Skip to main content

Tentang Tidur dan Bangun

“Lihat ke depan deh.”
“Ibunya tidur?” tanya gue menunjuk seorang guru.
“Iya.” Teman gue mengangguk. “Kata mama gue, orang yang capek bisa tidur di mana aja kalau ada kesempatannya.”

Percakapan itu kira-kira membentuk sebuah pola pikir baru di kepala gue: Sibuk artinya bisa tidur di mana saja. Seandainya gue seperti ibu guru tadi, orang-orang ngelihat gue penuh rasa kagum, dan pasti mengira gue adalah orang sibuk ketika melihat gue tertidur di emperan toko, sekaligus bakal melapor satpol pp.

Pola pikir itu akhirnya benar-benar terwujud saat SMA. Sudah beberapa kali gue menceritakan di blog kalau gue sering tidur tidak hanya di kasur rumah saja. Sekadar mengingatkan kembali, sewaktu SMA gue sering tidur di angkot, di masjid, di bangku yang dipepetkan, dan di lantai beralaskan jaket. Bangun-bangun langsung terasa kayak dilumurin ulet bulu. Gatel.

Gue pernah merenungi suatu hal tentang kebiasaan itu.

Rasanya gue sering banget tidur sewaktu SMA. Harusnya, sesuai dengan pola pikir yang terbentuk, gue adalah orang yang super sibuk. Ya, nggak? Masalahnya, setelah gue lulus SMA, gue dulu nyibukin apa aja, sih, sampai suka tidur di tempat sembarangan? Belajar nggak, ngerjain PR nggak, membantu nenek menyeberang jalan juga nggak. Kalau biar dianggap blogger sejati, gue bisa pakai alasan “sibuk ngeblog”. Kenyataannya, nggak juga. Heran juga, dulu gue ngapain aja, ya.

Makanya, gue pengin benar-benar memahami pola pikir itu dengan aksi nyata. Artinya, gue harus sibuk biar bisa tidur sembarangan. Bravo! (ini biar apa, sih?)

Selama kuliah barulah gue merasakan yang namanya tidur sembarangan. Seringnya di angkot. Kalau tidur sambil jalan, alhamdulillah belum pernah.

Berjemur, dulu...
Pertama, waktu ospek. Hari itu ospek cuma sampai siang. Sesiang-siangnya gue keluar dari kampus, tetap saja sampai di rumah sore hari. Badan gue sakit gara-gara masuk angin. Di perjalanan pulang gue ketiduran di angkot, kelewatan dua gang.

Semakin ke sini, rasanya kebiasaan gue tidur di bus semakin ekstrem. Hampir dipastikan, setiap kali gue naik bus dan dapat tempat duduk, pasti gue tertidur. Gue padahal sudah bertekad untuk tidak tidur di bus, apalagi setelah tahu banyak banget kejahatan yang terjadi di bus. Mirisnya, gue sering banget dapat tempat duduk. Mau nggak mau gue harus manfaatkan ini. Serba salah. Mau ngasih tempat duduk ke orang tua, tapi mikir-mikir lagi. Emang dasar anak muda yang nggak punya kepekaan sosial.

Sore itu, gue benar-benar bertekad untuk nggak tidur. Tekad yang rasanya semakin semangat untuk diwujudkan karena gue ingin belajar untuk praktikum keesokan harinya. Gue mengeluarkan buku panduan praktikum Biologi dari tas. Sungguh menyenangkan belajar di dalam bus. Halaman pertama dilahap dengan keceriaan. Gue senyum-senyum sendiri.

Entah kenapa, tangan ini sulit untuk membalikkan ke halaman berikutnya. Ah, nggak apalah baca dari atas lagi, biar makin paham, batin gue. Gue baca ulang dari paragraf pertama, sampai di pertengahan, gue nggak ingat apa-apa setelahnya.

BUKAN KENA HIPNOTIS WOY!

Gue ketiduran.

