Skip to main content

Perbandingan SMP dan SMA


Selama di SMA ini banyak kebiasaan yang gua jarang temuin di SMP dulu. Beda banget dah pokoknya. Ambil contoh sedikit ya
Waktu di SMP
“woy, bola nanti malem bagus nih. Bercelana vs Laverpool. Gua voor Laverpool ½, jadi gak?”

Hal itu gak akan pernah gua temuin di SMA. Kecil-kecil udah nge-judi, gila emang.
Sebagai perbandingannya, nih gua kasih perbandingan waktu di SMA dan di SMP

Di  SMA
Jam istirahat digunain (bener-bener) buat istirahat. Gak buat hal-hal lain
Selera anak-anaknya juga keren. Banyak banget disini yang suka K-Pop sama Otaku. (gua mah boro-boro suka, ngerti juga engga)
Olahraga yang paling di doyanin itu Basket, futsal ga terlalu banyak

Di SMP                                                                                                   
Jam istirahat malah pada maen bola, udah gitu tarohan. Taroannya yang kalah beli es kalo gak gorengan. Mending kalo istirahatnya lama, ini cuma 15 menit. belom lagi golongan yang laen, ada yang nge-rokok (tapi ga sering sih), jajannya nyolong, kacau.
Seleranya anak cowok tuh pasti bola. Kalo satu ngomong bola, semuanya nimbrung, malah sampe kelas lain juga ngikut hahaha. Kalo cewenya, macem-macem lah
Olahraga yang paling di gemarin: Judi. Judi maen bola, judi bola, judika *apasih. Untung gak ada yang judi poker online

*Di SMA gua baru tau yang namanya STICKY NOTE. Di SMP gua gak nemuin -_-

Comments

Popular posts from this blog

Berdasarkan Pengalaman: Tips Konsisten Menulis

Suatu hari saya iseng bikin question story di Instagram. Saya bikin question tentang “topik apa yang orang lain pengin baca di blog saya” . Biasa. Saya lagi bingung mau nulis tentang apa. Kehabisan ide. Di luar dugaan, jawabannya banyak. Banyak yang nggak nyambung. Ada yang minta follow back , ada yang dagang, ada yang “yuk kak cek IG kami”. Ada satu jawaban, tulisannya: "tips istiqomah menulis" . Nah, ini yang saya tunggu. Bisa jadi tulisan nih, kata saya dalam hati. Alhamdulillah, akhirnya ada bahan buat nulis. Saya mengartikan jawaban tersebut sebagai "tips konsisten menulis". Semoga nggak jauh-jauh artinya. Baca juga: Sumber Ide untuk Lancar Menulis Kepada Siapa Tulisan-tulisan Ini Ditujukan Sebelum bahas lebih jauh, harus diakui bahwa saya belum begitu konsisten dan rutin dalam menulis. Mungkin baru akhir-akhir ini, ketika pandemi covid-19 menyerang, saya jadi lebih sering nulis. Ketemu laptop terus soalnya. Sebenarnya, untuk tulisan...

Gerilya Bersenjatakan Buku

Setelah Tepi Buku nggak berjalan lagi , saya masih tetap membaca; sebagaimana orang bodoh yang tak mau terus-terusan menjadi bodoh. Dari Tepi Buku, banyak hal yang membuat saya belajar arti kolaborasi. Sebagaimana istilah yang saya temui di buku Kolaborasi Kebaikan karya Mas Alfath Bagus; kolaborasi artinya menemukan titik temu di antara banyak perbedaan. Buku Presiden Mahasiswa (Presma) BEM KM UGM 2017 itu begitu menginspirasi saya dalam memaknai kolaborasi. Atau, mengutip perkataan seorang guru: berbeda itu pasti, bersatu itu keharusan. Saya nggak ingin mengklaim Tepi Buku adalah milik saya seorang. Bukan. Namun, semangat yang dibangun sejak awal amat saya rasakan berada dalam diri saya. Pasca nggak berjalannya Tepi Buku, kami berlima tetap berteman. Fahmi masih baik sama saya. Masih suka makan bareng juga. Semua kembali sediakala. Sekali pun dalam kondisi yang enak buat ngobrol, saya jadi agak sungkan buat melanjutkan Tepi Buku.  Biarlah berlalu, nggak usah dip...

Memeluk Buku-buku yang Bertumpuk

Saya pernah berpikir, “Buku-buku di lemari ini, setelah saya meninggal, mau dibawa ke mana ya?” Sepertinya hanya akan tetap menumpuk. Ketika buku selesai dibaca, ia akan kembali bersama tumpukan buku yang lebih dahulu saya baca; selesai atau cuma sebagian.  Jujur, sampai saat ini, saya berobsesi pengin punya banyak buku. Andai dikasih kesempatan, saya mau punya perpustakaan sendiri di rumah, buku yang menghangatkan rumah . Minimal tempat baca untuk umum. Karena saya percaya prinsipnya: buku memang selesai di tumpukan, tapi isinya harus disebarkan. Saya nggak bisa senang sendirian karena baca buku. Orang lain harus tau isi dari apa yang saya baca, secara ide dan manfaat. Entah itu mereka yang membaca atau saya yang menceritakan.  Namun, ada kalanya saya nggak suka dengan tumpukan buku. Beberapa kali ini saya berpikir, mau ditaruh mana lagi nih kalau beli buku baru. Saya harus mengurangi sedikit tumpukan ini.  Salah satu caranya—pernah saya tulis di tulisan...