Skip to main content

Posts

Menghadapi Pingsan

Kalau tiba-tiba kepala terasa pusing, pandangan kabur, dan keseimbangan mulai goyah, gue sering mengira tubuh gue akan ambruk. Jangan-jangan gue bakal pingsan. Gue pernah tanya ke seseorang yang pernah ngerasain pingsan. Gejalanya persis kayak gitu. Gue tanya, rasanya pingsan kayak gimana, sih? Ya, nggak sadar apa-apa, jawabnya. “Oh, mirip ya, kayak kena gendam?” kata gue dalam hati. Alhamdulillah, seumur-umur gue nggak pernah mengalami pingsan. Gue kadang penasaran sampai muncul keinginan buat ngerasain pingsan. Agak aneh juga dengan keinginan gue ini. Dikira semua hal di dunia ini harus dicicipi kayak makanan di prasmanan. Keinginan untuk pingsan harus gue pikir ulang. Soalnya, gue pikir, pingsan itu serem. Bikin orang lain takut juga. Pernah gue ketemu orang pingsan di kampus. Saat itu kelas gue sedang praktikum fisika. Di tengah khusyuknya melakukan pengataman, ada bunyi gubrak yang keras. Fokus semua orang buyar. Ada yang jerit. Ada yang kaget. Ada yang takut. Ada yang tetep...

Tes Politeknik AKA Bogor dan SBMPTN

Gagal di seleksi nilai rapor AKA Bogor, gue tetap semangat untuk ikut tes tulisnya. Alasan gue bersemangat adalah: 1) Tahun ini gue harus kuliah di bidang kimia, 2) Tes tulisnya nggak bayar. Jadi, saat seleksi rapor sebelumnya gue sudah membayar 100 ribu. Orang-orang yang nggak lolos seleksi rapor masih bisa ikut tes tulis. Lumayan, kan, membuka peluang untuk kuliah. Pilihan gue masih sama seperti saat seleksi rapor: pilihan pertama Analisis Kimia dan pilihan kedua Penjaminan Mutu Industri Pangan. Masih ada jeda sekitar sebulan setelah pengumuman seleksi rapor, sekaligus sebulan pula waktu gue menghadapi SBMPTN. Gue mengatur strategi untuk membuat semua yang gue pelajari jadi efisien dalam waktu sebulan. Setiap hari, gue mengerjakan soal-soal latihan. Mata pelajaran seperti Fisika dan Matematika lebih dulu ditendang. Gue fokus belajar mata pelajaran yang lebih mungkin buat gue kerjakan, seperti Tes Potensi Akademik (TPA), Bahasa Indonesia, dan Kimia. Sesekali kalau mood...

3 Minggu, 2 Cerita, 1 Tempat

Sudah lama banget gue nggak keliling-keliling ke tempat wisata Jakarta. Gue lupa kapan menaruh label “ Robby Bencong ” di blog ini. Robby Bencong, perlu diperhatikan, bukanlah sebuah nama sekaligus jati diri, tetapi merupakan akronim dari “Robby Belajar Melancong”. Terakhir kali gue jalan-jalan, efeknya bikin gue kaget naik fly over setelah naik halilintar di Dufan. Baca di sini: Berfantasi di Dunia Fantasi Sepertinya gue lebih suka ke tempat wisata yang jenisnya visual. Lihat pemandangan sambil jalan-jalan lucu. Ini bukan berarti gue suka sama wisata-wisata yang menghadirkan setan, penampakan, dan sejenisnya. Makanya, sewaktu ke Dufan gue lebih banyak nontonin dibanding naik wahana, sembari ngasih komentar, “Aduh, itu organ dalamnya pindah nggak ya?” Tempat wisata seperti itu banyak banget di Jakarta. Mulai dari museum sampai ngelihatin hewan-hewan (oh, ya, gue pernah nekat ikut lomba stand up di Museum Nasional, Jakarta. Ceritanya baca di sini:  Lomba Stand up Comedy ...

