Skip to main content

Posts

Memberi Tak Pernah Merugi

Ramadan nggak pernah kehabisan cerita tentang orang-orang yang berbuat kebaikan. Bagaimana nggak, di bulan ini setiap kebaikan akan dibalas berlipat-lipat ganda. Setiap orang yang sadar hal itu akan berlomba-lomba memberikan hal terbaik dalam dirinya.  Kalau dalam diri masih muncul pertanyaan "bisa kasih apa?" sedangkan diri tak punya apa-apa, Ramadan tahun ini saya belajar itu langsung dari rumah. Beberapa pekan terakhir kondisi ekonomi keluarga kami hampir dikatakan pas-pasan. Bapak sudah cukup lama dirumahkan. Meski begitu, dalam tempo waktu tak tentu bapak tetap dapat sebagian gaji. Namun, gaji yang didapat nggak sebanding saat masih aktif bekerja. Kadangkala terungkap keluhan di rumah karena pengeluaran tetap, tetapi pemasukan menurun.  Momentum bulan Ramadhan dimanfaatkan hadir. Muncul sebuah usaha dari ibu saya untuk berjualan menu berbuka puasa. Lumayan, buat nambah-nambah kebutuhan sehari-hari, ujarnya.  Mengetahui hal tersebut, ekspektasi saya terlanjur tinggi. ...

Model-model Pengembangan Pembelajaran

Model ASSURE Model ASSURE difokuskan pada perencanaan pembelajaran di dalam kelas secara aktual. Langkah-langkah dalam model ASSURE: Melakukan analisis karakteristik siswa ( analyze learner characteristics ) Menetapkan tujuan pembelajaran ( state objectives ) Memilih media, metode pembelajaran, dan bahan ajar ( select, modify, or design materials ) Memanfaatkan bahan ajar ( utilize materials ) Melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran ( require learner response ) Mengevaluasi dan merevisi program pembelajaran ( evaluation ) Kelebihan dari model ASSURE adalah dapat dikembangkan sendiri oleh pengajar, komponen pembelajaran lengkap, dan peserta didik dilibatkan dalam persiapan.  Model ADDIE ADDIE merupakan model pembelajaran yang memperlihatkan tahapan-tahapan sederhana. Tahapan dari model ADDIE ada lima tahap, yaitu analysis , design , development , implementation , dan evaluation . Implementasi dari model ini dilakukan secara sistematik dan sistemik. Kekurangan dari model ini ada...

Perkara Lisan

Sejak tahu fitur Whatsapp Story, ibu saya jadi tahu kabar-kabar saudara di kampung. Setelah dipikir-pikir, beliau mirip dengan saya; menjadikan fitur story di medsos sebagai cara mengetahui keadaan seseorang. Lain kali akan saya bahas lebih jauh. Kembali ke topik. Belum lama, ketika siang hari tengah bersantai, ibu saya memperlihatkan handphone -nya, menunjukkan story pernikahan keponakannya. "Liat nih By, mbak yang di kampung nikah." Saya manggut-manggut ikut bahagia. Mbak yang dimaksud memang usianya tak terlalu jauh dengan saya. Jadilah saya makin sadar... bahwa saya semakin tua. Lain waktu, ibu saya menunjukkan foto bayi. Kali ini keponakannya yang lain baru saja melahirkan. Berkali-kali storynya dilihat dan di- zoom . Ibu saya ikut bahagia meskipun hanya melihat di handphone -nya. Saya sangat semakin sadar bahwa saya semakin tua. Belum lama ini, beliau menunjukkan lagi story yang dilihatnya. Datangnya lagi-lagi dari keponakan yang berbeda dari dua sebelumnya. "Ni...

Kemampuan yang Dibutuhkan pada Budaya Baru Media

(Rangkuman artikel berjudul "Confronting the Challenges of Participatory Culture: Media Education for the 21st Century" )  Banyak anak muda yang belajar memanfaatkan teknologi dengan maksimal. Pada bagian awal bab, disebutkan beberapa contoh anak muda yang mengembangkan keterampilan dan pengetahuan melalui internet. Sebut saja, Heather Lawver, seorang pemuda berusia 14 tahun. Lawver membuat publikasi daring berupa koran sekolah untuk Hogwarts, sebuah sekolah dalam buku Harry Potter. Blake Ross pernah bekerja paruh waktu di Netscape. Rasa tidak nyaman di perusahaannya itu membuat Ross mengembangkan dan merancang media peramban miliknya sendiri. Dengan berbekal pengalaman dan keterampilan, serta bantuan relawan, terciptalah Firefox yang kini sangat populer. Keterlibatan pemuda dalam dunia internet sangat besar. Hadirnya internet memudahkan akses untuk mendapatkan sesuatu. Hasil penelitian Internet dan American Life pada tahun 2005 menyatakan bahwa lebih dari setengah dari semua...

