Skip to main content

Destinasi Wisata Menarik di Magelang, Sangat Cantik dan Menarik!

sumber:instagram.com/ilookisee - Sunrise di Punthuk Setumbu 
Setiap pulang ke kampung halaman Bapak, gue selalu bertanya-tanya kota-kota apa saja yang akan dilewati. Hal itu sudah gue lakukan sejak kecil. Itu semua dipengaruhi oleh kesukaan gue melihat jalan dari balik jendela, lalu melihat spanduk yang biasanya dipasang di depan warung.

“Abis Semarang, nanti ke mana, Pak?”

Bapak gue mengingat-ingat. “Batang."

Batang yang beliau maksud adalah kota di Jawa Tengah. Bukan salah satu bagian tumbuhan.

Berbeda dengan bapak gue, mama gue adalah orang yang nggak terlalu suka menjawab pertanyaan, apalagi yang datangnya berentetan.

“Ma, katanya dulu di sini (Alas Roban—daerah perhutanan di Jawa Tengah) sepi, nyeremin, ya?”
“Iya.”
“Lah, kok sekarang banyak lampu? Dulu perasaan gelap. Kenapa sekarang jadi rame?” tanya gue penuh rasa penasaran.
Mama gue menjawab, “Nggak tau. Tanya aja orang sini!”
Gue merengut dan bungkam. Gue kembali ngelihatin jalan dengan menyisakan pertanyaan tak terjawab tadi.

Makanya, gue lebih sering bertanya kepada Bapak untuk hal-hal berbau geografi dan politik. Kadang-kadang juga bertanya pada Bapak buat apa berlapar-lapar puasa.

Bapak gue memang sumber ilmu bidang IPS paling terdepan deh pokoknya. Sekali waktu gue bertanya, “Pak, kalau Magelang itu masuk DIY atau Jawa Tengah?” Karena seringkali kota ini bikin gue bingung terdapat di provinsi mana. Beberapa versi (kebanyakan dari teman seumuran) bilang Magelang ada di Jawa Tengah, sebagian lagi di DIY, dan sebagian sangat kecil bilang di Jawa Timur (jangan salah, ada yang ngira gitu, lho).

“Magelang mah di Jawa Tengah. Tempatnya Candi Borobudur itu.”

Gue berusaha meyakinkan jawaban beliau. Beberapa sumber gue baca, mulai dari baca atlas sampai RPUL (waktu itu belum kenal internet). Ternyata benar jawaban beliau setelah gue mengumpulkan informasi yang ada. Gue curiga, bapak gue emang rajin baca RPUL.

Mendengar nama Magelang, destinasi tempat wisata pertama yang terbayang tentu saja Candi Borobudur. Apalagi tempat itu dinobatkan sebagai candi terbesar di Asia Tenggara dan menjadi warisan dunia yang dijaga oleh pemerintah dan juga PBB. Nama Borobudur membuat Magelang ikut mendunia, gue ikut bangga.

Namun, kalau dijelajahi lebih jauh lagi, sebenarnya Magelang tak hanya punya Candi Borobudur saja sebagai tempat wisata. Ada banyak destinasi wisata lainnya yang nggak kalah seru dan keren di kota militer ini.


1. Gardu Pandang Silancur

Dari sini, pemandangan Gunung Sumbing yang megah nampak amat mengagumkan. Puncaknya terlihat jelas, dengan bukit-bukit hijau menghampar yang membuat mata terpana atas keindahannya.

Berlokasi di Mangli, Kaliangkrik, Gardu Pandang Silancur bisa jadi destinasi pilihan buat kamu yang ingin jalan-jalan sambil merasakan udara sejuk di bawah kaki Gunung Sumbing.


2. Gereja Ayam

sumber:pikiran-rakyat.com
Coba datang ke Gereja Ayam ketika menjelang matahari terbit. Dari puncak bangunan gereja yang tak terpakai ini, kamu akan melihat pemandangan pagi di Magelang yang menakjubkan. Lokasinya berada di Bukit Rhema, Desa Kembanglimus, Kecamatan Borobudur. Dari puncak gereja, kamu bisa melihat Candi Borobudur dari kejauhan. Kalau beruntung, kamu bisa melihat jodohmu dari sini.


3. Punthuk Mongkrong

Pesona matahari terbit yang muncul di balik pegunungan bisa terlihat dengan cantiknya. Beberapa waktu belakangan, Punthuk Mongkrong menjadi salah satu tempat liburan ngehits di Magelang, khususnya di pagi hari.


