Skip to main content

Bola adalah Teman yang Mengenalkan Kami untuk Berteman

Sudah hampir satu tahun saya tidak main bersama adik-adik di Kayu Jati, Rawamangun. Persis, setelah selesai amanah kepengurusan di Desa Binaan FMIPA UNJ, saya belum aktif lagi main ke Posyandu, tempat kami melakukan aktivitas pengajaran.

Sore itu, saya kembali lagi ke sana bersama Pejuang Desa Binaan—sebutan pengurus Desa Binaan FMIPA UNJ, melakukan kebiasaan yang dulu sering dilakukan. Ngiter ke rumah-rumah, ketemu adik-adik, dan bertegur sapa. Kami singgah pula ke rumah ketua RW setempat untuk silaturahmi dan menyampaikan kegiatan kami selanjutnya di  sana.

Setelah ngiter, kami beristirahat ke Posyandu. Di sana ada sekumpulan anak-anak kisaran 10-14 tahun sedang asyik dengan hape mereka. Entah tiktok-an atau apa. Saya hampiri, bertanya, “Punya bola nggak?” Nggak tau, tiba-tiba saya lagi pengin jadi Alessandro Del Piero sore ini.
“Nggak ada, bang!” jawab mereka. Mereka makin asyik dengan tontonan di hape.
Oke, mungkin inilah saatnya ongkos untuk pengorbanan berbicara, batin saya.
“Nih,” saya mengeluarkan uang lima ribuan, “beli bola yuk. Kita main.” Mereka kelihatannya nggak puas, bahkan ada yang meremehkan. Ya, jelas. Goceng nggak akan cukup beli bola. Mungkin kalau bola-bola cokelat bisa.
“Bola yang gampang melayang aja harganya 6 ribu, bang!” seru mereka. “Beli yang (cap) Panda aja, bang! Harganya 12 ribu.”

Saya mengintip kantong. Saya membatin, cukup nggak ya buat pulang? Seorang dari mereka bilang, “Nah, tuh, ada tuh, bang. Tambahin buat beli yang (cap) Panda, bang.”
Saya melirik para Pejuang Desa Binaan yang sedang istirahat. “Minta tambahin mereka ya!”
Singkat cerita, terkumpul uang 15 ribu. Satu dari mereka memberi komando dan berlari, berteriak, “Kabuuur!”

Hmm, sudah kuduga akan berakhir begini.

Pikiran saya berusaha mikir lurus. Tapi, kok resah ya kalau mereka benar-benar kabur. Saya titip ke seorang pejuang, “Minta tolong coba sambil diliatin ya, ke mana mereka.” Dia pun pergi menyusul anak-anak tersebut.

Nggak lama setelah itu, mereka kembali. Pejuang yang tadi saya titipin belum. Ke mana dia?
Pikiran saya ternyata salah. Astaghfirullah, saya udah telanjur mikir mereka bakal kabur bawa uang. Mereka balik lagi ke taman membawa bola. Lalu dilakukan kebiasaan pada umumnya, bolanya ditusuk pakai jarum atau tusuk gigi, biar nggak sakit kalau kena batok (bagian terkeras dari bola plastik).

Permainan pun dimulai. Lima orang dari anak-anak melawan lima orang Pejuang Desa Binaan. Sungguh nggak seimbang. Anak-anak melawan mahasiswa. Kalau kami kalah, hmm, malu-maluin.

Saat bermain, saya merasakan semangat yang pernah ada. Jadi ingat, pertama kali main bola di taman. Saya merasakan kemewahan saat itu, yang mana biasanya main di aspal jalanan atau jalan semen dekat rumah. Main bola di taman itu rasanya keren aja gitu.

Bola juga yang mengantarkan saya pada perkenalan dengan beberapa orang. Menjadikannya mereka sebagai kawan, dan kadang menambah lawan dalam kehidupan.

Akhirnya, kami kalah. Ketahuan selama ini kami adalah mahasiswa yang jarang olahraga. Lewat permainan sore ini, saya melihat perbedaan antara sebelum dan saat bermain bola. Sebelum main, saya dengar anak-anak itu mudah banget ngucap kata-kata kasar. Pas main bola, malah kami orang dewasa yang hampir ngomong kasar karena kalah dalam permainan.

Ya, begitulah. Saya merasa bersemangat kembali. Pertama, semangat masa kecil yang kembali. Kedua, semangat untuk bisa banyak memberikan pendidikan ke masyarakat. Lewat sepak bola, bahasa pendidikan diubah menjadi bahasa keteladanan. Semoga tersampaikan.