Memaknai Pilihan-Pilihan Hidup

Hidup menawarkan banyak pilihan. Setiap harinya, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Pilihan-pilihan nggak pernah berhenti hadir di hadapan kita. Selesai mengambil satu keputusan, di depan sana ada pilihan-pilihan yang siap menanti. Selesai belajar, kita mau apa: tidur, main game , atau makan sebagai “ self-reward ”. Belum lama saya nonton video Raditya Dika terkait pilihan-pilihan dalam hidup. Di video tersebut, Bang Radit menjelaskan tentang opportunity cost . Hal tersebut, kata beliau, sebenarnya merupakan sebuah materi ilmu ekonomi yang dia dapat semasa kuliahnya. Mengutip dari Wikipedia, Opportunity cost , atau biaya kesempatan adalah biaya yang dikeluarkan seseorang atau institusi ketika memilih suatu kegiatan. Di luar dari itu, Bang Radit menerapkannya pada kehidupan. “Setiap pilihan yang kita ambil, ada keuntungan yang hilang. Karena tidak mengambil alternatif lainnya.” Contohnya, ketika ada sebuah lahan usaha, kita memilih untuk menjadikan tempat tersebut sebagai warnet...

Merasakan Quarter Life Crisis

Akhirnya saya mengerti apa yang disebut orang-orang sebagai quarter life crisis . Semula saya nggak mengerti apa sebutannya. Namun, beberapa hari yang lalu, ketika ngobrol dengan seorang senior, saya nyeplos kata-kata itu untuk mendefinisikan ciri-ciri yang beliau sebutkan.  Perasaan merasa gagal, merasa bingung akan masa depan, dan perasaan yang membuat diri seseorang stagnan. Ya, begitu kira-kira yang saya pahami. Ternyata hal ini adalah perasaan yang wajar dan, bisa jadi, dirasakan banyak orang. Kalau lagi lesu dan lemah semangat, kadang-kadang perasaan itu muncul merongrong saya yang berada di usia awal 20. Baca juga: Pemuda Keren dan Berwibawa Enggan Kembali pada Masa Lalu Ada sebuah pandangan kalau orang ikut organisasi punya nasib akademik yang buruk. Nggak semua, tapi ada saja yang begitu. Saya termasuk yang akademiknya biasa saja, cenderung menengah ke bawah kalau dari segi prestasi. Namun, saya sering merasakan gejala QLC ketika melihat fenomena-fenomena dari akademik say...

Perjalanan Ngeblog Tahun 2020

Memasuki akhir tahun, selama aktif di dunia organisasi, saya jadi akrab sama istilah evaluasi. Hari-hari kita bakal diisi dengan pertanyaan, “Apa yang jadi kekurangan di periode kita ya?”  Dan, ya... izinkan kali ini saya mengevaluasi diri, khususnya tentang blog, dan menuangkannya di blog tercinta—yang baru aja memperpanjang domain yang kelima kalinya. Asek~  Sebetulnya lebih pengin bikin tulisan ala-ala kaleidoskop gitu untuk kali ini. Oke, mari kita lihat akan jadi apa. Pada tahun 2020 saya mengganti template blog—seperti yang dilihat saat ini. Bagi teman-teman yang sering mampir ke sini, pasti tahu saya termasuk orang yang suka ganti-ganti tampilan blog. Alasannya, karena ngelihat tampilan orang lain, “Kok enak ya dipandangnya?” Akhirnya ganti template . Nggak macam-macam, bagi saya, yang penting tampilannya responsive itu sudah cukup. Selebihnya belum belajar lagi.  Selain template, blog saya pun berganti judul menjadi “Diary Refleksiku”. Sebuah plesetan dari salah ...