4. Pemandian Air Hangat Candi Umbul

Kolam ini dulunya adalah pemandian para puteri raja, dengan air yang selalu hangat sepanjang waktu. Karena airnya yang hangat, pemandian di Candi Umbul ini selalu ramai dengan pengunjung yang ingin menikmati mandi ala puteri raja.


5. Candi Selogriyo

sumber:specialpengetahuan.blogspot.com

Dibandingkan dengan Candi Borobudur, ukuran Candi Selogriyo memang lebih kecil. Namun pamandangan di sekitar candi ini indah, dengan taman-taman yang ditata rapi. Terletak di Kecamatan Windusari, Candi Selogriyo bisa menjadi alternatif liburanmu di Magelang.


6. Punthuk Setumbu

Bukit ini memang terkenal dengan pemandangan alamnya yang indah di pagi hari. Dari kejauhan, Candi Borobudur nampak megah ketika matahari baru terbit di ufuk Timur.

Namun sebenarnya Punthuk Setumbu juga memiliki keindahan lain di sore dan malam hari. Ketika matahari sudah terbenam, Punthuk Setumbu memberimu pemandangan Borobudur yang megah dan lampu-lampu kota mulai menyala di kejauhan. Menakjubkan.


7. Ketep Pass

sumber:piknikasik.com
Dari kawasan ini, puncak Merapi nampak dengan jelas dan indah. Tak heran kalau Ketep Pass menjadi salah satu tempat wisata favorit di Magelang, Selain rutenya yang mudah dijangkau, pemandangan di Ketep Pass pun sangat menakjubkan, terutama ketika matahari baru terbit atau akan tenggelam.



8. Candi Borobudur

Tempat wisata yang satu ini tentu saja nggak boleh dilewatkan bagi kamu yang ingin berwisata ke Magelang. Jelajahilah warisan budaya yang masih berdiri dengan tegak ini. Setelah berkeliling Borobudur, pasti kamu bakal merasa selalu bersyukur dan ingin ikut melestarikan bangunan yang sudah berdiri selama ratusan tahun itu.

Borobudur dibangun dengan tenaga manual manusia pada ratusan tahun silam. Hebatnya, hingga saat ini Candi Borobudur masih berdiri dengan megahnya, dan tentu saja mendapatkan perawatan dan pemeliharaan dari pemerintah dan juga PBB.

Yang namanya tenaga manual gitu, lho. Pastinya keren banget karena bangunannya masih berdiri megah. Bangunan yang gue buat dengan tenaga manual paling lama bertahan 10 menit; bikin istana dari pasir.

Sudah sejak bertahun-tahun lalu Candi Borobudur masuk ke dalam daftar warisan budaya dunia. Tak heran kalau Candi megah ini menjadi kebanggaan masyarakat Magelang, dan semua warga Negara Indonesia.

Masih banyak daerah wisata di Magelang yang mungkin belum terekspos. Coba telusuri dan kumpulkan informasi tempat wisata di negeri kita agar selalu merasa beruntung menjadi warga negara Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Main ke Magelang yuk!

Comments

  1. Yuk kita main bareng yuk, Rob.

    Bapaknya Robby top markotop deh ah. Sabar dan legowo melayani anaknya yang kepo.

    Terus itu Gereja Ayamnya bikin mupeeeeeeeng. Pengen ke sana. Siapa tau bisa ketemu jodoh yang gantengnya kayak Rangga AADC. Yuhuuuu~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk yuk yuk!

      Iya yak. Itu kayak yang ada di AADC 2. Tapi mereka lagi ngapainnya itu lupa/ :")

      Delete
  2. Nyokap gue justru yang paling asyik diajak ngobrol. Sayangnya, beliau mabokan. Jadi kalau lagi kumat, diem aja deh. Bokap agak gimana gitu setiap gue tanya. Malah ceramah wqwq. Beda-beda sih, ya.

    Ketep Pass itu favorit! Suatu hari kudu ke sana. Kalau Candi Borobudur udah bosen. Oke, gegayaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti jangan ngajak ngobrol nyokapmu pas di kendaraan. Kalau mau tanya, via WA aja. Hehehe.

      Wah, maunya gitu. Nanti kalau udah ada uang.

      Delete
  3. Nah, kalo bapakmu itu pintarnya di geografi dan pintar ngejelasinnya. Kalo bapakku lain, dia tau seluk beluk orang. Entah dia kenal atau tidak, gue curiga dia itu Charles Xavier. Tiap dia liat orang, selalu bilang,"Oh, ini anakanya si itu," gumamnya.

