Skip to main content

Backpackeran ke Lombok, Nggak Perlu Tunggu Low-Season Kalau Ada Bus AKAP

foto:img-o.okeinfo.net

Lombok itu jauh, apalagi dari tempat tinggal gue di Jakarta. Karena alasan ini, gue dan banyak orang yang berpikiran sama, jadi mikir-mikir beribu kali untuk backpacker-an ke Lombok, terutama lewat jalur darat. Karena perjalanan sangat panjang, ditambah dengan dua kali penyeberangan laut yang bakal menguji fisik dan kesabaran. Kamu setuju, kan, perjalanan darat itu melelahkan?

Untuk backpacker sejati, perjalanan jauh bukanlah halangan karena mereka memang terlahir untuk suka menghabiskan waktu menikmati perjalanan. Misalnya, kamu berangkat dari Jakarta menuju Lombok dengan bekal selembar tiket bus di tangan. Mampukah kamu menaklukkannya?

Jarak yang sangat jauh, sekitar 1.300 kilometer, itu bisa ditempuh dalam waktu 1 jam 50 menit dengan pesawat terbang. Namun, untuk backpacking dengan menggunakan bus kota, bersiaplah dengan petualangan duduk lebih dari 30 jam duduk di kursi penumpang bus. Karenanya, butuh lebih dari sekadar niat untuk bisa sampai ke salah satu pusat  kota di Nusa Tenggara Barat yang mempunyai daya tarik wisata eksotis ini. Harus banyak hal-hal yang disiapkan pokoknya.

Berikut ada beberapa tips dalam memilih waktu yang tepat untuk backpacking menuju Lombok dengan menggunakan jalur darat dengan naik bus.


Bukan saat Liburan


foto:trover.com


Satu hal yang wajib dicatat untuk pergi ke Lombok via jalur darat adalah pilih waktu perjalanan di luar musim liburan. Tujuannya biar kamu nggak terjebak macet berjam-jam di jalur-jalur yang rawan kemacetan, yang membuat waktu liburanmu terbuang percuma. Nggak mau, kan, kegiatan liburannya berubah jadi duduk di bus sambil macet-macetan?

Selain itu, kursi bus juga bakal lebih sepi karena nggak banyak "saingan" yang juga ingin pergi ke Lombok. Untuk kemudahan pembelian tiket bus, dan merasakan sensasi beli tiket bus "jaman now" sebaiknya beli online via aplikasi Traveloka aja. Iya, Traveloka kini juga melayani pembelian tiket bus, lho. Dari Jakarta, kamu bisa pilih perjalanan langsung menuju Lombok dengan PO Tiara Mas. Selain itu, beli tiket bus di Traveloka juga lebih menguntungkan karena cara pemesanan dan pembayaran yang mudah, bakal menambah semangatmu untuk backpacking! Kabar baiknya, ke depannya bakal semakin banyak PO yang bergabung. Jadi lebih banyak pilihan deh.


Saat Cuaca Sedang Bagus

foto:banyuwangibagus.com

Apalah artinya kalau perjalanan darat dihabiskan dengan gerimis di musim hujan? Selain nggak bisa lihat pemandangan dengan bebas karena kaca berembun, hawa di luar yang dingin, ditambah dengan angin dari AC bakal bikin temperatur di dalam kabin bis jauh lebih dingin. Wah, nggak asik kalau liburan malah menggigil kedinginan. Makanya, pilih perjalanan di musim kemarau biar petualanganmu lebih ceria dan penuh pengalaman.


Bukan di Akhir Tahun

foto:penamha.blogspot.com

Akhir tahun liburan ke Lombok naik bus? Waduh, sebaiknya lupakan saja kalau kamu nggak bisa menghadapi gelombang yang bikin mabuk laut. Bukan rahasia lagi kalau di setiap akhir tahun perairan di sekitar Bali selalu bergolak. Padahal, kalau naik bus berarti bakal menghadapi dua kali penyeberangan: dari Banyuwangi (Ketapang) ke Bali (Gilimanuk), dilanjut dari Bali (Padang Bai) menuju Lombok (Lembar). Siap nggak perutmu diguncang-guncang oleh ombak?

Liburan ke Lombok dengan bus memang nggak perlu menunggu low season, tapi pertimbangkan banyak hal, seperti faktor cuaca dan ramai-tidaknya kondisi lalu lintas. Pesan tiket bus untuk perjalanan di musim kemarau yang nggak terjebak liburan. Berangkatlah di hari kerja agar perjalanan lancar dan nggak sampai terjebak kemacetan, serta kondisi perairan Bali lebih bersahabat untuk diseberangi.

