Skip to main content

Posts

Teman yang Jauh Jaraknya

Gue sebenarnya introvert. Eh, sebentar.... Apakah orang-orang introvert itu ngaku dirinya introvert? Kata orang, introvert itu malu buat nunjukin siapa dirinya. Apakah karakternya itu benar-benar layak disebut sebagai introvert? Halah, ini pembukaan malah bikin diri sendiri bingung. Lewatin aja, lewatin. Apa ya, cara nyebutnya? Mungkin gue lebih pantas disebut textrovert : orang-orang yang bawel di ketikan. Di antara sela-sela keyboard, banyak banget omongan yang mau gue sampaikan. Dari ketikan pula, gue sedikit-sedikit bisa menjadi orang yang keluar dari zona lama gue sebagai anak yang pendiam . Namun, beberapa kondisi membuat gue tetap menjadi seorang pendiam kembali. Misalnya, kalau lagi ziarah. YA MASA GUE HARUS ORASI! Dari ketikan, gue belajar gimana caranya kenalan. Sewaktu main Omegle, gue suka banget nyapa orang duluan. Begini: “Hi.” “Hi.” “Asl.” Iya, sih. Nggak bakal kepake juga di dunia nyata “asl” itu. Bukan di Omegle mungkin yang kultur kenalan pake “as...

Potret Kehidupan Pagi

Untuk masa-masa seperti sekarang, gairah dan semangat sedang tinggi-tingginya, momen yang gue suka adalah waktu antara Subuh hingga matahari mulai terbit. Dibanding sore yang menenangkan—tentunya diiringi lagu-lagu Payung Teduh, gue menyukai pagi karena memberikan rasa semangat. Mungkin nggak hanya gue yang menyukai pagi. Orang-orang yang bekerja pun suka. Meskipun dalam benaknya, entahlah, sedikit muncul pikiran, “Yah elah, udah pagi lagi. Waktu terasa pendek.” Sebagai orang yang sering memulai hari dari pagi-pagi gelap, gue bisa melihat manusia dan interaksinya lebih banyak dibanding orang-orang yang bangun siang. Pemandangan “lomba lari di jembatan penyeberang orang (JPO)” sudah biasa gue lihat, bahkan gue suka “nantang” diri sendiri buat ngebalap siapa aja yang ada di depan gue. Mirip kayak Viru Sahastrebuddhe, dosen killer  di film 3 Idiots yang nggak pernah mau ada yang ngedahuluin dia. Pokoknya harus selalu terdepan. Lalu di tangga JPO. Seringkali gue ngelihat dua ...

Namanya Juga Belajar

Halo, apa kabar? Gue kangen membuka postingan seperti itu. Hal yang sama sebelumnya dikatakan Yoga Akbar di grup WhatsApp WIRDY . Setelah gue sadari, apakah perubahan ini menuju ke arah bagus atau jelek? Nggak tau deh. Gue juga kangen membuka postingan dengan bilang, "aduh mau cerita banyak nih. Kalau kalian nggak mau baca lama-lama mending close tab aja". Makin ke sini gue nggak pernah bilang-bilang dulu kalau mau cerita panjang. Gue juga kangen, memulai cerita dengan paragraf yang gak penting dulu. Nah, sekarang gue mulai cerita. Tapi mulai dari mana? Oh iya, bagian "bingung mau mulai dari mana" termasuk hal yang gue kangenin. Begini... Gue nggak pernah ikut OSIS. Namun, gue pernah ikut LDKS--yang biasanya jadi syarat masuk OSIS. Kelanjutannya gimana? Ya, tentu gue nggak lolos seleksi OSIS setelah LDKS. Waktu itu, kelas 7, gue cuma nulis nama dan ekskul yang gue ikuti. Semua orang di kelas pun melakukan hal yang sama. Beberapa hari kemudian,...

