Skip to main content

Berobatlah, Jika Engkau Ingin Dapat Surat Izin Dokter

Seminggu yang lalu, gue baru aja ikut acara Science Class yang diadakan di SMAN 94. Awalnya gue nggak ikut acara ini, karena jatah perwakilan dari tiap sekolah cuma 2 orang. Tadinya mau ngirim 4 orang, dan gue ada di dalamnya. Terpaksa gue harus ngalah, ngasih kesempatan buat anak kelas 10.

Kesempatan itu akhirnya kembali datang ke gue setelah anak kelas 10 yang udah ditunjuk ogah-ogahan buat pergi. Jadilah gue dan anak kelas 10 yang pergi.

Tema pada acara itu adalah mengenai elektronika. Gue sangat tertarik pada hal-hal itu. Yang bikin gue makin tertarik dengan acara ini adalah ada kuis nge-tweet tentang acara ini di awal acara. Gue, sebagai manusia doyan nge-tweet, langsung nge-tweet sesuai dengan gaya remaja masa kini: curhat.

Curhatnya sedikit menjilat
Kuis itu diumumkan di akhir acara sebelum penutupan. Gue kaget, nama gue dipanggil sebagai pemenang kuis tersebut. Udah gitu tweet gue dibacain pula.
Gue penasaran, siapa aja yang ikut. Ternyata, cuma gue doang yang ikut. Ada sih peserta dengan hashtag yang sama, cuma lewat Path. Ada yang bener-bener nge-tweet, tapi dari akun ekskul sekolah gue, yang adminnya... gue.


  


Well, gue merasa sebagai pemenang tunggal. Lumayan, lah, dapet hadiah dari panitia acara. Hadiah yang udah lama gue pengen, tapi karena nggak tau namanya makanya nggak pernah beli, dan baru punya sekarang (setelah menang kuis)

Makasih ya atas hadiahnya. Lumayan buat nyatet ide
(atau saat terdesak bisa buat gampar orang)

***

Untuk saat ini, musuh terbesar gue adalah kipas angin. Ya, gue lagi nggak enak badan. Gue sakit. Tiap kali kena embusan angin dari kipas gue langsung merinding. Rasanya ser-seran gitu.

Setelah sekian lama nggak pernah berobat, akhirnya gue kembali berobat ke dokter hari Rabu. Sebenernya, alasan utama gue mau pergi berobat adalah biar dapet surat izin dokter. Udah. Nggak ada niatan suci lainnya.

Gue langsung ke klinik ditemani mama gue. Sampai di sana, gue mendapati tiga orang sedang mengantre. Satu ibu-ibu, suami dari si ibu-ibu, dan bapak-bapak berjaket. Ibu-ibu itu menyuruh gue masuk. Dia baru aja keluar dari ruang periksa dan lagi nungguin obatnya keluar. Nggak lama kemudian, orang dari dalam ruang periksa memanggil. "Ya. Selanjutnya, mas." Bapak-bapak berjaket masuk.

Bapak-bapak berjaket telah keluar dari ruang periksa. Kemudian giliran gue masuk. Mama ikutan masuk.
Begitu masuk ke ruang periksa, ada seorang cewek Chinese, masih muda. Gue rasa, umurnya masih kepala 2. Lalu, timbul pertanyaan,

"Yakin ini dokternya? Gue kira dia lebih pantes jadi personel Cherrybelle."

Cantik banget.

"Ini siapa yang sakit? Mas-nya?" Dokter itu bertanya sambil mengarahkan telunjuk ke arah gue lalu ke arah mama gue.
"Ini, dok, anak saya." Mama gue memegang kedua pundak gue.
"Oh. Silakan duduk."

Gue duduk. Kemudian gue ditanya banyak hal oleh Bu Dokter.

"Namanya siapa, mas?"
"Robby"
"Umurnya berapa?"
"Enam belas"
"Sekarang kelas berapa?"
"Kelas sebelas, dok"

Gue merasa lagi di intervew kerja. Cuma kurang kemeja sama bawa map aja nih.

