Skip to main content

Posts

Cerita di Balik Layar: The Kingdom

Begitu tau ada tugas drama musikal gue langsung antusias. Saking antusiasnya, gue sampai meninju angin. Karena ini momennya bagus buat tampil, dan gue, selayaknya anak muda yang ngebet tampil, nggak akan menyia-nyiakan momen ini. Pembagian kelompok pun dilakukan. Beranggotakan 18 orang, gue tergabung di kelompok A. 18 orang lagi di kelompok B. Dua minggu setelahnya dilakukan pengundian giliran tampil. Kelompok A tampil kedua. *** Oke, gue akan membawa kalian pada perjalanan dari kali pertama latihan hingga selesai penampilan. Dari Januari hingga 24 Maret 2016. Baca juga post dari teman gue, Wahyu: Sukses dengan 2 hari latihan. Bersyukurlah! Januari Hari Sabtu sepulang les, gue dan Giyats ke rumah Fellya (yang selanjutnya akan terus-terusan dijadiin tempat latihan). Rumahnya lumayan jauh. Beruntung kami punya petunjuk jalan sehingga kami nggak nyasar. Kalo nyasar, duh..., jadi makin panjang post gue. Di sana udah ada teman-teman. Artinya, di hari pertama latihan aja gu...

Kepada Orang yang Remedial

Kalau dihitung sejak awal masuk SMA, entah berapa kali gue mengalami remedial. Artinya, gue sering mengalami kesakitan karena nilai ujian nggak tuntas. Itulah sebabnya, gue jadi terbiasa dengan kesakitan ini. Namun, teman-teman gue terlalu pusing ketika remedial. Andai mereka tau, gue pun sama sakitnya dengan mereka. Tapi gue berusaha mencari hikmah di dalamnya. Karena, gue sudah terbiasa remedial. Padahal, gue mau banget tuntas ujian semua mata pelajaran. Untuk kalian yang sering, atau minimal pernah remedial, duduklah bersamaku di sini. *** Kepada orang yang remedial, kuatkanlah dirimu dari segala celaan entah dari guru, lawan, maupun temanmu berikan. Kepada orang yang remedial, meratapi nilai yang tak tuntas hanya akan mengiris perasaan semua keyakinan, tiba-tiba sirna begitu melihat nilai yang ada. Tak puas, tak terima. Namun begitu nyatanya. Kepada orang yang remedial, biasakanlah dirimu menghadapi sulitnya proses. Proses yang nantinya memb...

Ngomongin Blog di Kelas

Hwoaaah, minggu ketiga tahun 2016 jadi minggu yang sangat campur aduk bagi gue. Kenapa gue bilang campur aduk? Soalnya hari Senin gue praktek Kimia nyampurin larutan kimia ke botol minum temen. Bukan. Maksudnya bukan begitu. Gini maksudnya... Pertama, pada hari Jumat, gue harus presentasi Bahasa Inggris untuk kali kedua. Untuk minggu ini cuma mengulang materi minggu sebelumnya. Apa yang gue ucapin minggu lalu, sama persis dengan minggu ini. Setelah semua materi selesai, kelompok gue nampilin video contoh dari bentuk-bentuk conditional sentence. Bagi gue, video yang kami buat itu sangat bagus (lebih tepatnya, editan dan kameranya yang bagus). Sayangnya, video itu sempat dinodai oleh suara yang amat berengsek. Yaitu, dalam adegan, ada dua temen gue ngobrol di kelas. Kebetulan, saat take videonya, ada gue lagi main game perang di belakang kedua temen gue. Berhubung gue anaknya norak, pas kena tembak, gue langsung teriak-teriak, "GOBLOK.. GOBLOK!" yang secara nggak sengaj...

Perkembangan Teknologi Dalam Proses Belajar

Pesatnya perkembangan teknologi di Indonesia berdampak ke semua sektor kehidupan selama 10 tahun terakhir. Salah satunya di bidang pendidikan. Dalam rentang waktu tersebut, gue berstatus sebagai pelajar. Tiap naik satu tingkatan selalu ada perubahan teknologi yang gue rasakan dalam proses belajar. Awal-awal zaman SD, gue masih mengalami proses belajar "guru menjelaskan, siswa mencatat setelahnya". Proses belajar yang menurut gue dan beberapa teman sangat membosankan. Kadang di saat guru menjelaskan, teman-teman gue ketiduran. Akhirnya, giliran dimintai catatan, malah kena omel guru tersebut. Kasian. Barulah di kelas 6 gue merasakan adanya teknologi masuk ke proses belajar. Seingat gue, waktu itu di kelas kami ada sebuah proyektor untuk menampilkan gambar-gambar proses fotosintesis. Itulah kali pertama (sekaligus yang terakhir) merasakan adanya teknologi masuk dalam proses belajar. Sumber: Google Image | Benda canggih yang pernah gue temui di SD Gue yakin, makin...

