Skip to main content

Jembatan Antara Cemas dan Tenang

Perasaan ini semakin menguat. Baru kali ini saya merasa secampur aduk ini.

Tentang rindu. Membuat saya bingung, cemas, sedih.

"Emang nggak kangen?" ujar wanita itu pada suatu malam.
"Kangen sih, tapi gimana lagi ya." Saya cuma senyum, berusaha mengobati momen-momen yang hilang di antara kami.

Bukan hal yang biasa bagi kami. Sudah terlalu lama kami tidak bertukar senyum. Saya hampir lupa rasanya deg-degan untuk mengawali cerita atau berkeluh kesah sejenak. Untuk hal sesederhana minum teh bareng, kami pun tak sempat. Terlalu sering saya meninggalkannya dengan senyum. Entah, rasanya seperti senyum yang berat karena harus menahan suatu beban.

Wanita itu adalah ibu saya.

Mungkin, kalau saya boleh membandingkan, lebih kangen lagi teman-teman saya yang berasal dari luar kota, yang jaraknya lebih jauh dari saya. Jarak rumah saya ke tempat menimba ilmu ini hanya 25 km. Naik bus Transjakarta, transit sekali, dilanjut naik angkot, jalan sebentar, sampai. Terbayang teman-teman saya yang asalnya dari luar Jawa. Harus menunggu berbulan-bulan untuk menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Saya, bahkan bisa setiap hari nginjek-nginjek tanah depan kontrakan.

Pertanyaannya, bagaimana mereka bisa sekuat itu menahan rindu?

Malam tak pernah sanggup memberi ruangnya untuk saya menuntaskan rindu. Selalu saja berakhir di kasur, tertidur, lalu paginya--hal yang sangat memberatkan--harus berangkat lagi.

Seorang kakak di kampus pernah berkata kepada saya, "Kalau kondisinya kita lagi jarang di rumah, pastiin kita tetap yakin. Allah yang jaga mereka (keluarga)."

Saya sedikit tenang. Apalagi setelah saya tahu, berkabar adalah obat dari rasa cemas itu sendiri. Saya akan dengan mudah bercerita tentang apa saja kesibukan di kampus dan beberapa kesulitannya. Alhamdulillah, dukungan dari mereka selalu menemani saya.

"Intinya, kamu yakin aja. Inget Allah. Jangan tinggalin salat. Kepercayaan ini jangan disalahgunakan buat melakukan hal-hal gak bermanfaat," nasihat ibu saya.


***

(Dalam rangka ingin mengisi blog sambil menumpangi bus Transjakarta rute TUGAS - Grogol)

Comments

  1. Jadi nulisnya pake hape apa laptop, Rob?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih pake hape nih. Doain segera punya laptop, Bang. :)

      Delete
  2. Hangat sekali tulisan ini. :3

    Saya juga suka diingetin begitu, sih. Ketika orang tua udah memercayakan anaknya nggak macam-macam, saya nggak mau mengecewakannya sekalipun beliau nggak tau. Tetep ada Allah Yang Maha Melihat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hangatan susu jahe di angkringan, Mas. Hehehe.

      Mantap. Membayar sebuah kepercayaan.

      Delete
  3. Pun saya begitu. Jarak rumah dengan kampus 2 jam perjalanan. Dulu ketika tahun 1-2, masih sering kangen.

    Sekali pernah ikut teman pulang ke rumahnya yang beda pulau. Saya tertegun. Ratusan kilo dia lewati, ratusan ribu juga yang dihabiskan untuk menghidu aroma rumah. Sedang saya hanya 2 jam yang mana bisa bolak-balik tiap minggu.

    Jadi semakin menghargai dan mensyukuri segalanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Kita masih bisa pergi-pulang dengan waktu dan biaya terjangkau.

      Delete
  4. Orang-orang yang merindu selalu diberi kekuatan lebih oleh-Nya, ya, sepertinya. :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca. Mari berbagi bersama di kolom komentar.

Popular posts from this blog

Sumber Ide untuk Lancar Menulis

Kok bisa sih, orang itu lancar menulis ? Sekali duduk, bisa ngetik berhalaman-halaman tulisan. Sumber idenya dari mana aja, ya? Gimana caranya ya biar lancar menulis kayak dia? sumber: freepik Saya suka bertanya-tanya tentang hal tersebut. Mungkin kamu juga menanyakan hal yang sama. Di sini insya Allah saya akan membagikan apa yang saya ketahui. Pada beberapa momen, saya bisa lancar sekali dalam menulis. Selama saya aktif menulis, rekor paling lancar adalah 10 halaman dalam waktu 3 jam! Fantastis buat saya pribadi. Wajar, saat itu saya sedang menggarap sebuah naskah. Kalau ingat masa-masa produktif itu, saya bingung dengan kondisi saat ini. Sekarang terasa lebih sulit untuk menulis. Inilah tujuannya...  Apa yang akan saya bagikan di tulisan ini akan menjadi pengingat bagi saya. Pengalaman Pribadi Pasti kita nggak asing dengan tugas pasca liburan ketika masa-masa sekolah. Ya, kan? Biasanya, pertama kali masuk sekolah setelah liburan, kita diminta nuli...

Tetap Produktif Walaupun #DiRumahAja

Tetap produktif walaupun #DiRumahAja jadi salah satu tekad saya menghadapi fenomena social distancing . Rugi banget kalau melakukan hal sia-sia pokoknya. Seperti yang dikatakan Rasulullah, “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaaat.” sumber: unsplash.com Sepekan terakhir ramai kampanye tagar #DiRumahAja . Tagar itu sebagai dukungan terhadap social distancing yang tujuannya mengurangi aktivitas di luar rumah . Sebelum lebih jauh, social distancing adalah strategi kesehatan publik untuk mencegah dan menghambat penyebaran virus. Caranya dengan menjaga jarak dengan mereka yang sedang sakit, termasuk menghadiri pertemuan dengan jumlah banyak seperti konser dan festival. Kebijakan tersebut, mengutip salah satu artikel di internet, adalah upaya untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit yang disebabkan virus corona . Banyak hal positif yang saya rasakan selama masa-masa social distancing ini. Saya, yang jarang di ru...

Maret 2025: Penantian Panjang dan Nikmat Ramadhan

Bulan Maret ini banyak banget hal yang mau ditulis. Ditambah sedang dalam bulan Ramadhan, nggak mungkin kekurangan cerita dari perjalanan ibadah di bulan suci ini.  Saat post ini ditulis, saya sedang berada di kampung. Ngetik di laptop, sambil mendengar suara alam, dan ditemani teh kemanisan yang mulai dingin. Rasanya bawa laptop ke kampung jadi keputusan yang tepat untuk tetap jaga ritme aktivitas. Ditambah lagi masih cukup luang waktu di kampung. Penantian Panjang Sejak mulai rutin merekap aktivitas bulanan di blog, saya sering menyebut tentang publikasi artikel. Akhirnya, setelah penantian tersebut, artikel saya terpublikasi. Silakan bagi yang berminat membaca Analysis of Students Scientific Literacy in Integrated Acid-Base Learning Socioscientific Issues Kalau ditanya bagaimana perasaannya, yang pasti senang banget! Karena ini akan membuka peluang untuk publikasi artikel-artikel berikutnya. Semoga rasa semangat itu terus hadir. Dan yang paling penting, tulisan saya bisa membawa...