Skip to main content

Cerita Tentang AKA Bogor

Saya masih nggak nyangka, tulisan saya tentang cerita perjuangan semasa SMA bakal banyak berujung pada DM di Instagram. Sedikit menceritakan, pada waktu itu saya punya niat menulis cerita saya tentang kehidupan pra kampus. Tulisan itu niatnya mau saya kumpulkan dan, kalau khilaf, mau saya bukukan. Paling nggak, saya pernah nulis hal besar yang pernah saya alami.



Kali ini saya mau bahas salah satu tulisan, yang menceritakan tentang pengalaman saya ikut tes masuk Politeknik AKA Bogor. Itu adalah tulisan terakhir—hingga saya sekarang sudah semester 4—dan belum dilanjutkan. (Mohon maaf buat kalian yang nunggu ujung dari cerita saya. Hehehe.)

Sepertinya saya butuh mengakhiri cerita itu, tetapi tidak ingin detail. Meskipun sebenarnya beberapa kali saya sudah menyampaikan bahwa saya tidak kuliah di AKA Bogor, saya rasa ini (nggak terlalu) penting (juga sih) untuk disampaikan.

Jadi, Alhamdulillah, di tes masuk AKA Bogor saya lolos. Nggak lama berselang, hasil tes SBMPTN juga diumumkan. Alhamdulillah, saya lolos juga di Pendidikan Kimia UNJ. Karena sejak awal keinginan saya adalah kuliah di UNJ, maka AKA Bogor saya lepas.

Begitulah kira-kira. Kalau sempat, nanti akan saya ceritakan. Sambil nginget-nginget tentunya.
Sebetulnya, tulisan tersebut lahir karena melihat peluang. Dulu, sewaktu mencari informasi kampus, saya jarang sekali menemukan tulisan tentang AKA Bogor di internet. Begitu juga dengan mencari contoh soal tesnya. Sulit sekali. Sampai akhirnya saya bertemu dengan satu blog yang mengupload soal.

Hal ini saya lihat sebagai peluang. Bakal banyak Robby lain yang bernasib sama nih, begitu pikir saya. Maka, muncullah ide untuk membuat tulisan tentang AKA Bogor, khususnya pengalaman ikut tes masuknya. Plus, saya upload juga soalnya. Dan sekarang tulisan tersebut jadi tulisan terbanyak dibaca di blog ini. Di luar dugaan memang. Saya kira, nggak banyak yang pengin baca walaupun sempat optimis karena bicara soal peluang tadi.

Sebenarnya, untuk blog ini, saya punya beberapa post yang nggak kalah banyak jumlah viewsnya dan nangkring di halaman pertama pencarian. Misalnya, ada satu post yang ternyata linknya masuk ke dalam referensi di Wikipedia. Gimana nggak gokil jumlah viewsnya!

Satu lagi, post yang paling banyak dibaca adalah, tulisan fenomenal tentang mengupas lagu “Bad” milik Young Lex dan Awkarin (pembaca lama pasti tau gimana “resenya” saya nulis itu, hehehe).

Balik ke bahasan AKA Bogor.

Hampir dua tahun terakhir, menjelang masa-masa penerimaan mahasiswa baru, saya mendapat pesan yang kurang lebih isinya sama: pertanyaan tentang soal tes AKA Bogor, kelanjutan saya kuliah di mana, dan sampai yang paling keren, laporan kalau dia sedang berjuang buat masuk AKA Bogor. Rata-rata mereka di awal perkenalan bilang, “Saya abis baca blog kakak.”

Pesan-pesan itu bikin saya balik ke masa SMA. Nggak pernah tau informasi tentang AKA Bogor sebelumnya, cuma bermodalkan buku dari guru BK. Itu juga cuma nama dan tempat: sebuah politeknik yang khusus di bidang kimia—bernama AKA Bogor—dan bertempat di .... Bogor. Udah.

Lalu saya bilang ke kakak saya, ada nih pilihan kampus Robby selain di UNJ. Memang saat itu saya pengin banget masuk UNJ. Kemudian ngurus ini-itu di sekolah, nekat ngirim fotokopi rapor semester 1 sampai 5. Kalau ngelihat lagi rapor zaman SMA, berasa nggak sadar diri. Nilai-nilai yang udah sejak lama bikin saya yakin, “Nggak mungkin bisa tembus kampus mana pun.” Benar saja, setelah nggak masuk kuota SNMPTN, tes jalur rapor AKA Bogor pun nggak tembus.

Kemudian, gimana akhirnya saya dipaksa buat terus maju buat ikut tes tulisnya. Alhamdulillah, dibantu banget sama kakak saya. Inget banget, pagi-pagi naik kereta dari Bekasi ke Bogor, nyambung naik grabcar. Dateng 15 menit sebelum tesnya dimulai, ngerjain 100 soal dalam waktu 2 jam dari 3 jam yang disediakan.

