Skip to main content

Potret Kehidupan Pagi

Untuk masa-masa seperti sekarang, gairah dan semangat sedang tinggi-tingginya, momen yang gue suka adalah waktu antara Subuh hingga matahari mulai terbit. Dibanding sore yang menenangkan—tentunya diiringi lagu-lagu Payung Teduh, gue menyukai pagi karena memberikan rasa semangat. Mungkin nggak hanya gue yang menyukai pagi. Orang-orang yang bekerja pun suka. Meskipun dalam benaknya, entahlah, sedikit muncul pikiran, “Yah elah, udah pagi lagi. Waktu terasa pendek.”



Sebagai orang yang sering memulai hari dari pagi-pagi gelap, gue bisa melihat manusia dan interaksinya lebih banyak dibanding orang-orang yang bangun siang. Pemandangan “lomba lari di jembatan penyeberang orang (JPO)” sudah biasa gue lihat, bahkan gue suka “nantang” diri sendiri buat ngebalap siapa aja yang ada di depan gue. Mirip kayak Viru Sahastrebuddhe, dosen killer di film 3 Idiots yang nggak pernah mau ada yang ngedahuluin dia. Pokoknya harus selalu terdepan.

Lalu di tangga JPO. Seringkali gue ngelihat dua orang yang jalannya lambat banget, menuhin lorong. Bukan karena mereka pacaran, tapi mereka menghalangi jalan gue. Gue harus nahan-nahan diri buat bilang “Air panas, air panas!” biar mereka mau minggir.

Pindah ke angkot. Gue hampir selalu menemukan satu orang ini. Orang yang gue maksud ini nggak selalu gue lihat. Tapi, sekalinya gue lihat lagi orang ini, gue benar-benar kagum.

Dia adalah seorang ibu penjual makanan—entah kue, entah ikan mentah. Ibu ini membawa dagangannya dalam bak plastik, lalu ditaruh di atas kepala. Ya, kepalanya sendiri! Bukan kepala suku. Kepalanya dililit kain berlapis buat menopang bak—yang gue yakin ada isinya. Nggak mungkin kosong. Lagian kalau kosong, kurang kerjaan amat yak!

Kerennya, dia jalan biasa aja. Nggak goyah. Meskipun gue nggak bisa jamin, kalau gue senggol atau gue kelitikin pinggangnya, baknya masih bisa bertahan atau nggak. Gue kagum ... sekaligus ngilu.
Dulu pun gue pernah ngelihat orang seperti itu sewaktu TK. Pertanyaan gue selalu sama: apa kepalanya nggak sakit? Apa nggak merasa oleng? Secara, ini kepala, lho. Petinju aja kena tampol di kepala bisa teleng. Nah, ini ada ibu-ibu bawa makanan di bak di atas kepalanya. Gue bangun tidur kena salah bantal aja ngeluhnya sepanjang hari.

Itulah kekuatan yang telah Allah kasih kepada hamba-hamba-Nya. Masya Allah.

Pindah lagi ke objek lain.

Setiap kali gue berangkat ke kampus, dekat halte Transjakarta gue selalu menemukan pemandangan yang selalu sama. Salah satunya adalah pemandangan matahari mulai terbit. Selain itu, gue juga melihat pemandangan yang nggak kalah keren dan bikin gue geleng-geleng. Saking takjubnya. Pemandangan itu adalah seorang bapak yang mengatur lalu lintas, sambil sesekali merokok, dan berkaos dengan sablon tulisan “GOOD PEOPLE DRINK GOOD BEER” di bagian depannya. Yang membuat gue takjub adalah ... kaosnya itu lagi, itu lagi.

Mungkin dia cuek. Tapi gue, yang sering merhatiin sepele kayak gini, selalu memperhatikan hal ini. Kaos yang sama. Aktivitas yang sama. Respons dari gue yang sama: “Bau kaosnya kayak apa ya?”
Astagfirullah ngomongin orang.

Lanjut.

Gue berlari untuk dapat antrean bus paling depan. Niatnya biar bisa dapat tempat duduk lalu tidur. Walaupun sudah berlari dengan gesit, menghindari orang-orang, tetap saja ketika masuk bus harus berdiri. Itu sama rasanya kayak Messi gocek bola sana-sini, ngelewatin lawan (nggak pake permisi tentunya), udah di depan gawang, mau nge-shoot bolanya kempes.

Bagusnya setelah transit gue selalu dapat tempat duduk. Tapi, gue nggak langsung tidur. Pertama, baca buku dulu biar semua orang di bus ngasih pemakluman: “Oh, lagi belajar. Gak papa deh duduk.” Setelah satu halte dilewati, baru deh gue tidur. Orang-orang di bus, setelah gue bangun, pandangannya jadi beda: “Si kampret bohongan ternyata!”

