buruk Pengunjung Gramedia

Gue merasa ada perubahan dalam diri mengenai minat membaca buku. Walaupun gue cuma baca buku jenis tertentu (pastinya menghindari buku pelajaran), tapi setidaknya ada peningkatan dalam minat baca buku. Dulu, gue nggak tahan baca novel selama 20 menit. Sekarang, gue bisa 30 menit baca novel. 10 menit buat baca, sisanya gue ketiduran. Peningkatan itu ditandai dengan seringnya gue ke Gramedia. Setiap pulang les, tepatnya hari Minggu (saat kelas 10) atau Sabtu (saat kelas 11), gue sering ke Gramedia buat beli atau sekedar liat-liat buku baru. Baca juga: Ngomongin Buku: What I Talk About When I Talk About Running - Haruki Murakami Buku yang Menghangatkan Rumah   Pokoknya, Gramedia tempat ngabisin waktu paling seru~ (Gue nggak tau ini Gramed mana. Sumber: Google) Karena seringnya gue ke Gramedia, gue jadi tau kebiasaan pengunjung Gramedia. Mungkin nggak cuma di Gramedia, tapi di toko buku lainnya juga hampir mirip kebiasaannya. Berikut adalah kebiasaan buruk yang gue amati...

Jadi Ketua Kelas (Lagi)

Kadang gue berpikir, kriteria seperti apa yang cocok untuk menjadi seorang pemimpin. Bisa berbicara di depan umum, punya attitude yang baik agar bisa dicontoh oleh orang lain, dan masih banyak lagi. Begitu juga seorang ketua kelas, yang notabene jadi pemimpin di kelas. Sewaktu kelas 10, gue pernah jadi ketua kelas. Banyak yang udah dibahas di blog gue (Bisa baca di sini , di sini , dan di sini ). Lalu, apakah gue termasuk orang yang punya kriteria yang udah gue sebutin di atas? Jawabannya: Nggak. Semakin ke sini, gue berpikir ada satu kriteria ketua kelas dan gue punya kriteria itu, yaitu gampang disuruh-suruh. Gue termasuk orang yang penurut. Apapun perintah yang bersumber dari orang yang lebih tua dari gue, gue menurutinya. Ya, nggak semua perintah gue turuti sih. Kalau gue disuruh terjun dari lantai tiga sekolah, gue nggak bakal mau. Banyak teman-teman kelas 10 yang sekarang berbeda kelas dengan gue bilang, "Kelas 11 jadi ketua kelas aja lagi, Rob.". Gue berpikir,...

Rasanya Jadi Ketua Kelas

Tahun ini, gue baru pertama kali ngerasain yang namanya libur sebulan. Ini terjadi karena libur semester dua berbarengan dengan libur lebaran. Mirip zamannya Presiden Gus Dur gitu deh.  Pokoknya, dengan kejadian (langka) ini, ngga ada alasan buat ngga punya baju baru, apalagi anak yang baru lulus atau masuk sekolah. "Baju baru lebaran buat aku udah beli kan, Ma?" "Udah dong, sayang. Spesial buat tahun ini, baju lebaran kamu ada logo osisnya.." "...." Setidaknya, orang tua masih bisa beliin baju buat anaknya. Bersyukurlah sobat. Libur sebulan emang bikin terlena. Biasanya tiap pagi gue harus sekolah, sekarang gue gak tau waktu. Yang mana pagi, yang mana siang. Pokoknya, kalau gue udah bangun tidur, itu berarti masih pagi. Padahal, udah jam 1 siang.   Gue menghabiskan waktu libur dengan hal-hal membosankan. Buka twitter jarang ada notifikasi. Main facebook cuma ngarep ada yang inbox "RL-an yuk..". Ask.fm juga sepi dari pertanya...

Renungan Di Balik Kehilangan

Sebentar lagi gue naik kelas (Aamiin). Gak terasa juga sih sebenernya jadi anak kelas 10. Dan gak terasa juga gue udah pake baju putih abu-abu selama hampir setahun. Cepet gede juga ya gue. Sebelum naik kelas (Aamiin), hari Senin tanggal 15 Juni nanti, gue harus mulai mulangin semua buku paket dari semester 1 sampai semester 2. Buku paket gue-- yang selama ini berperan jadi bantal di kelas-- semua jumlahnya ada 19 buah. Jika semua buku ditumpuk ke atas, buku ini lumayan buat jadi fondasi dasar pembuatan menara yang kelak bisa menyaingi Monas. Sebuah bangunan yang diselipkan pendidikan di dalamnya. Hasek. Dalam memulangkan buku, ada beberapa ketentuan. Ketentuan itu tertulis di kertas yang Ibu-ibu penjaga perpustakaan kasih ke semua siswa pada hari Rabu. Di situ tertulis, harus mengembalikan semua buku. Jika ada yang hilang, maka wajib menggantinya. Kalo gak diganti, gak bakal dapet surat bebas pinjam. Surat bebas pinjam dipake saat anbil rapor . Artinya, buku paket hilang sa...

Kenangan Sebelum Naik Kelas

Memasuki bulan April, sekolah gue mengadakan berbagai lomba dalam rangka memperingati hari Bumi. banyak lomba yang diadakan. Ada lomba kebersihan kelas, menghias tempat sampah, dan membuat slogan. Padahal gue mengharapkan ada lomba balap kelomang. Atau lomba panjat pinang, tapi pinangnya dibelah dua. Karena gak ada hubungannya dengan hari Bumi, makanya ditiadakan. Sebagai ketua kelas, gue diwanti-wanti oleh guru penyelenggara lomba buat merencanakan lomba secara serius. Karena gue orangnya juga suka dengan hal-hal serius, akhirnya gue nikah dengan guru tersebut. Yaelah, serius amat bacanya. Gue gak serius nikah sama guru itu. Nah, ketauan deh kalau gue orangnya gak serius. Oke, sekarang baru serius. Jadi, setelah upacara (gue lupa tanggalnya), penyelenggara lomba memberikan info tentang apa aja yang dilombakan (udah gue sebutin di atas). Gue lebih memfokuskan untuk lomba menghias tempat sampah karena lomba yang lain cuma butuh waktu yang singkat. Saat ada jam pelajaran koson...

Koala Kumal dan Kisah Pilu Di dalamnya

Setelah gue punya cetakan pertama buku koala kumal , gue langsung mengincar target untuk mendapat tanda tangan sang penulis karena gue gak bisa beli pre-order yang bertandatangan. Tau sendiri gimana udiknya gue dalam transfer uang yang membuat gue gak bisa beli buku bertandatangan. Tanggal 26 Februari berikutnya, gue ke Mall Puri Indah bersama teman gue, Fahrul, buat datang meet n greet Raditya Dika dan berharap bisa dapat tanda tangannya. FYI, gue juga sebelumnya pernah ke Mall Puri Indah bareng Fahrul dan gue tulis disini . Walau saat itu gue sedang UTS dan gak enak badan, tapi gue tetep gak mengurungkan niat mulia ini (ceilaaah). Mumpung gue pulang cepet dan kesempatan terbuka lebar. Kapan lagi coba ketemu penulis idola. Segala persiapan udah dilakukan. Malamnya gue BBM Fahrul buat memastikan besok jadi atau tidak. Gue: Bang, besok jadi gak nih? Fahrul: Jadi dong. Gue udah siapin semua nih. Helm juga udah siap Gue: Wah, bagus tuh. Gak sabar nih buat besok Fahrul: Iya, gue...