Skip to main content

Always Listening, Always Understanding

Petang itu perut saya terasa menggelitik. Sedari pagi belum ada apa pun yang masuk ke kerongkongan. Botol minum kesayangan lupa diisi dari rumah. Uang... punya, sih. Rasanya capek banget buat ke mana-mana. Jadi males beli makanan atau minuman. Alhamdulillah, berkat air dari seorang teman kuliah kerongkongan saya basah kembali. Tegukan pertama sejak fajar.

Ingin sekali mulut ini mengunyah sesuatu. Kayaknya ini nih, tanda-tanda kalau manusia nggak ada puasnya. Melihat benda-benda sekitar rasanya nggak mungkin ada yang bisa dimakan: karpet, kertas, dan batu. Dua teman saya sedang sibuk menuliskan kalimat di sticky notes warna warni. “Kalian masih punya makanan nggak?” tanya saya.

“Nggak ada,” jawab mereka bersahutan.

“Hmmm oke.”

Saya membayangkan, saya melangkah pergi keluar masjid untuk mencari makanan. Tinggal pilih. Uang lagi cukup-cukupnya. Namun, kok tubuh ini berat untuk melangkah? Mungkin nanti sembari di perjalanan pulang saya bisa beli sedikit makanan, batin saya.

Untuk sementara ini...

“Minta air lagi ya.”

***

“Nih, ada titipan,” teman saya yang lain datang membawa sebungkus gorengan, lalu pamit pergi, “duluan ya.”

Alhamdulillah. Saya adalah orang pertama yang mengambil gorengan tersebut. Saking laparnya. “Eh, makan nih,” kata saya mengajak dua teman yang sedang sibuk menulis.

Salah satu dari mereka ikut mengambil. Berbarengan ketika tangannya menyambar gorengan, saya refleks bilang, “Allah baik banget ya.”

Teman saya tadi cuma tersenyum. “Iya ya.” Sepertinya dia sadar dan tau ke mana arah pembicaraan yang saya maksud. Belum juga bibir saya kering bicara makanan dan tubuh merasa malas bergerak, saat itu juga Allah jawab dengan sebungkus gorengan lewat perantara seorang teman.

Kadang hal-hal seperti ini yang membuat malu. “Allah udah sebaik ini, kita udah ngelakuin apa aja ya?” kata saya. Teman saya hanya mengangguk-angguk, lalu menggigit Masih merasa belum pantes dikasih. Tapi, kalau udah begini, udah terus-terusan dikasih...

mungkin inilah saatnya untuk mikir, dan berubah.

Comments

  1. Masyallah, tulisan yang sangat menginspiratif di pagi ini. Memang nih, kita udah banyak dikasih rejeki, tapi enggak mau bersyukur atas rejeki tersebut. Sampai-sampai kita suka lalai untuk beribadah

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah :)). Allah selalu mendengarkan dan tau apa yg dibutuhkan hamba-Nya :)

    ReplyDelete
  3. kok ga sadar ya tiba-tiba netes air mata ._.. Semoga terus semangat menyebar hikmah gini yaaaa

    ReplyDelete
  4. Woow... Mantaps gan, terimakasih banyak sudah berbagi gan, terus berkembang gan...

    livechat s128
    s128 livechat
    livechat sabung ayam s128

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca. Mari berbagi bersama di kolom komentar.

Popular posts from this blog

Berdasarkan Pengalaman: Tips Konsisten Menulis

Suatu hari saya iseng bikin question story di Instagram. Saya bikin question tentang “topik apa yang orang lain pengin baca di blog saya” . Biasa. Saya lagi bingung mau nulis tentang apa. Kehabisan ide. Di luar dugaan, jawabannya banyak. Banyak yang nggak nyambung. Ada yang minta follow back , ada yang dagang, ada yang “yuk kak cek IG kami”. Ada satu jawaban, tulisannya: "tips istiqomah menulis" . Nah, ini yang saya tunggu. Bisa jadi tulisan nih, kata saya dalam hati. Alhamdulillah, akhirnya ada bahan buat nulis. Saya mengartikan jawaban tersebut sebagai "tips konsisten menulis". Semoga nggak jauh-jauh artinya. Baca juga: Sumber Ide untuk Lancar Menulis Kepada Siapa Tulisan-tulisan Ini Ditujukan Sebelum bahas lebih jauh, harus diakui bahwa saya belum begitu konsisten dan rutin dalam menulis. Mungkin baru akhir-akhir ini, ketika pandemi covid-19 menyerang, saya jadi lebih sering nulis. Ketemu laptop terus soalnya. Sebenarnya, untuk tulisan...

Gerilya Bersenjatakan Buku

Setelah Tepi Buku nggak berjalan lagi , saya masih tetap membaca; sebagaimana orang bodoh yang tak mau terus-terusan menjadi bodoh. Dari Tepi Buku, banyak hal yang membuat saya belajar arti kolaborasi. Sebagaimana istilah yang saya temui di buku Kolaborasi Kebaikan karya Mas Alfath Bagus; kolaborasi artinya menemukan titik temu di antara banyak perbedaan. Buku Presiden Mahasiswa (Presma) BEM KM UGM 2017 itu begitu menginspirasi saya dalam memaknai kolaborasi. Atau, mengutip perkataan seorang guru: berbeda itu pasti, bersatu itu keharusan. Saya nggak ingin mengklaim Tepi Buku adalah milik saya seorang. Bukan. Namun, semangat yang dibangun sejak awal amat saya rasakan berada dalam diri saya. Pasca nggak berjalannya Tepi Buku, kami berlima tetap berteman. Fahmi masih baik sama saya. Masih suka makan bareng juga. Semua kembali sediakala. Sekali pun dalam kondisi yang enak buat ngobrol, saya jadi agak sungkan buat melanjutkan Tepi Buku.  Biarlah berlalu, nggak usah dip...

Memeluk Buku-buku yang Bertumpuk

Saya pernah berpikir, “Buku-buku di lemari ini, setelah saya meninggal, mau dibawa ke mana ya?” Sepertinya hanya akan tetap menumpuk. Ketika buku selesai dibaca, ia akan kembali bersama tumpukan buku yang lebih dahulu saya baca; selesai atau cuma sebagian.  Jujur, sampai saat ini, saya berobsesi pengin punya banyak buku. Andai dikasih kesempatan, saya mau punya perpustakaan sendiri di rumah, buku yang menghangatkan rumah . Minimal tempat baca untuk umum. Karena saya percaya prinsipnya: buku memang selesai di tumpukan, tapi isinya harus disebarkan. Saya nggak bisa senang sendirian karena baca buku. Orang lain harus tau isi dari apa yang saya baca, secara ide dan manfaat. Entah itu mereka yang membaca atau saya yang menceritakan.  Namun, ada kalanya saya nggak suka dengan tumpukan buku. Beberapa kali ini saya berpikir, mau ditaruh mana lagi nih kalau beli buku baru. Saya harus mengurangi sedikit tumpukan ini.  Salah satu caranya—pernah saya tulis di tulisan...