Dari tadi gue nungguin dia ngasih pertanyaan "Udah punya pacar belum?" Kalo aja dia nanya gitu, langsung gue jawab, "Belum, dok. Kalo dokter aja yang jadi pacar saya gimana?"
Tapi gue sadar kalo seorang dokter nggak boleh pacaran dengan jarum suntik.

"Apa yang dirasain sakit?" Bu Dokter itu kembali nanya, sambil mengambil alat pengukur tensi darah (kita sebut saja tensimeter, karena gue nggak tau nama tepatnya)
"Uhuk."
"Oh, batuk"
"...." tanpa menjawab, Bu Dokter udah tau.
"Terus apa lagi?" Bu Dokter makein tensimeter di tangan gue.
Gue menjelaskan semua rasa sakit yang gue rasa. Bu Dokter masih sibuk memencet bagian tensimeter yang berbentuk balon. Kemudian dia copot dari tangan gue. Lalu beralih sibuk mencatat.

"Oke, coba naik ke kasur buat periksa."
Gue naik ke kasur.
"Coba buka mulutnya," pinta Bu Dokter.
Gue membuka mulut lebar-lebar. Bu Dokter menyalakan senter kecil, kemudian mengarahkan ke mulut gue.
"Coba, bilang 'A' yang panjang"
"AAAAAA....I LOV YUUUU"

Bercanda.

"AAAAA"
"Oh iya, ini radang."

Semua pemeriksaan selesai. Dokter bilang, mungkin gue kecapekan. Emang bener deh, sejak acara Science Class minggu lalu, gue merasa capek banget. Diperparah dengan pola makan gue yang nggak beres. Makan telat, makan makanan berminyak, dan kurang minum.

Yah, mungkin saatnya gue mengistirahatkan diri dengan: tidur seharian di hari Minggu. Plus, batalin semua kerja kelompok. Huehehehehe.

Bukannya biasanya juga begitu, Rob?
Ya, intinya tetap jaga pola hidup sehat. Gue janji setelah pulih nanti akan rajin olahraga. Nggak telat makan dan makan gorengan sesuai porsinya.

Petugas klinik ngasih surat dokter. Gue baca di situ, cuma dikasih libur satu hari. Yah.. tambah jadi tiga hari dong. Penonton kecewa.

Comments

  1. Namanya binder mungkin. Atau ya... notebook. Gue juga pernah dapet hadiah begituan. Penuh coret-coretan ide nggak jelas. XD
    Ah, tensimeter? Ini namanya ngarang sendiri. Namanya emang agak ribet, gue juga lupa. :(

    Gue jadi inget temen gue ada yang bikin surat izin dokter gitu padahal nggak sakit. Ckck.

    Btw, cepet sembuh, Rob. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya, pokoknya gitu deh namanya. Gue mah apa-apa nggak tau namanya :(

      Hmmmm... tadi gue ngerjain soal Biologi ternyata di soal itu disebut tensimeter. Gue yang bener apa kita (gue dan soal itu) yang salah ya?

      Thanks, Bang! :)

      Delete
  2. Gue juga pernah tuh gara-gara capek jadi down. Sampai sekarang juga pola makan dan olahraga gue kurang, pas sakit baru deh ngeluh.. Manusia.

    ReplyDelete
  3. Itu namanya notebook kali, yaa. Hihi.

    Robbyyyy. Itu dokter lebih tuaaa. Jauuh. Ya Allah, jangan diembat juga apa. :(

    Dasar. Jaga kesehatan, Rob. Kesehatan itu mahal. Hahaha.
    Tapi, sakit juga asyik, kok. Syukuri aja, kan, jadi bisa libur sekolaah. Ya, meskipun satu hari.

    Inget. Liburnya dipake buat istirahaaat. Jangan main PES atau ngetwitt! *galak*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dua orang menjawab dengan kata yang sama. Kayaknya bener.

      Nggak tua-tua amat, kok. Beneran. Tapi gak bakal diembat juga, sih.

