Skip to main content

Kicauan Lelaki Tua Bersarung

Aku, lelaki berumur setengah abad, sedang menikmati kopi hitam, hanya mengenakan sarung. Duduk di bangku panjang di depan rumah, memperhatikan tetangga yang sedang menyapu. Sesekali teman-temanku lewat menyapa, sedang mengantarkan anaknya ke sekolah. Sedangkan anakku, sudah berangkat 30 menit yang lalu.

Aku mengambil koran di meja kemudian membacanya. Aku lihat tanggal terbitnya, ah, ini koran sebulan yang lalu. Mungkin itu terakhir kalinya aku membeli koran, dan itu terakhir kalinya aku pulang kerja.

Karena, sebulan yang lalu aku dipecat.

Pulang ke rumah dengan langkah gontai, menemui penjual koran langganan. “Mas, ini mungkin terakhir kalinya saya beli koran di tempat, Mas.”

“Memang kenapa, Pak?” tanya penjual koran kepadaku.

“Nggak papa. Mungkin saya akan beli di tempat lain atau membaca berita online. Ini, kan, era digital. Hehehe,” kataku berdalih. Padahal aku samasekali nggak punya handphone.

Aku menyeruput kopi yang mulai mendingin. Ah, rasanya terlalu pahit. Sejak dipecat dari pabrik tempatku berkerja, otomatis kopi yang aku minum terasa pahit. Wajarlah, untuk membeli gula butuh banyak pertimbangan. Lebih baik uangnya dibelikan sebungkus nasi. Tapi tak apa, kopi ini adalah sisa dari persediaan tiga bulan. Memang, aku selalu membeli kopi untuk stok tiga bulan. Biar nggak bolak-balik ke pasar.

Merenung. Mengapa semua terjadi secara mendadak. Di saat keluargaku dalam keadaan baik-baik saja, kenapa pemecatan itu bisa datang? Apakah ini semua adalah balasan dari kebiasaan burukku selama lima tahun terakhir?

Entahlah, tapi aku merasa ini teguran dari Tuhan.

Lima tahun lalu adalah kali pertama aku keluar malam untuk bergadang di poskamling. Sampai larut malam, tak henti-hentinya aku membawa uang banyak, lalu pulang dengan kekecewaan. Berjudi. Melempar dan mengocok kartu. Kalah. Semuanya sudah diketahui keluargaku.

Rasanya malu bila anakku yang sudah berseragam putih abu-abu ditanyai gurunya. “Bapak kamu kerjanya apa?” Anakku menjawab, “Di pabrik. Tapi kalau malam berjudi.”

Sudah puluhan kali aku mendapati anakku menangis di sudut kamarnya. Kutanya kenapa ia menangis, jawabannya, “Aku malu ditertawakan teman-temanku karena aku anak penjudi.”

Malu. Sangat malu.

Dengan dipecatnya aku, berarti segala urusan yang harus mengeluarkan uang harus berhenti. Aku bersyukur akhirnya bisa berhenti berjudi. Aku akan malu bila melihat keluargaku sedang menahan lapar, sedangkan aku menanggung kekalahan di poskamling.

Beruntung aku memiliki istri yang penyabar. Mungkin jika istriku bukan dia, aku sudah ditinggal pergi ke rumah orang tuanya. Dia rela mencari pekerjaan sambilan untuk mencukupi kebutuhan, bahkan untuk sebulan ini dia lah yang menjadi tulang punggung keluarga.

Menjadi seorang suami sekaligus ayah, aku layak mendapat rapor merah.

Latar pendidikan yang rendah membuatku minder untuk mencari pekerjaan. Untuk sekarang ini, minimal pendidikan terakhir untuk mendapat perkerjaan adalah SMA sederajat. Aku hanyalah tamatan SD. Andai saja dulu orang tuaku memiliki uang untuk menyekolahkanku, aku ingin melanjutkan hingga bangku kuliah. Sayang sekali, uang penjualan sawah orang tuaku telah digunakan membayar hutang-hutang kakakku.

Aku bingung dari mana keluargaku bisa mendapatkan uang untuk biaya hidup. Bisa saja sebenarnya bekerja serabutan, tapi belum cukup untuk membayar biaya sekolah ketiga anakku. Beginilah aku, lelaki sarungan yang sedang bingung bagaimana caranya melanjutkan hidup.

Malam hari yang biasanya diisi oleh tawa hangat keluarga, berubah jadi malam perenungan. Masing-masing orang di rumah merenung bagaimana caranya memperbaiki kualitas hidup. Istriku berkata, jangan dibawa pusing, Pak. Lebih baik dibawa senang dan diambil hikmahnya.

Aku melihat anak sulungku sedang belajar. Setahun lagi dia akan mengikuti Ujian Nasional. Hanya semangat dan motivasi yang bisa membuatnya mengubah nasib keluarga ini. “Belajar yang rajin, Nak. Jangan kayak Bapak, yang nasibnya nggak seberuntung kamu. Nggak bisa sekolah, masa tuanya luntang-lantung. Kalau urusan pendidikan, Bapak akan dukung kamu. Terserah kamu mau jadi apa, yang jelas kamu harus jadi orang yang berguna dan bisa membanggakan orang tua kamu. Kamu nggak usah mikirin gimana susahnya keluarga kita, fokus aja ke belajar.”

Aku mengusap kepalanya sambil menahan air mata. Harapanku ada pada anak-anakku.