Selamat mencoba backpacker-an ke Lombok dengan meggunakan bus ya!

Comments

  1. kalau selama itu, gue bakalan lebih milih untuk menabung lebih lama supaya bisa kebeli tiket pesawat.
    pantat gue lemah kalau duduk selama itu. ditambah lagi kalau jalanannya macet.

    ReplyDelete
  2. perjalanan lama kalo rame-rame bareng temen biasanya ga kerasa capeknya, pas udah selesei sampe rumah lagi baru deh kerasa badan remuk redam ;D



    aplikasi barbershop indonesia

    ReplyDelete
  3. Woouw .. 30 jam dengan naik bus kesana ?.
    Jauh juga yaa ...
    Tapi sesampai disana,pasti terbayarkan semua kecapekan lama di perjalanan.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca. Mari berbagi bersama di kolom komentar.

Popular posts from this blog

Berdasarkan Pengalaman: Tips Konsisten Menulis

Suatu hari saya iseng bikin question story di Instagram. Saya bikin question tentang “topik apa yang orang lain pengin baca di blog saya” . Biasa. Saya lagi bingung mau nulis tentang apa. Kehabisan ide. Di luar dugaan, jawabannya banyak. Banyak yang nggak nyambung. Ada yang minta follow back , ada yang dagang, ada yang “yuk kak cek IG kami”. Ada satu jawaban, tulisannya: "tips istiqomah menulis" . Nah, ini yang saya tunggu. Bisa jadi tulisan nih, kata saya dalam hati. Alhamdulillah, akhirnya ada bahan buat nulis. Saya mengartikan jawaban tersebut sebagai "tips konsisten menulis". Semoga nggak jauh-jauh artinya. Baca juga: Sumber Ide untuk Lancar Menulis Kepada Siapa Tulisan-tulisan Ini Ditujukan Sebelum bahas lebih jauh, harus diakui bahwa saya belum begitu konsisten dan rutin dalam menulis. Mungkin baru akhir-akhir ini, ketika pandemi covid-19 menyerang, saya jadi lebih sering nulis. Ketemu laptop terus soalnya. Sebenarnya, untuk tulisan...

Memeluk Buku-buku yang Bertumpuk

Saya pernah berpikir, “Buku-buku di lemari ini, setelah saya meninggal, mau dibawa ke mana ya?” Sepertinya hanya akan tetap menumpuk. Ketika buku selesai dibaca, ia akan kembali bersama tumpukan buku yang lebih dahulu saya baca; selesai atau cuma sebagian.  Jujur, sampai saat ini, saya berobsesi pengin punya banyak buku. Andai dikasih kesempatan, saya mau punya perpustakaan sendiri di rumah, buku yang menghangatkan rumah . Minimal tempat baca untuk umum. Karena saya percaya prinsipnya: buku memang selesai di tumpukan, tapi isinya harus disebarkan. Saya nggak bisa senang sendirian karena baca buku. Orang lain harus tau isi dari apa yang saya baca, secara ide dan manfaat. Entah itu mereka yang membaca atau saya yang menceritakan.  Namun, ada kalanya saya nggak suka dengan tumpukan buku. Beberapa kali ini saya berpikir, mau ditaruh mana lagi nih kalau beli buku baru. Saya harus mengurangi sedikit tumpukan ini.  Salah satu caranya—pernah saya tulis di tulisan...

Gerilya Bersenjatakan Buku

Setelah Tepi Buku nggak berjalan lagi , saya masih tetap membaca; sebagaimana orang bodoh yang tak mau terus-terusan menjadi bodoh. Dari Tepi Buku, banyak hal yang membuat saya belajar arti kolaborasi. Sebagaimana istilah yang saya temui di buku Kolaborasi Kebaikan karya Mas Alfath Bagus; kolaborasi artinya menemukan titik temu di antara banyak perbedaan. Buku Presiden Mahasiswa (Presma) BEM KM UGM 2017 itu begitu menginspirasi saya dalam memaknai kolaborasi. Atau, mengutip perkataan seorang guru: berbeda itu pasti, bersatu itu keharusan. Saya nggak ingin mengklaim Tepi Buku adalah milik saya seorang. Bukan. Namun, semangat yang dibangun sejak awal amat saya rasakan berada dalam diri saya. Pasca nggak berjalannya Tepi Buku, kami berlima tetap berteman. Fahmi masih baik sama saya. Masih suka makan bareng juga. Semua kembali sediakala. Sekali pun dalam kondisi yang enak buat ngobrol, saya jadi agak sungkan buat melanjutkan Tepi Buku.  Biarlah berlalu, nggak usah dip...