Sampai di kampus, gue mampir sebentar ke perpus buat nulis laporan sekalian ketemu temen-temen. Sambil mengerjakan laporan, satu pesan WhatsApp masuk membuat konsentrasi gue hilang. Gue sempatkan untuk melihatnya sebentar.



Hanya berselang satu menit, ada pesan balasan.



Untung lagi di perpus. Kalau di luar, bisa-bisa gue ketawa, marah, nangis, dan guling-guling secara
bersamaan.

Jangan-jangan, orang ini baca judul postingan gue yang “Kamu Mau Nikah?”. Padahal itu, kan, tentang lagu “Akad”-nya Payung Teduh. Oh iya, ngomongin Payung Teduh, kaget juga karena vokalisnya keluar. Ditambah kaget setelah baca ini.

Kira-kira begitulah potret kehidupan pagi yang gue temui. Masih banyak hal-hal yang bisa ditulis sebenarnya. Bagi gue, pagi hari adalah langkah awal buat ngejalanin aktivitas seharian. Kalau hal buruk dianggap buruk padahal waktu masih pagi, patut dipertanyakan beberapa jam ke depan kayak gimana cara ngejalanin aktivitasnya.

Comments

  1. Selain Senin pagi, gue juga ngga terlalu waspada sama pagi. Kalo libur kadang jogging. Yah, rutinitas yang sangat garing, tapi tetap gue jalani.

    ReplyDelete
  2. Mungkin itu memang jadi kaos "dinas" nya si bapak Rob. Jadi di rumah dia punya beberapa potong kaos dengan warna, tulisan, sablon, dan bau keringat yang sama (tentunya) XD

    Astaghfirullah, jadi ikutan ngomongin orang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah iya, ya. Selow banget baju dinasnya berupa kaos. :D

      Delete
  3. Kalo ketemu si -bapak kaos gak pernah ganti- lagi, coba hirup sedikit baunya Rob. Untuk memastikan. Hahahaa.

    Endingnya kenapa nanyain nikah.........

    ReplyDelete
  4. gue bangun pagi kalau mood lg bagus lain dr itu kgk kecuali terpaksa..
    bangun subuh aja trus tidur lagi ampe siang. wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang paling enak tidur setelah subuh sih. Hahaha. Apalagi kalau seharian libur. :))

      Delete
  5. Udah terbiasa kali itu kepala, jadi nggak sakit. Mungkin awal-awal sakit.

    Jadi inget tukang bakso deket rumah. Kaosnya itu-itu mulu. Tiap ngelewatin tempat di mana dia dagang, gue berusaha nahan napas entah kenapa. Kaos partai, sih, padahal yang tukang bakso itu pakai. Bisa aja, kan, pas dibagiin kaos dia minta selusin. :|

    Pagi gue terkadang terasa busuk, sebab baru tidur sebentar udah mesti bangun atau malah belum sempet tidur. Rasanya bangun dalam keadaan tidak segar kurang asyik. Apalagi dibawa aktivitas pas belum tidur. Ngaco~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, ngebayangin waktu pertama-tama sakitnya itu yang ngilu. :(

      Anjer, minta selusin. Maruk itu namanya. :D

      Masih suka bergadang, Bang?

      Delete
  6. Kok kamu cerita tentang potretpagi, By? emang kamu mau married, ya?

    ReplyDelete
  7. Lu brgkt kuliah pagi hari sblum matahari terbit, ye Rob? :')
    Ampe balep2an di Jembatan pnyebrangan, yg bnyinya brisik itu bkan sih? Gue asal lewat gtuan brasa takut gtu, suka mikir, "Gimana kalau tbtb jembatannya roboh pas kita di tgah2?" :( Jd klo ada org yg jalannya lama di situ, mgkin aja lg mkir hal serupa sprti gue. Hahaa.

    Mgkin kepala ibu2 trbut sudah terlatih.. Jangankan bak yg ada isinya, bawa buku berat di kepala aja gak bisa seimbang gue :( barangkali lu mau mncoba bawa bak berisi air di kepala jg sprti ibu2 td biar expert?