Rencana Cadangan Kuliah

Kata orang-orang bijak, sebuah rencana harus punya rencana cadangan biar seandainya gagal masih punya harapan. Begitu juga dengan memilih jurusan kuliah, yang nggak ada habis-habisnya disampaikan guru BK di kelas, “Kamu boleh fokus dengan satu jurusan. Tapi, nggak kalah penting buat punya rencana cadangan.” Begitu kira-kira yang dibilang. Mengenai mencari rencana cadangan kuliah, gue masih bingung mau kuliah di jurusan apa selain Pendidikan Kimia. Jurusan itu masih jadi satu-satunya yang gue yakin bakal meraihnya. Tapi, kalau semuanya gagal, gue harus bagaimana? Setiap kali melihat grup-grup sharing tentang masuk kuliah, banyak banget orang yang cerita tentang kegagalannya berkali-kali buat masuk PTN. Rasa takut mulai menghantui gue. Apalagi setelah tau kalau gue nggak dapat jatah kuota jalur undangan . Disuruh SBMPTN.  Saya sudah mencoba SBMPTN (tes tulis) tahun kemarin. Hasilnya gagal. Saya pernah coba jalur undangan gagal juga. Ini tahun terakhir saya punya kesempatan...

Bersahabat dengan Tumbuhan

Gue melihat tumbuhan sebagai makhluk yang menyenangkan. Dibanding memelihara hewan, gue lebih jago dalam merawat tumbuhan. Dapat dilihat dari track record , selama memelihara hewan gue lebih sering nyiksa dibanding merawat. Tetangga gue juga bilang begitu. Dia seringkali mergokin gue sedang nyirem tanaman. Bukan, bukan disiram pake gula merah. Itu mah serabi. Yang ini disiram pakai air sumur. Seorang tetangga bilang ke Mama sambil memerhatikan gue menyiram tanaman. “Robby ini seneng ngerawat tanaman, ya.” Mama gue cuma mengiyakan. “Ya, begitu deh.” “Nanti kuliah nya di pertanian aja, tuh. Bagus.” Waktu itu gue masih kelas 4 SD. Mendengar saran itu dari tetangga, jelas gue sedikit senang sekaligus gondok. Cita-cita gue mau jadi pemain bola! Belakangan cita-cita itu pudar setelah ngelihat teman yang setiap kali main bola mimisan kegebok bola. Meskipun nggak bisa gerak ke sana kemari seperti hewan, bagi gue, tumbuhan memberi kesan meneduhkan. Mungkin itu juga ala...

Minta Ongkos Pulang

Meskipun gue nggak terlalu suka dengan fitur timeline yang ada di Line, gue beberapa kali membukanya untuk sekadar baca-baca artikel dari official account atau status dari teman-teman. Status yang di-like teman pun ikut-ikutan muncul di timeline sehingga mau nggak mau ikutan kebaca. Bagus kalau yang muncul kontennya menarik. Bagaimana kalau sebaliknya? Berarti, kalau begini jadinya, siasatnya adalah: selamat pilih-pilih teman. Gue terpikirkan dua jenis tulisan berbentuk curhat yang sering muncul di timeline Line. Entah kenapa, curhat ini kebanyakan ditulis oleh akun dengan foto atau nama perempuan. Jenis post itu adalah: 1) Post pelecehan seksual dan 2) Post cerita orang asing minta uang. Untuk yang pertama, gue jarang baca sampai selesai karena baru sampai pertengahan atau saat bagian konflik, gue ngilu bacanya. Untuk contoh yang kedua, gue beberapa kali nggak terlalu permasalahin. Cuma ada orang tua, entah pura-pura atau sungguhan, minta uang. Jadi, cerita lengkapnya kira-...

Tentang Tidur dan Bangun

“Lihat ke depan deh.” “Ibunya tidur?” tanya gue menunjuk seorang guru. “Iya.” Teman gue mengangguk. “Kata mama gue, orang yang capek bisa tidur di mana aja kalau ada kesempatannya.” Percakapan itu kira-kira membentuk sebuah pola pikir baru di kepala gue: Sibuk artinya bisa tidur di mana saja. Seandainya gue seperti ibu guru tadi, orang-orang ngelihat gue penuh rasa kagum, dan pasti mengira gue adalah orang sibuk ketika melihat gue tertidur di emperan toko, sekaligus bakal melapor satpol pp. Pola pikir itu akhirnya benar-benar terwujud saat SMA. Sudah beberapa kali gue menceritakan di blog kalau gue sering tidur tidak hanya di kasur rumah saja. Sekadar mengingatkan kembali, sewaktu SMA gue sering tidur di angkot, di masjid, di bangku yang dipepetkan, dan di lantai beralaskan jaket. Bangun-bangun langsung terasa kayak dilumurin ulet bulu. Gatel. Gue pernah merenungi suatu hal tentang kebiasaan itu. Rasanya gue sering banget tidur sewaktu SMA. Harusnya, sesuai dengan pola pikir...