“Alhamudulillah lolos,” ujar saya di atas kasur setelah melihat pengumuman. Kaget. Nggak pernah terbayang bakal lolos. Sebenarnya antara pengin dan nggak pengin lolos di sana. Pengin ... karena belum jelas mau kuliah di mana. Nggak pengin ... karena hati masih berharap UNJ.

Dulu-dulu juga nggak pernah nyari strategi ngerjain soal. Semua soal saya jawab. Nggak pernah tau peraturan penilaiannya. Nggak kayak SBMPTN saat itu, benar-benar tertulis aturan penilaiannya. Ini pula yang pernah  ditanyakan di DM. Saya bilang, “Jawab aja semua.”

Semoga dengan saya tuliskannya cerita ini bisa memotivasi orang-orang yang mau ikut tes AKA Bogor. Siapa tau ada tulisan lain yang bermunculan.

Comments

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca. Mari berbagi bersama di kolom komentar.

Popular posts from this blog

Maret 2025: Penantian Panjang dan Nikmat Ramadhan

Bulan Maret ini banyak banget hal yang mau ditulis. Ditambah sedang dalam bulan Ramadhan, nggak mungkin kekurangan cerita dari perjalanan ibadah di bulan suci ini.  Saat post ini ditulis, saya sedang berada di kampung. Ngetik di laptop, sambil mendengar suara alam, dan ditemani teh kemanisan yang mulai dingin. Rasanya bawa laptop ke kampung jadi keputusan yang tepat untuk tetap jaga ritme aktivitas. Ditambah lagi masih cukup luang waktu di kampung. Penantian Panjang Sejak mulai rutin merekap aktivitas bulanan di blog, saya sering menyebut tentang publikasi artikel. Akhirnya, setelah penantian tersebut, artikel saya terpublikasi. Silakan bagi yang berminat membaca Analysis of Students Scientific Literacy in Integrated Acid-Base Learning Socioscientific Issues Kalau ditanya bagaimana perasaannya, yang pasti senang banget! Karena ini akan membuka peluang untuk publikasi artikel-artikel berikutnya. Semoga rasa semangat itu terus hadir. Dan yang paling penting, tulisan saya bisa membawa...

Dilanku, Dilanmu, Dilan Kita Semua

Lemari buku saya semakin penuh. Untuk menguranginya, satu per satu saya jual. Saya nggak nyangka ada yang mau beli buku bekas milik saya. Dari hasil penjualan itu, alhamdulillah saya bisa beli makan di akhir bulan.  Seiring berjalannya waktu, ada dua hal yang saya sesali. Pertama, kenapa uang penjualan buku nggak saya tabung. Padahal ada sekitar 10 lebih buku sukses terjual dengan harga 25-30 ribu per buku. Kedua, saya nggak bisa hemat. Ya sudah, biarlah yang lalu telah terjadi. Nasi sudah menjadi nasi goreng. Baca juga: Pengalaman Berjualan Buku Buku yang Menghangatkan Rumah Meskipun beberapa buku sudah terjual, saya tetap membeli buku yang lain, bahkan sekarang lebih banyak dari sebelumnya. Saya jadi bingung. Niat saya jual buku biar buku di lemari saya berkurang.  Sekarang malah ditambah.  Gimana sih maunya saya. Melihat kondisi begini, terbersit dalam pikiran saya, “Buku ini harus tetap bermanfaat, tapi saya nggak mau kehilangan mereka, tapi ...

Berdasarkan Pengalaman: Tips Konsisten Menulis

Suatu hari saya iseng bikin question story di Instagram. Saya bikin question tentang “topik apa yang orang lain pengin baca di blog saya” . Biasa. Saya lagi bingung mau nulis tentang apa. Kehabisan ide. Di luar dugaan, jawabannya banyak. Banyak yang nggak nyambung. Ada yang minta follow back , ada yang dagang, ada yang “yuk kak cek IG kami”. Ada satu jawaban, tulisannya: "tips istiqomah menulis" . Nah, ini yang saya tunggu. Bisa jadi tulisan nih, kata saya dalam hati. Alhamdulillah, akhirnya ada bahan buat nulis. Saya mengartikan jawaban tersebut sebagai "tips konsisten menulis". Semoga nggak jauh-jauh artinya. Baca juga: Sumber Ide untuk Lancar Menulis Kepada Siapa Tulisan-tulisan Ini Ditujukan Sebelum bahas lebih jauh, harus diakui bahwa saya belum begitu konsisten dan rutin dalam menulis. Mungkin baru akhir-akhir ini, ketika pandemi covid-19 menyerang, saya jadi lebih sering nulis. Ketemu laptop terus soalnya. Sebenarnya, untuk tulisan...