Gue cuma sadar selama tidur tadi mulut gue terbuka. Kebiasaan tidur dengan gaya seperti itu sudah pasti membuat gue tertidur pulas. Benar saja, gue sadar cukup lama gue tertidur. Buku yang tadi gue baca masih berada di halaman pertama. Bersamaan dengan bus berhenti, gue melihat ke luar jendela.

“INI DI MANA?” tanya gue dalam hati.

Gue segera bangun dari kursi, lalu keluar bus buat transit ke rute selanjutnya. Agak pusing rasanya kalau diingat kejadiannya. Lagu anak-anak juga jadi berubah karena gue: Bangun tidur kulangsung transit.

Keesokannya, gue mengikuti praktikum Biologi. Sebelum praktikum, kami harus melewati tahap pre-test. Pre-test adalah rintangan pertama sebelum praktikum. Bila lancar dalam pre-test, semua lancar jaya tanpa perlu mikir yang namanya post-test. Nah, post-test adalah kesempatan kedua bagi mereka yang nggak mencapai KKM di pre-test.

Asisten laboratorium atau aslab bersiap membacakan soal pre-test. “Siapkan selembar kertas di atas meja,” kata seorang aslab.

Gue cuma bawa sebatang pulpen. Tidak ada persiapan sama sekali.

“Agung, bagi kertas dong.” Agung langsung mengambil kertas dari bindernya. Agung, entah kenapa, selalu jadi penolong di setiap tulisan gue akhir-akhir ini.

Aslab selesai membacakan lima buah soal. Rata-rata soalnya gampang karena cuma disuruh menyebutkan. Berbekal belajar kemarin di bus dan sedikit pada malam harinya, gue merasa aman-aman saja melewatinya.

“Kerjakan ya.”

AH, TAK SABAR.

“... waktunya lima menit.”

Mau nangis darah rasanya.

Lima soal tadi yang harusnya mudah tiba-tiba jadi sulit. Timbul banyak keraguan dalam mengerjakannya. Otak jadi blank. Gue ngisi sebisa gue.

“Sembilan... delapan... tujuh.”

Gue masih nungguin sampai dia nyebut tiga.

“Lima... masih nggak ada yang mau ngumpulin, nih?”

Gue ngelihat dua soal belum diisi. Aduh, apa ya? Apa ya?! Tujuan dalam penggunaan mikroskop apa, ya ampun?! Lima detik ini gue harus menjawab apa?!

“Untuk mengamati remah-remah hati yang sukses dipatahkan.”

KENAPA SEMPET MIKIR KE SANA?! Kalau aslab ngoreksi ini, kemungkinan responsnya ada dua: 1) Dia ikutan baper, 2) Gue ditolol-tololin.

Gue isi cuma satu tujuan, padahal yang diminta lebih banyak dari itu. Masih nyisa satu soal lagi. Pasrah saja.

***

Selama praktikum harusnya teman-teman gue waswas melihat keadaan gue (mau banget diperhatiin?).

Gue ngeluh ke teman di sekitar gue, tentunya dengan nada kepasrahan. Biar diperhatiin. “Gue cuma ngisi empat. Satu soal cuma ngisi dikit banget.”

“Sama gue juga,” jawab seorang teman. Sedikit ada kelegaan karena punya teman senasib. “Gue satu soal ngisi sedikit banget. Tapi ngerjain semuanya, sih.”

“Itu mah aman namanya, bangkai,” batin gue.

Benar, harusnya mereka perhatian ke gue. Selama praktikum, benda yang gue pegang adalah silet. Jadi, mereka nggak ada rasa khawatir apa ke gue?

Praktikum hari itu tentang mengamati sel tumbuhan. Dalam kelompok, gue kebagian membuat preparat atau bahan yang akan diamati. Preparat yang digunakan adalah sayatan tipis daun adam hawa (Rhoeo discolor). Menyayat daun ini butuh keterampilan khusus buat mendapatkan hasil setipis mungkin. Salah-salah menyayat, jari bisa-bisa kesilet.

Kalau kata Pangeran Wortel, "F5, dulu..."

Sepanjang praktikum gue jarang mencoba mengamati lewat mikroskop. Beberapa kali mengamati dan make mikroskop, biar kelihatan ikutan kerja.

