Skip to main content

Pengalaman Berjualan Buku

Sudah saya sadari sejak lama bahwa lemari buku saya semakin penuh dari tahun ke tahun. Terhitung sejak kelas 9 SMP, diawali dengan memiliki buku Marmut Merah Jambu-nya Raditya Dika, hingga kini buku saya sudah mencapai puluhan jumlahnya. Memang belum sampai 40, tapi rasanya sudah saatnya saya harus menyikapi hal ini. Buku-buku itu kebanyakan hanya dibaca sekali (kecuali buku-buku Raditya Dika yang rata-rata minimal 3 kali baca ulang). Mereka berbaris rapi menempati lemari. Lemari saya kepenuhan.

Terinspirasi dari seorang blogger, saya memberanikan diri menjual buku-buku saya. Saya upload ke Tokopedia semua buku yang sudah lama tidak dibaca, dibaca cuma sekali, atau nggak ada keinginan lagi untuk membacanya ulang. Dapat dipastikan, dengan kriteria seperti itu, buku-buku Raditya Dika nggak saya upload. Sayang banget waktu itu (sekarang sudah masuk ke toko virtual saya di sana).
Awalnya saya ragu. Apa iya ada yang mau beli? Kalaupun ada, nunggu sampai kapan? Namanya anak baru, maunya cepet-cepet laku aja.

Dengan kesabaran akhirnya berbuah hasil. Buku koleksi saya yang pertama kali terjual adalah Dilan 1990. Buku yang belum lama sebelum dijual saya tamatkan itu saya banderol Rp30.000. Saya senang bukan main. Dunia seperti mudah. Nyari uang semenyenangkan ini. Barulah beberapa bulan kemudian terasa. "Si anak baru" itu akhirnya tahu bahwa nyari uang terasa sulit.

Toko saya nggak sepi banget, tapi belum bisa dikatakan ramai. Beberapa kali ada yang mengirim pesan nanya kesediaan stok. Kalau udah begini, hati saya langsung merah jambu. Gampang banget seneng kayaknya selama mencoba jualan buku. Sebagai pelayan yang baik, saya balas pesan itu dengan super cepat. Sampai akhirnya, saya tunggu hingga beberapa hari, buku itu nggak kunjung pindah dari lemari saya. Alias nggak jadi beli. Semoga rasanya nggak kayak di-PHP-in.

Lama kelamaan buku saya satu per satu berkurang. Meskipun bukan menjadi ladang mencari uang yang utama, tapi kegiatan ini membuat saya bahagia. Satu hal yang terpikirkan adalah kalau semua buku di lemari sudah abis, saya mau jual buku siapa lagi? Sudah kepalang tanggung senang, sayang kalau nggak dilanjutkan. Akhirnya saya memutuskan mengambil sedikit tabungan untuk membeli buku-buku murah untuk dijual kembali. Buku-buku itu saya dapatkan dari cuci gudang Gramedia. Tentunya dengan insting dan riset yang sudah dilakukan sebelumnya, saya memilih buku yang sekiranya masih laku di pasaran.

Cara ini berbuah hasil. Beberapa kali buku yang saya beli dapat terjual kembali. Saya semakin bahagia, walaupun buku-buku di lemari malah jadi tambah banyak. Namun, kondisi inilah justru yang membuat saya termotivasi: kalau mau punya toko buku, harus akrab dengan banyak buku. Buku-buku saya yang belum laku malah terlihat seperti perpustkaan di rumah. Satu impian saya ketika punya rumah sendiri kelak.

Saking banyaknya buku-buku itu, beberapa buku yang masih disegel kadang akhirnya saya buka sendiri karena geregetan buku yang sedang saya baca sudah selesai. Justru kadang saya suka tertawa sendiri membayangkannya. Ibarat warung sembako, saya adalah penikmat beras yang saya jual sendiri.

Berdekatan dengan sesuatu yang kita suka adalah hal yang membahagiakan bagi saya. Dari berjualan buku, wawasan saya akan judul buku semakin bertambah. Meskipun belum sampai tahap menseriusi kegiatan ini, saya cukup bahagia menjalaninya.

Pengalaman saya masih terlalu singkat. Toh, baru setahun saya memulai ini. Barangkali pembaca tulisan ini punya cerita serupa, bisa dibagikan di kolom komentar.

Atau mau pesan bukunya sekalian, kak? Hehehe.