    ReplyDelete
  4. Eww sama! Hahaha. Kalo sama si bapak, dijelasin secara ilmiah segala fenomena alam yang bikin anak2nya terpesona. Ya secara guru IPS sih. Beda sama si emak yang diawali dengan, "kayaknya........"

    Wadih, keotentikan ceritanya dipertanyakan.

    Btw pernah ke Borobudur tapi ga jadi masuk soalnya panas banget. Ini yang namanya pemanasan global kan? Atau daridulu sudah panas banget? :(

    Tanyain ke bapak lu Rob

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca. Mari berbagi bersama di kolom komentar.

Popular posts from this blog

Maret 2025: Penantian Panjang dan Nikmat Ramadhan

Bulan Maret ini banyak banget hal yang mau ditulis. Ditambah sedang dalam bulan Ramadhan, nggak mungkin kekurangan cerita dari perjalanan ibadah di bulan suci ini.  Saat post ini ditulis, saya sedang berada di kampung. Ngetik di laptop, sambil mendengar suara alam, dan ditemani teh kemanisan yang mulai dingin. Rasanya bawa laptop ke kampung jadi keputusan yang tepat untuk tetap jaga ritme aktivitas. Ditambah lagi masih cukup luang waktu di kampung. Penantian Panjang Sejak mulai rutin merekap aktivitas bulanan di blog, saya sering menyebut tentang publikasi artikel. Akhirnya, setelah penantian tersebut, artikel saya terpublikasi. Silakan bagi yang berminat membaca Analysis of Students Scientific Literacy in Integrated Acid-Base Learning Socioscientific Issues Kalau ditanya bagaimana perasaannya, yang pasti senang banget! Karena ini akan membuka peluang untuk publikasi artikel-artikel berikutnya. Semoga rasa semangat itu terus hadir. Dan yang paling penting, tulisan saya bisa membawa...

Januari 2025: Kembali Seperti Masa Kuliah

Satu bulan lepas dari domain .com di blog ini ternyata tidak banyak perbedaan yang berarti dalam hidup saya. Salah satu alasannya memang karena beberapa tahun terakhir saya sudah kurang serius mengelola blog ini. Jadi, menurut saya, domain .com belum menjadi kebutuhan utama saat ini, sehingga ketika tidak melanjutkan perpanjangan waktu semuanya jadi biasa saja. Cukup menjadi kenangan 10 tahun bersama.  Sekarang mari kita memulai dengan santai dan tanpa beban.  Tahun 2025 ini saya berencana untuk punya rekap aktivitas setiap bulan. Sebetulnya saya punya file khusus tentang ini Google Drive melalui Spreadsheets. Namun, hanya tulisan singkat saja yang dapat jadi pemantik untuk saya tuang lebih banyak di blog. Lagi-lagi, ini adalah salah satu cara untuk mengembalikan semangat diary online yang menjadi identitas blog ini sejak saya SMA. Semoga ini jadi cara untuk merekam sedikit ingatan, mengembalikannya di masa depan, dan upaya tetap terhubung dengan rekanan yang lebih luas. Oke,...

Februari 2025 : Datang dari Pondok Cabe, Mengunjungi Bandung, Kelaparan di Salemba

Bulan Februari terasa lama sekali buat saya. Setiap hari bolak-balik buka web jurnal dan email, menanti kapan artikel saya di-submit. Saking nggak sabarnya punya artikel ilmiah perdana. Langsung saja, beberapa potongan tulisan saya di bulan Februari yang tercatat. Kedatangan Banyak Buku Awal bulan Februari saya selesai registrasi mata kuliah, yang mana berbarengan dengan pemesanan buku mata kuliah. Untuk yang belum tahu, saat ini saya sedang berkuliah S1 (lagi) di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Terbuka. Total di semester ini saya ambil 6 mata kuliah dengan total 18 sks.  Ketika paket datang, saya antusias luar biasa. Sayangnya saya lupa memfoto sebelum unboxing . Bagaimana perasaannya setelah membuka paket tersebut? Tentu bahagia!  Sekaligus... serius ini tebel-tebel banget, ya Allah. Kalau semua buku ditumpuk, tingginya setara dua bantal di rumah. Sebetulnya banyak pengalaman baru dan menarik buat saya pribadi selama persiapan menjadi mahasiswa UT. Kalau ada waktu dan ke...