Comments

  1. Wah robby ternyata udah anak
    Engga sya duga loh sesudahnya

    ReplyDelete
  2. :') Kamu emang jago bikin fiksi yang mencabik-cabik hati kayak Leonardo Dicaprio dicabik-cabik sama beruang grizzly. Buat si anak, tetaplah jadi anak yang berbakti. Yang walaupun malu sama kekhilafan Bapaknya sebelum dipecat, tapi tetap kelihatannya menghormati sang Bapak. Buat si istri, tetaplah menjadi istri yang berbakti, yang sabar kayak gitu. Ah. Cedih kalau udah baca fiksi tentang keluarga gini, Rob :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, kakak Icha~ Doanya diamini aja deh. :)

      Delete
  3. Keren, Rob. Satir banget nih. Tapi ada typo di bagian akhir..

    ReplyDelete
  4. Robb.. Tumben bikin fiksi yg mnyentuh hati bginih.. :'D
    Tapi, keren kok :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Kakak Lulu. Masih dalam proses belajar nulis fiksi.

      Delete
  5. Ternyata bisa juga bikin cerita fiksi, kalo saya nyerah deh.... Hahahahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bang Hendra juga pasti bisa, kok. Semua orang pasti bisa. :)

      Delete
  6. Betapa kebapakan sekali anak muda satu ini.
    Gak sia-sia kamu dianggap udah kuliah nak. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh, dikira mahasiswa semester 4. :') Padahal masih SMA semester 4 (kelas 2 SMA).

      Delete
  7. Ini ngena banget sih :' sumpah :')

    Aku bener-bener terbawa dalam tulisanmu, Rob :')

    Menampar para orang tua yang memiliki masa lalu kelam, dan menusuk para anak muda yang akan menjadi bapak :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terbawa perasaan, bang? Nggak terbawa perasaan mantan, kan? Hehehe. Ehm, itu boleh juga kesimpulannya. Tapi serem banget ada tampar dan nusuknya. :D

      Delete
  8. Hwalaaah, masih harus belajar lagi, bang. Biar makin mantep nulis fiksinya. Hehehe.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca. Mari berbagi bersama di kolom komentar.

Popular posts from this blog

Sumber Ide untuk Lancar Menulis

Kok bisa sih, orang itu lancar menulis ? Sekali duduk, bisa ngetik berhalaman-halaman tulisan. Sumber idenya dari mana aja, ya? Gimana caranya ya biar lancar menulis kayak dia? sumber: freepik Saya suka bertanya-tanya tentang hal tersebut. Mungkin kamu juga menanyakan hal yang sama. Di sini insya Allah saya akan membagikan apa yang saya ketahui. Pada beberapa momen, saya bisa lancar sekali dalam menulis. Selama saya aktif menulis, rekor paling lancar adalah 10 halaman dalam waktu 3 jam! Fantastis buat saya pribadi. Wajar, saat itu saya sedang menggarap sebuah naskah. Kalau ingat masa-masa produktif itu, saya bingung dengan kondisi saat ini. Sekarang terasa lebih sulit untuk menulis. Inilah tujuannya...  Apa yang akan saya bagikan di tulisan ini akan menjadi pengingat bagi saya. Pengalaman Pribadi Pasti kita nggak asing dengan tugas pasca liburan ketika masa-masa sekolah. Ya, kan? Biasanya, pertama kali masuk sekolah setelah liburan, kita diminta nuli...

Tetap Produktif Walaupun #DiRumahAja

Tetap produktif walaupun #DiRumahAja jadi salah satu tekad saya menghadapi fenomena social distancing . Rugi banget kalau melakukan hal sia-sia pokoknya. Seperti yang dikatakan Rasulullah, “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaaat.” sumber: unsplash.com Sepekan terakhir ramai kampanye tagar #DiRumahAja . Tagar itu sebagai dukungan terhadap social distancing yang tujuannya mengurangi aktivitas di luar rumah . Sebelum lebih jauh, social distancing adalah strategi kesehatan publik untuk mencegah dan menghambat penyebaran virus. Caranya dengan menjaga jarak dengan mereka yang sedang sakit, termasuk menghadiri pertemuan dengan jumlah banyak seperti konser dan festival. Kebijakan tersebut, mengutip salah satu artikel di internet, adalah upaya untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit yang disebabkan virus corona . Banyak hal positif yang saya rasakan selama masa-masa social distancing ini. Saya, yang jarang di ru...

Maret 2025: Penantian Panjang dan Nikmat Ramadhan

Bulan Maret ini banyak banget hal yang mau ditulis. Ditambah sedang dalam bulan Ramadhan, nggak mungkin kekurangan cerita dari perjalanan ibadah di bulan suci ini.  Saat post ini ditulis, saya sedang berada di kampung. Ngetik di laptop, sambil mendengar suara alam, dan ditemani teh kemanisan yang mulai dingin. Rasanya bawa laptop ke kampung jadi keputusan yang tepat untuk tetap jaga ritme aktivitas. Ditambah lagi masih cukup luang waktu di kampung. Penantian Panjang Sejak mulai rutin merekap aktivitas bulanan di blog, saya sering menyebut tentang publikasi artikel. Akhirnya, setelah penantian tersebut, artikel saya terpublikasi. Silakan bagi yang berminat membaca Analysis of Students Scientific Literacy in Integrated Acid-Base Learning Socioscientific Issues Kalau ditanya bagaimana perasaannya, yang pasti senang banget! Karena ini akan membuka peluang untuk publikasi artikel-artikel berikutnya. Semoga rasa semangat itu terus hadir. Dan yang paling penting, tulisan saya bisa membawa...