***

Selesai praktikum, aslab ngasih hasil pre-test. “Tenang aja, yang post-test cuma tiga orang kok.” Aslab itu membuka-buka lembaran kertas jawaban tadi. “Yang pre-test adalah...”

Meskipun cuma ngisi empat, gue masih bisa berharap untuk tuntas.

“... Robby.”

Ah elah.

***

Post-test sendiri ternyata tetap diuji oleh aslab, yang juga seorang mahasiswa. Gue dari awal sudah takut post-test bakal diuji dosen. Post-testnya berjalan dengan banyak ketawa. Ya, aslabnya yang ketawa. Gue mah gugup, karena banyak nggak taunya.

“Tadi kamu ikutan praktikum nggak?”

“Ikut, Kak.”

“Apa aja yang kamu amati?”

“Dinding sel. Udah, itu aja.”

“Masa nggak ada lagi?”

“Saya nggak tau nama-nama bagiannya, Kak.”

Abis bilang begitu, gue khawatir bakal dikasih surat pengembalian mahasiswa kembali ke SMA.

Ya, pokoknya pada akhirnya gue malu karena nggak ngerti-ngerti bagian di dalam sel. Padahal selama SMA udah sering diajarin.

Gue keluar laboratorium dengan lesu. Sedikit nyesel juga karena belajar kurang lama dan kurang pahamin semua materi. Tapi, dengan kejadian kayak begini gue punya peringatan buat diri sendiri. Di luar laboratorium, masih ada teman-teman yang tadi tuntas pre-test. Mereka semua ngasih ucapan semangat.

Oh, ternyata... mereka peduli. Silet di dalam kantong gue simpan baik-baik deh.


***

Pulang dari kampus, gue berniat untuk tidur di dalam bus. Gue tipikal orang yang mudah sedih, dan sedihnya mudah hilang setelah tidur. Jadi, untuk melepas rasa sedih ini gue ingin tidur di bus. Nggak apa deh walaupun nggak bisa nyenderin kepala ke bahu, dan kepala harus membentur kaca jendela terus-terusan, yang penting nggak sedih lagi.

Bus datang. Di dalamnya, tempat duduk tidak ada yang kosong. Terpaksa gue harus berdiri. Karena sudah diniatkan, gue malah benar-benar ngantuk. Sambil berdiri memegang hand grip, gue sempat tertidur. Untung gue cepat tersadar setelah bus ngerem mendadak. Nggak jadi deh tidur sambil berdiri. Tidur di tempat sembarangan boleh, posisi yang sembarangan jangan.

Setelah menunggu lama, akhirnya gue dapat tempat duduk yang kosong. Gue segera menyambar bangku kosong itu dan memejamkan mata. Nggak perlu waktu lama, gue langsung tertidur. Saat kesadaran gue berkurang, ada yang menepuk bahu gue. Gue tersadar. Aduh, kenapa ini? Gue melihat seisi bus. Cuma gue yang masih duduk.

“Mas, udah di tujuan terakhir, Mas.”

Gue langsung keluar bus. Juga, bangun dan keluar dari kegagalan praktikum pertama.

--
Sumber gambar:
https://twitter.com/idpatrickstar/status/263623501305495553
https://www.tripadvisor.co.uk/TravelersChoice-Beaches-cTop-g1
https://www.aryanto.id/artikel/id/651/mengenal-khasiat-dan-manfaat-daun-adam-hawa-bagi-kesehatan

Comments

  1. Kebiasaanmu mungkin berasal dari org jepang. Mereka tiap ada luang malah tidur tapi gak sampe nyenyak. Apa ya mereka nyebutnya itu yg kayak taichi2. Mungkin bisa dilihat kembali silsilah keluargamu Rob. Mungkin ada yg dari org jepang. Dan kebiasaannya menurun padamu dgn kearifan lokal.