    Yahhh, masa vokalisnya payung teduh kluar? Gak seru ahh :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iyak. Gubrak gubrak gitu bunyi besinya. Orang-orang pada panik. :D

      Dulu pernah naruh gayung berisi air. Tapi gagal. Gayungnya ditumplekin. :D

      Delete
  8. Jadi beneran kamu mau merried?

    random banget Yawlaaa ada nanya kaya gituuu :(
    sebagai mowning person gua sangat menyukai pagi, menurut gua mending kemana-mana kepagian daripada kesiangan.aseli

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tau yak, kirain mau nanya kabar atau apa. :(

      Betuuuul! Setuju sama Kakak Dibah. Kalau kesiangan serba ketinggalan info. :(

      Delete
  9. Adem yak pagi di antara subuh dan sebelum matahari terbit. Energinya lagi bagus. :)

    Baru tau Payung Teduh tahun ini padahal. Ah, disayangkan banget. :(

    ReplyDelete
  10. Anjir endingnya kenapa tiba2 dikir mau nikah. Horor abis walaupun muka sih udah pas ya. *digebuk

    ReplyDelete
  11. Lah, Rob, baru masuk kuliah uda mau nikah. Untung cumak gosip. Tapi gak papa sik, nikah itu kan ibadah. Asal jangan 5x sehari aja.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca. Mari berbagi bersama di kolom komentar.

Popular posts from this blog

Sumber Ide untuk Lancar Menulis

Kok bisa sih, orang itu lancar menulis ? Sekali duduk, bisa ngetik berhalaman-halaman tulisan. Sumber idenya dari mana aja, ya? Gimana caranya ya biar lancar menulis kayak dia? sumber: freepik Saya suka bertanya-tanya tentang hal tersebut. Mungkin kamu juga menanyakan hal yang sama. Di sini insya Allah saya akan membagikan apa yang saya ketahui. Pada beberapa momen, saya bisa lancar sekali dalam menulis. Selama saya aktif menulis, rekor paling lancar adalah 10 halaman dalam waktu 3 jam! Fantastis buat saya pribadi. Wajar, saat itu saya sedang menggarap sebuah naskah. Kalau ingat masa-masa produktif itu, saya bingung dengan kondisi saat ini. Sekarang terasa lebih sulit untuk menulis. Inilah tujuannya...  Apa yang akan saya bagikan di tulisan ini akan menjadi pengingat bagi saya. Pengalaman Pribadi Pasti kita nggak asing dengan tugas pasca liburan ketika masa-masa sekolah. Ya, kan? Biasanya, pertama kali masuk sekolah setelah liburan, kita diminta nuli...

Tetap Produktif Walaupun #DiRumahAja

Tetap produktif walaupun #DiRumahAja jadi salah satu tekad saya menghadapi fenomena social distancing . Rugi banget kalau melakukan hal sia-sia pokoknya. Seperti yang dikatakan Rasulullah, “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaaat.” sumber: unsplash.com Sepekan terakhir ramai kampanye tagar #DiRumahAja . Tagar itu sebagai dukungan terhadap social distancing yang tujuannya mengurangi aktivitas di luar rumah . Sebelum lebih jauh, social distancing adalah strategi kesehatan publik untuk mencegah dan menghambat penyebaran virus. Caranya dengan menjaga jarak dengan mereka yang sedang sakit, termasuk menghadiri pertemuan dengan jumlah banyak seperti konser dan festival. Kebijakan tersebut, mengutip salah satu artikel di internet, adalah upaya untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit yang disebabkan virus corona . Banyak hal positif yang saya rasakan selama masa-masa social distancing ini. Saya, yang jarang di ru...

Maret 2025: Penantian Panjang dan Nikmat Ramadhan

Bulan Maret ini banyak banget hal yang mau ditulis. Ditambah sedang dalam bulan Ramadhan, nggak mungkin kekurangan cerita dari perjalanan ibadah di bulan suci ini.  Saat post ini ditulis, saya sedang berada di kampung. Ngetik di laptop, sambil mendengar suara alam, dan ditemani teh kemanisan yang mulai dingin. Rasanya bawa laptop ke kampung jadi keputusan yang tepat untuk tetap jaga ritme aktivitas. Ditambah lagi masih cukup luang waktu di kampung. Penantian Panjang Sejak mulai rutin merekap aktivitas bulanan di blog, saya sering menyebut tentang publikasi artikel. Akhirnya, setelah penantian tersebut, artikel saya terpublikasi. Silakan bagi yang berminat membaca Analysis of Students Scientific Literacy in Integrated Acid-Base Learning Socioscientific Issues Kalau ditanya bagaimana perasaannya, yang pasti senang banget! Karena ini akan membuka peluang untuk publikasi artikel-artikel berikutnya. Semoga rasa semangat itu terus hadir. Dan yang paling penting, tulisan saya bisa membawa...