Comments

  1. Nggak tega kalau di jual, soalnya masih sedikit koleksinya.

    Mantep dah pengalamannya, boleh lah diajarin analisis pasarnya hihi

    ReplyDelete
  2. Gue juga jualan buku di toped, wkwkwk. Susah lakunya emang. Ini lagi mikir buat jualan ginjal aja.

    ReplyDelete
  3. Kalau ga kenal, "sist, masih ada ga stoknya?"

    Hmmm.

    I feel you. Ketika ada nomor tidak dikenal mengirimkan pesan. Wah mau beli yang mana, berapa, COD atau transfer ya?

    Kita beda hal yang dijual sih. Tapi dalam ranah ini, sama-sama penjual yang sayang pembeli. Hehe.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca. Mari berbagi bersama di kolom komentar.

Popular posts from this blog

Maret 2025: Penantian Panjang dan Nikmat Ramadhan

Bulan Maret ini banyak banget hal yang mau ditulis. Ditambah sedang dalam bulan Ramadhan, nggak mungkin kekurangan cerita dari perjalanan ibadah di bulan suci ini.  Saat post ini ditulis, saya sedang berada di kampung. Ngetik di laptop, sambil mendengar suara alam, dan ditemani teh kemanisan yang mulai dingin. Rasanya bawa laptop ke kampung jadi keputusan yang tepat untuk tetap jaga ritme aktivitas. Ditambah lagi masih cukup luang waktu di kampung. Penantian Panjang Sejak mulai rutin merekap aktivitas bulanan di blog, saya sering menyebut tentang publikasi artikel. Akhirnya, setelah penantian tersebut, artikel saya terpublikasi. Silakan bagi yang berminat membaca Analysis of Students Scientific Literacy in Integrated Acid-Base Learning Socioscientific Issues Kalau ditanya bagaimana perasaannya, yang pasti senang banget! Karena ini akan membuka peluang untuk publikasi artikel-artikel berikutnya. Semoga rasa semangat itu terus hadir. Dan yang paling penting, tulisan saya bisa membawa...

Januari 2025: Kembali Seperti Masa Kuliah

Satu bulan lepas dari domain .com di blog ini ternyata tidak banyak perbedaan yang berarti dalam hidup saya. Salah satu alasannya memang karena beberapa tahun terakhir saya sudah kurang serius mengelola blog ini. Jadi, menurut saya, domain .com belum menjadi kebutuhan utama saat ini, sehingga ketika tidak melanjutkan perpanjangan waktu semuanya jadi biasa saja. Cukup menjadi kenangan 10 tahun bersama.  Sekarang mari kita memulai dengan santai dan tanpa beban.  Tahun 2025 ini saya berencana untuk punya rekap aktivitas setiap bulan. Sebetulnya saya punya file khusus tentang ini Google Drive melalui Spreadsheets. Namun, hanya tulisan singkat saja yang dapat jadi pemantik untuk saya tuang lebih banyak di blog. Lagi-lagi, ini adalah salah satu cara untuk mengembalikan semangat diary online yang menjadi identitas blog ini sejak saya SMA. Semoga ini jadi cara untuk merekam sedikit ingatan, mengembalikannya di masa depan, dan upaya tetap terhubung dengan rekanan yang lebih luas. Oke,...

Februari 2025 : Datang dari Pondok Cabe, Mengunjungi Bandung, Kelaparan di Salemba

Bulan Februari terasa lama sekali buat saya. Setiap hari bolak-balik buka web jurnal dan email, menanti kapan artikel saya di-submit. Saking nggak sabarnya punya artikel ilmiah perdana. Langsung saja, beberapa potongan tulisan saya di bulan Februari yang tercatat. Kedatangan Banyak Buku Awal bulan Februari saya selesai registrasi mata kuliah, yang mana berbarengan dengan pemesanan buku mata kuliah. Untuk yang belum tahu, saat ini saya sedang berkuliah S1 (lagi) di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Terbuka. Total di semester ini saya ambil 6 mata kuliah dengan total 18 sks.  Ketika paket datang, saya antusias luar biasa. Sayangnya saya lupa memfoto sebelum unboxing . Bagaimana perasaannya setelah membuka paket tersebut? Tentu bahagia!  Sekaligus... serius ini tebel-tebel banget, ya Allah. Kalau semua buku ditumpuk, tingginya setara dua bantal di rumah. Sebetulnya banyak pengalaman baru dan menarik buat saya pribadi selama persiapan menjadi mahasiswa UT. Kalau ada waktu dan ke...