    Tanaman adam dan hawa... jadi keinget pas pelajaran hidroponik. Gurunya bilang namaku diambil dari sana. Adam dan hawa. Rhoeo discolor. Ambil belakangnya aja dan digabung. Hawadiscolor. Karena di badan udah pake color, jadinya hawadis aja. :|

    Aku turut menguatkan aja lah... SEMANGAT ROOOOOOOBBBBB dalam menjalani tidurnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan-jangan... ada garis keturunan dari Naruto, nih. Hmmmm.

      Seh iya, bener juga itu namanya. Cocok juga cocokloginya. xD

      ... dan kuliahnya. Aamiin. Tidur emang perlu semangat ya? :(

      Delete
  2. hmm.. ekstrem ya ketidurannya dimana aja, udah semacam koala. Gue sih belum bpernah ketiduran di bus, kalau perjalanan panjang di pesawat atau kereta dengan tingkat kejahatan yang rendah sih mungkin2 aja :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, kayak koala. Kumal dong?

      Itu transportasi paling nyaman buat tidur sepanjang perjalanan.

      Delete
  3. sama sih dulu suka banget tidur, sekarang suka juga tapi ngga ada kesempatan huhu

    ReplyDelete
  4. Kalau waktu yang diberikan mepet begitu pas tes, otomatis otak bakal kebingungan, sih. Nggak tau kenapa jadi lebih fokus sama waktunya sisa berapa, bukan sisa soal yang mesti dijawab berapa. Jeleknya di situ kalau pola pikirnya akan waktu salah. :(

    Gue malah pernah diajarin pola tidur cepet sewaktu masih kuliah sambil kerja, entah itu apa namanya. Pokoknya tidur cuma 15-30 menit sehabis salat Zuhur dan makan siang. Pas bangun seger lagi udah kayak tidur 7 jam. Dan, itu seringnya dilakukan di masjid atau musala.

    Kalau di bus gue mah udah pasti tidur. Soalnya sering minum antimo. Hahaha. Lemah bener taek.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih merasa terdesak begitu daripada dapat pengawas UN yang mukanya galak. :(

      Bisa gitu ya? Gue jam segitu waktunya dipake makan. Laper seharian belajaf di kelas. :D

      Hem... Yoga si pemabuk. Ukhuk.

      Delete
  5. Gitu aja gak bisa? Cih. Lemah kamu Rob. *kabur naik buroq*

    Muahahahaha. *digampar*

    ReplyDelete
  6. Gue tipe orang paling males tidur sembarang. Gara2 insiden foto tidur gue tersebar, gue akhirnya fobia dengan tidur ditempat umum. Tangan2 tidak bertanggung jawab biasanya selalu ada. Waspadalah, waspadalah~

    ReplyDelete
  7. Saya termasuk yang punya talenta bisa tidur di mana saja. Tadi pagi ketiduran di lift, sambil berdiri, ikut naik-turun beberapa kali tanpa ada yang membangunkan sampai akhirnya ada teman ikut masuk lift dan bahu saya diguncang-guncang :))))))

    ReplyDelete
  8. ((SEBATANG PULPEN))

    HADUH KENAPA AKU BARU BACA INI SEKARANG SIK. WKAKAKAKAAK TAIK BANGET. HAHAHAHAHAHAHAK. AKU GIGITIN BIBIR NAHAN KETAWA NIH. ANJIR BANGET KITA SAMA BANGET FAAAAK. AKU JUGA ORANGNYA SUKA TIDUR SEMBARANGAN. APALAGI PAS JAMAN SEKOLAH TUH. HAHAHAHAHAHAHAHAHAK.

    Tidur di angkutan umum terus kelewatan tujuan, aku juga pernah. Waktu itu naik angkot bertiga terus dua temanku udah turun. Sisa aku. Terus aku ketiduran. Eh eh eh dibawa sampe ke terminal. Itupun aku bangun karena sopirnya ngebangunin aku nanya, "Dek, turunnya di mana?" Faaaaaak bangeeeet :(

    Oh iya, sepemikiran tuh. Cara termudah buat ngilangin sedih itu salah satunya dan seringnya yaitu dengan tidur. :')

    Aku curiga deh, Rob. Jangan-jangan kita ini kakak-adek yang terpisah ribuan kilometer? Hem...