Teman yang Jauh Jaraknya

Gue sebenarnya introvert. Eh, sebentar.... Apakah orang-orang introvert itu ngaku dirinya introvert? Kata orang, introvert itu malu buat nunjukin siapa dirinya. Apakah karakternya itu benar-benar layak disebut sebagai introvert? Halah, ini pembukaan malah bikin diri sendiri bingung. Lewatin aja, lewatin. Apa ya, cara nyebutnya? Mungkin gue lebih pantas disebut textrovert : orang-orang yang bawel di ketikan. Di antara sela-sela keyboard, banyak banget omongan yang mau gue sampaikan. Dari ketikan pula, gue sedikit-sedikit bisa menjadi orang yang keluar dari zona lama gue sebagai anak yang pendiam . Namun, beberapa kondisi membuat gue tetap menjadi seorang pendiam kembali. Misalnya, kalau lagi ziarah. YA MASA GUE HARUS ORASI! Dari ketikan, gue belajar gimana caranya kenalan. Sewaktu main Omegle, gue suka banget nyapa orang duluan. Begini: “Hi.” “Hi.” “Asl.” Iya, sih. Nggak bakal kepake juga di dunia nyata “asl” itu. Bukan di Omegle mungkin yang kultur kenalan pake “as...

Potret Kehidupan Pagi

Untuk masa-masa seperti sekarang, gairah dan semangat sedang tinggi-tingginya, momen yang gue suka adalah waktu antara Subuh hingga matahari mulai terbit. Dibanding sore yang menenangkan—tentunya diiringi lagu-lagu Payung Teduh, gue menyukai pagi karena memberikan rasa semangat. Mungkin nggak hanya gue yang menyukai pagi. Orang-orang yang bekerja pun suka. Meskipun dalam benaknya, entahlah, sedikit muncul pikiran, “Yah elah, udah pagi lagi. Waktu terasa pendek.” Sebagai orang yang sering memulai hari dari pagi-pagi gelap, gue bisa melihat manusia dan interaksinya lebih banyak dibanding orang-orang yang bangun siang. Pemandangan “lomba lari di jembatan penyeberang orang (JPO)” sudah biasa gue lihat, bahkan gue suka “nantang” diri sendiri buat ngebalap siapa aja yang ada di depan gue. Mirip kayak Viru Sahastrebuddhe, dosen killer  di film 3 Idiots yang nggak pernah mau ada yang ngedahuluin dia. Pokoknya harus selalu terdepan. Lalu di tangga JPO. Seringkali gue ngelihat dua ...

Namanya Juga Belajar

Halo, apa kabar? Gue kangen membuka postingan seperti itu. Hal yang sama sebelumnya dikatakan Yoga Akbar di grup WhatsApp WIRDY . Setelah gue sadari, apakah perubahan ini menuju ke arah bagus atau jelek? Nggak tau deh. Gue juga kangen membuka postingan dengan bilang, "aduh mau cerita banyak nih. Kalau kalian nggak mau baca lama-lama mending close tab aja". Makin ke sini gue nggak pernah bilang-bilang dulu kalau mau cerita panjang. Gue juga kangen, memulai cerita dengan paragraf yang gak penting dulu. Nah, sekarang gue mulai cerita. Tapi mulai dari mana? Oh iya, bagian "bingung mau mulai dari mana" termasuk hal yang gue kangenin. Begini... Gue nggak pernah ikut OSIS. Namun, gue pernah ikut LDKS--yang biasanya jadi syarat masuk OSIS. Kelanjutannya gimana? Ya, tentu gue nggak lolos seleksi OSIS setelah LDKS. Waktu itu, kelas 7, gue cuma nulis nama dan ekskul yang gue ikuti. Semua orang di kelas pun melakukan hal yang sama. Beberapa hari kemudian,...

Rencana Cadangan Kuliah

Kata orang-orang bijak, sebuah rencana harus punya rencana cadangan biar seandainya gagal masih punya harapan. Begitu juga dengan memilih jurusan kuliah, yang nggak ada habis-habisnya disampaikan guru BK di kelas, “Kamu boleh fokus dengan satu jurusan. Tapi, nggak kalah penting buat punya rencana cadangan.” Begitu kira-kira yang dibilang. Mengenai mencari rencana cadangan kuliah, gue masih bingung mau kuliah di jurusan apa selain Pendidikan Kimia. Jurusan itu masih jadi satu-satunya yang gue yakin bakal meraihnya. Tapi, kalau semuanya gagal, gue harus bagaimana? Setiap kali melihat grup-grup sharing tentang masuk kuliah, banyak banget orang yang cerita tentang kegagalannya berkali-kali buat masuk PTN. Rasa takut mulai menghantui gue. Apalagi setelah tau kalau gue nggak dapat jatah kuota jalur undangan . Disuruh SBMPTN.  Saya sudah mencoba SBMPTN (tes tulis) tahun kemarin. Hasilnya gagal. Saya pernah coba jalur undangan gagal juga. Ini tahun terakhir saya punya kesempatan...