Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Fiksi

Sahabat Masa Kini

Aku berkedip-kedip, berusaha mencari tahu di mana sebenarnya aku sekarang. Aku merasakan permukaan empuk yang menahan punggungku. Aku melihat ke sebelah kanan, Iqbal sedang tidur setengah telanjang. Aku merasa tidak sadarkan diri karena terjaga menemani malamnya. Padahal, pukul 7 nanti aku harus menemani Iqbal ke kantornya. Menemani setiap kegiatannya mulai dari sarapan hingga makan siang. Segala cuaca: dari panas hingga hujan. Semua aku lakukan atas nama persahabatan. Persahabatan ? Entahlah. Lebih dari itu, mungkin. Dapat dikatakan juga ke hubungan yang lebih intim. Sumber: pixabay.com Aku berteman baik dengan Iqbal sejak tiga tahun lalu. Aku ingat betul momen saat kami bertemu. Pertemuan di sebuah gerai ponsel di mal dekat kantor tempat Iqbal bekerja. Di antara ramainya teman-temanku, Iqbal mendekati aku yang sedang tidak berbicara dengan siapa-siapa. Iqbal melirikku yang masih sendiri, lalu dia menghampiriku dan meninggalkan teman wanitanya. Sebuah pertemanan yang k...

Pesta Kelulusan

Sako terus menerus memaksaku pergi ke tanah lapang. Dia bilang, di sana sudah banyak pelajar SMA berkumpul mengadakan pesta kelulusan. Tiga SMA di sekitar sekolah kami bergabung menjadi satu berada di tengah lapangan yang sengaja disewa untuk keperluan pesta. Aku enggan ke sana karena tidak memberikan uang donasi. Sumber: kumparan.com “Aku tidak ikut membayar iuran, bagaimana bisa ikut?” Sako menggelengkan kepala. “Ayolah. Di sana banyak teman-teman sekolah kita. Saya yakin mereka masih mengingat kita, lalu memberi kita segelas sirup kokopandan.” Aku tetap tidak yakin untuk hadir dalam pesta itu. Hanya aku dan Sako yang masih tersisa di sekolah setelah tadi pagi pengumuman kelulusan dikumandangkan kepala sekolah bahwa kami lulus seratus persen. Bukan waktu yang singkat mengingat ini adalah tahun keempatku berseragam putih abu-abu. Satu tahun tinggal kelas membuat aku merasa hidup di sekolah ini terlalu lama. “Bagaimana?” tanya Sako mengagetkanku. Teman sebangkuku ini a...

Surat Dari Ibu

Tinggal berdua dalam satu rumah adalah hal yang tidak pernah aku inginkan. Apakah ada lelaki, berumur enam belas tahun, yang menginginkan tinggal bersama adiknya, yang baru berumur delapan bulan? Agak gila. Aku seperti gadis belasan tahun yang disetubuhi hingga hamil kemudian ditinggal sang lelaki bajingan. Aku seringkali membuat penyangkalan, bahwa aku tidak pantas ditempatkan dalam kondisi begini. Tinggal serumah dengan manusia yang tidak bisa membantuku mengerjakan apa pun. Aku seperti hidup sendiri, kemudian diberi beban lagi. Saat diri tidak terkontrol, sepintas aku berpikir ingin menusuk pisau roti ke punggung adikku, sehingga beban di rumah ini berkurang. Ayahku pergi dua bulan sebelum Herman, adikku, dilahirkan. Ibuku tak kuketahui kabarnya pasca-melahirkan. Aku tak pernah mendapatkan informasi pasti di mana keberadaan kedua orang tuaku. Kerabat terdekatku, Tante Tresna, mengatakan, mereka ada di sebuah kota untuk mencari nafkah, dan kedua anaknya dititipkan pada adik A...

Kicauan Lelaki Tua Bersarung

Aku, lelaki berumur setengah abad, sedang menikmati kopi hitam, hanya mengenakan sarung. Duduk di bangku panjang di depan rumah, memperhatikan tetangga yang sedang menyapu. Sesekali teman-temanku lewat menyapa, sedang mengantarkan anaknya ke sekolah. Sedangkan anakku, sudah berangkat 30 menit yang lalu. Aku mengambil koran di meja kemudian membacanya. Aku lihat tanggal terbitnya, ah, ini koran sebulan yang lalu. Mungkin itu terakhir kalinya aku membeli koran, dan itu terakhir kalinya aku pulang kerja. Karena, sebulan yang lalu aku dipecat. Pulang ke rumah dengan langkah gontai, menemui penjual koran langganan. “Mas, ini mungkin terakhir kalinya saya beli koran di tempat, Mas.” “Memang kenapa, Pak?” tanya penjual koran kepadaku. “Nggak papa. Mungkin saya akan beli di tempat lain atau membaca berita online. Ini, kan, era digital. Hehehe,” kataku berdalih. Padahal aku samasekali nggak punya handphone. Aku menyeruput kopi yang mulai mendingin. Ah, rasanya terlalu pahit. Sejak ...