    ReplyDelete
  9. gilaaaaa emang kelewatan 2 gang, eh tapi masih mending si daripada kelewatan 2 kecamatan :V

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca. Mari berbagi bersama di kolom komentar.

Popular posts from this blog

Berdasarkan Pengalaman: Tips Konsisten Menulis

Suatu hari saya iseng bikin question story di Instagram. Saya bikin question tentang “topik apa yang orang lain pengin baca di blog saya” . Biasa. Saya lagi bingung mau nulis tentang apa. Kehabisan ide. Di luar dugaan, jawabannya banyak. Banyak yang nggak nyambung. Ada yang minta follow back , ada yang dagang, ada yang “yuk kak cek IG kami”. Ada satu jawaban, tulisannya: "tips istiqomah menulis" . Nah, ini yang saya tunggu. Bisa jadi tulisan nih, kata saya dalam hati. Alhamdulillah, akhirnya ada bahan buat nulis. Saya mengartikan jawaban tersebut sebagai "tips konsisten menulis". Semoga nggak jauh-jauh artinya. Baca juga: Sumber Ide untuk Lancar Menulis Kepada Siapa Tulisan-tulisan Ini Ditujukan Sebelum bahas lebih jauh, harus diakui bahwa saya belum begitu konsisten dan rutin dalam menulis. Mungkin baru akhir-akhir ini, ketika pandemi covid-19 menyerang, saya jadi lebih sering nulis. Ketemu laptop terus soalnya. Sebenarnya, untuk tulisan...

Dilanku, Dilanmu, Dilan Kita Semua

Lemari buku saya semakin penuh. Untuk menguranginya, satu per satu saya jual. Saya nggak nyangka ada yang mau beli buku bekas milik saya. Dari hasil penjualan itu, alhamdulillah saya bisa beli makan di akhir bulan.  Seiring berjalannya waktu, ada dua hal yang saya sesali. Pertama, kenapa uang penjualan buku nggak saya tabung. Padahal ada sekitar 10 lebih buku sukses terjual dengan harga 25-30 ribu per buku. Kedua, saya nggak bisa hemat. Ya sudah, biarlah yang lalu telah terjadi. Nasi sudah menjadi nasi goreng. Baca juga: Pengalaman Berjualan Buku Buku yang Menghangatkan Rumah Meskipun beberapa buku sudah terjual, saya tetap membeli buku yang lain, bahkan sekarang lebih banyak dari sebelumnya. Saya jadi bingung. Niat saya jual buku biar buku di lemari saya berkurang.  Sekarang malah ditambah.  Gimana sih maunya saya. Melihat kondisi begini, terbersit dalam pikiran saya, “Buku ini harus tetap bermanfaat, tapi saya nggak mau kehilangan mereka, tapi ...

Gerilya Bersenjatakan Buku

Setelah Tepi Buku nggak berjalan lagi , saya masih tetap membaca; sebagaimana orang bodoh yang tak mau terus-terusan menjadi bodoh. Dari Tepi Buku, banyak hal yang membuat saya belajar arti kolaborasi. Sebagaimana istilah yang saya temui di buku Kolaborasi Kebaikan karya Mas Alfath Bagus; kolaborasi artinya menemukan titik temu di antara banyak perbedaan. Buku Presiden Mahasiswa (Presma) BEM KM UGM 2017 itu begitu menginspirasi saya dalam memaknai kolaborasi. Atau, mengutip perkataan seorang guru: berbeda itu pasti, bersatu itu keharusan. Saya nggak ingin mengklaim Tepi Buku adalah milik saya seorang. Bukan. Namun, semangat yang dibangun sejak awal amat saya rasakan berada dalam diri saya. Pasca nggak berjalannya Tepi Buku, kami berlima tetap berteman. Fahmi masih baik sama saya. Masih suka makan bareng juga. Semua kembali sediakala. Sekali pun dalam kondisi yang enak buat ngobrol, saya jadi agak sungkan buat melanjutkan Tepi Buku.  Biarlah berlalu, nggak usah dip...