Lomba Stand Up Comedy

Seharusnya, post ini gue tulis paling lambat seminggu setelah acara terjadi. Jadi gini, tanggal 13 September lalu, gue ikut lomba stand up comedy. Hampir sebulan baru bisa gue post. Ceritanya nggak basi-basi amat, kok. *** Berawal dari akun Twitter @ficocacola atau lebih akrab dikenal dengan Fico, gue mendapat info tentang lomba stand up yang diselenggarakan PMI dalam rangka ulangtahun ke-70. Lomba itu diselenggarakan di Museum Nasional. GRATIS! Gue langsung nyiapin materi buat lomba nanti. H-1 minggu gue nyiapin segala bahan. Berhubung temanya PMI dan gue nggak tau apa-apa soal PMI, gue tanya sana-sini tentang PMI. Sayangnya, orang-orang yang gue tanya mengenai PMI jawabannya nggak memuasakan. Berbekal nekat, gue berangkat ke Museum Nasional sendirian. Nyasar bodo amat deh. Orang bijak pernah berkata, "Malu bertanya sesat di jalan". Gue siap nanya mas-mas tukang ojek seandainya gue nyasar. Ternyata, untuk mencapai Museum Nasional sangatlah mudah. Gue kira, buat ...

Berobatlah, Jika Engkau Ingin Dapat Surat Izin Dokter

Seminggu yang lalu, gue baru aja ikut acara Science Class yang diadakan di SMAN 94. Awalnya gue nggak ikut acara ini, karena jatah perwakilan dari tiap sekolah cuma 2 orang. Tadinya mau ngirim 4 orang, dan gue ada di dalamnya. Terpaksa gue harus ngalah, ngasih kesempatan buat anak kelas 10. Kesempatan itu akhirnya kembali datang ke gue setelah anak kelas 10 yang udah ditunjuk ogah-ogahan buat pergi. Jadilah gue dan anak kelas 10 yang pergi. Tema pada acara itu adalah mengenai elektronika. Gue sangat tertarik pada hal-hal itu. Yang bikin gue makin tertarik dengan acara ini adalah ada kuis nge-tweet tentang acara ini di awal acara. Gue, sebagai manusia doyan nge-tweet, langsung nge-tweet sesuai dengan gaya remaja masa kini: curhat. Curhatnya sedikit menjilat Kuis itu diumumkan di akhir acara sebelum penutupan. Gue kaget, nama gue dipanggil sebagai pemenang kuis tersebut. Udah gitu tweet gue dibacain pula. Gue penasaran, siapa aja yang ikut. Ternyata, cuma gue doang yang ikut...

Pelajaran Dari Sepeda

Seminggu ini, gue lagi sering banget naik sepeda. Berangkat-pulang sekolah naik sepeda. Berangkat-pulang les juga naik sepeda. Cuma berangkat umroh aja nggak naik sepeda. Belum ada uangnya, coy. Karena kebiasaan gue yang baru ini, banyak teman yang bertanya, "Emang nggak capek naik sepeda?" Jujur aja, masalah capek naik sepeda itu pasti ada, tapi mau gimana lagi, udah terlanjur cinta banget sama sepeda. For your information , jarak rumah gue ke sekolah sekitar 3 atau 4 kilometer. Dan, itu nggak terlalu jauh bagi gue. Kenapa harus ada pertanyaan "Emangnya nggak capek?" Gue baru bisa naik sepeda kelas 6 SD . Payah? Emang, payah banget. Ketika teman gue udah ada yang naik motor Scoopy saat itu, gue baru belajar sepeda. Yang lain udah naik motor kopling, gue baru bisa naik sepeda mini (sampe sekarang gue nggak paham dengan konsep penamaan sepeda mini. Padahal ukurannya besar). Mungkin ketika gue baru bisa naik motor, teman gue yang super tajir udah bisa naik awan. ...