Comments

  1. Waaah jadi nostalgia jaman kecil main bola yaaa. Jadi pingin main bola lagi, seru-seruan lagi hahaha

    ReplyDelete
  2. wah asyik ay dari bola jd banyak teman

    ReplyDelete
  3. Imut dan lucu kakak. Keren banget sudah punya inisiatif untuk ngajakin adik2nya main bola. Kan ga enak pada nunduk2 maen gejet mending maen bola aja yakan

    ReplyDelete
  4. Ada perasaan riang yang susah dijelaskan ketika berinteraksi dengan anak-anak kecil, apalagi dikemas dengan bermain bola bersama-sama. Kalau bisa main bola tiap hari pasti seru.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca. Mari berbagi bersama di kolom komentar.

Popular posts from this blog

Maret 2025: Penantian Panjang dan Nikmat Ramadhan

Bulan Maret ini banyak banget hal yang mau ditulis. Ditambah sedang dalam bulan Ramadhan, nggak mungkin kekurangan cerita dari perjalanan ibadah di bulan suci ini.  Saat post ini ditulis, saya sedang berada di kampung. Ngetik di laptop, sambil mendengar suara alam, dan ditemani teh kemanisan yang mulai dingin. Rasanya bawa laptop ke kampung jadi keputusan yang tepat untuk tetap jaga ritme aktivitas. Ditambah lagi masih cukup luang waktu di kampung. Penantian Panjang Sejak mulai rutin merekap aktivitas bulanan di blog, saya sering menyebut tentang publikasi artikel. Akhirnya, setelah penantian tersebut, artikel saya terpublikasi. Silakan bagi yang berminat membaca Analysis of Students Scientific Literacy in Integrated Acid-Base Learning Socioscientific Issues Kalau ditanya bagaimana perasaannya, yang pasti senang banget! Karena ini akan membuka peluang untuk publikasi artikel-artikel berikutnya. Semoga rasa semangat itu terus hadir. Dan yang paling penting, tulisan saya bisa membawa...

Dilanku, Dilanmu, Dilan Kita Semua

Lemari buku saya semakin penuh. Untuk menguranginya, satu per satu saya jual. Saya nggak nyangka ada yang mau beli buku bekas milik saya. Dari hasil penjualan itu, alhamdulillah saya bisa beli makan di akhir bulan.  Seiring berjalannya waktu, ada dua hal yang saya sesali. Pertama, kenapa uang penjualan buku nggak saya tabung. Padahal ada sekitar 10 lebih buku sukses terjual dengan harga 25-30 ribu per buku. Kedua, saya nggak bisa hemat. Ya sudah, biarlah yang lalu telah terjadi. Nasi sudah menjadi nasi goreng. Baca juga: Pengalaman Berjualan Buku Buku yang Menghangatkan Rumah Meskipun beberapa buku sudah terjual, saya tetap membeli buku yang lain, bahkan sekarang lebih banyak dari sebelumnya. Saya jadi bingung. Niat saya jual buku biar buku di lemari saya berkurang.  Sekarang malah ditambah.  Gimana sih maunya saya. Melihat kondisi begini, terbersit dalam pikiran saya, “Buku ini harus tetap bermanfaat, tapi saya nggak mau kehilangan mereka, tapi ...

Berdasarkan Pengalaman: Tips Konsisten Menulis

Suatu hari saya iseng bikin question story di Instagram. Saya bikin question tentang “topik apa yang orang lain pengin baca di blog saya” . Biasa. Saya lagi bingung mau nulis tentang apa. Kehabisan ide. Di luar dugaan, jawabannya banyak. Banyak yang nggak nyambung. Ada yang minta follow back , ada yang dagang, ada yang “yuk kak cek IG kami”. Ada satu jawaban, tulisannya: "tips istiqomah menulis" . Nah, ini yang saya tunggu. Bisa jadi tulisan nih, kata saya dalam hati. Alhamdulillah, akhirnya ada bahan buat nulis. Saya mengartikan jawaban tersebut sebagai "tips konsisten menulis". Semoga nggak jauh-jauh artinya. Baca juga: Sumber Ide untuk Lancar Menulis Kepada Siapa Tulisan-tulisan Ini Ditujukan Sebelum bahas lebih jauh, harus diakui bahwa saya belum begitu konsisten dan rutin dalam menulis. Mungkin baru akhir-akhir ini, ketika pandemi covid-19 menyerang, saya jadi lebih sering nulis. Ketemu laptop terus soalnya. Sebenarnya, untuk tulisan...