      Yoi, lumayan dapet libur sehari. Bisa tidur seharian. Hahaha

      Delete
  4. hahaha,
    gak selfi bareng dokternya...
    T.T kecewa sayaahh hahah

    surat izin mengemudi, jadi daftarlahhhh! eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harusnya sih selfie dulu, tapi takut keburu bengek.. :(

      Delete
  5. Lain kalu foto bareng dokternya dong. \:p/

    ReplyDelete
  6. Berhasil dapat wa dokternya gak ? :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca. Mari berbagi bersama di kolom komentar.

Popular posts from this blog

Maret 2025: Penantian Panjang dan Nikmat Ramadhan

Bulan Maret ini banyak banget hal yang mau ditulis. Ditambah sedang dalam bulan Ramadhan, nggak mungkin kekurangan cerita dari perjalanan ibadah di bulan suci ini.  Saat post ini ditulis, saya sedang berada di kampung. Ngetik di laptop, sambil mendengar suara alam, dan ditemani teh kemanisan yang mulai dingin. Rasanya bawa laptop ke kampung jadi keputusan yang tepat untuk tetap jaga ritme aktivitas. Ditambah lagi masih cukup luang waktu di kampung. Penantian Panjang Sejak mulai rutin merekap aktivitas bulanan di blog, saya sering menyebut tentang publikasi artikel. Akhirnya, setelah penantian tersebut, artikel saya terpublikasi. Silakan bagi yang berminat membaca Analysis of Students Scientific Literacy in Integrated Acid-Base Learning Socioscientific Issues Kalau ditanya bagaimana perasaannya, yang pasti senang banget! Karena ini akan membuka peluang untuk publikasi artikel-artikel berikutnya. Semoga rasa semangat itu terus hadir. Dan yang paling penting, tulisan saya bisa membawa...

Dilanku, Dilanmu, Dilan Kita Semua

Lemari buku saya semakin penuh. Untuk menguranginya, satu per satu saya jual. Saya nggak nyangka ada yang mau beli buku bekas milik saya. Dari hasil penjualan itu, alhamdulillah saya bisa beli makan di akhir bulan.  Seiring berjalannya waktu, ada dua hal yang saya sesali. Pertama, kenapa uang penjualan buku nggak saya tabung. Padahal ada sekitar 10 lebih buku sukses terjual dengan harga 25-30 ribu per buku. Kedua, saya nggak bisa hemat. Ya sudah, biarlah yang lalu telah terjadi. Nasi sudah menjadi nasi goreng. Baca juga: Pengalaman Berjualan Buku Buku yang Menghangatkan Rumah Meskipun beberapa buku sudah terjual, saya tetap membeli buku yang lain, bahkan sekarang lebih banyak dari sebelumnya. Saya jadi bingung. Niat saya jual buku biar buku di lemari saya berkurang.  Sekarang malah ditambah.  Gimana sih maunya saya. Melihat kondisi begini, terbersit dalam pikiran saya, “Buku ini harus tetap bermanfaat, tapi saya nggak mau kehilangan mereka, tapi ...

Berdasarkan Pengalaman: Tips Konsisten Menulis

Suatu hari saya iseng bikin question story di Instagram. Saya bikin question tentang “topik apa yang orang lain pengin baca di blog saya” . Biasa. Saya lagi bingung mau nulis tentang apa. Kehabisan ide. Di luar dugaan, jawabannya banyak. Banyak yang nggak nyambung. Ada yang minta follow back , ada yang dagang, ada yang “yuk kak cek IG kami”. Ada satu jawaban, tulisannya: "tips istiqomah menulis" . Nah, ini yang saya tunggu. Bisa jadi tulisan nih, kata saya dalam hati. Alhamdulillah, akhirnya ada bahan buat nulis. Saya mengartikan jawaban tersebut sebagai "tips konsisten menulis". Semoga nggak jauh-jauh artinya. Baca juga: Sumber Ide untuk Lancar Menulis Kepada Siapa Tulisan-tulisan Ini Ditujukan Sebelum bahas lebih jauh, harus diakui bahwa saya belum begitu konsisten dan rutin dalam menulis. Mungkin baru akhir-akhir ini, ketika pandemi covid-19 menyerang, saya jadi lebih sering nulis. Ketemu laptop terus soalnya. Sebenarnya, untuk tulisan...