Skip to main content

Posts

Bersahabat dengan Tumbuhan

Gue melihat tumbuhan sebagai makhluk yang menyenangkan. Dibanding memelihara hewan, gue lebih jago dalam merawat tumbuhan. Dapat dilihat dari track record , selama memelihara hewan gue lebih sering nyiksa dibanding merawat. Tetangga gue juga bilang begitu. Dia seringkali mergokin gue sedang nyirem tanaman. Bukan, bukan disiram pake gula merah. Itu mah serabi. Yang ini disiram pakai air sumur. Seorang tetangga bilang ke Mama sambil memerhatikan gue menyiram tanaman. “Robby ini seneng ngerawat tanaman, ya.” Mama gue cuma mengiyakan. “Ya, begitu deh.” “Nanti kuliah nya di pertanian aja, tuh. Bagus.” Waktu itu gue masih kelas 4 SD. Mendengar saran itu dari tetangga, jelas gue sedikit senang sekaligus gondok. Cita-cita gue mau jadi pemain bola! Belakangan cita-cita itu pudar setelah ngelihat teman yang setiap kali main bola mimisan kegebok bola. Meskipun nggak bisa gerak ke sana kemari seperti hewan, bagi gue, tumbuhan memberi kesan meneduhkan. Mungkin itu juga ala...

Minta Ongkos Pulang

Meskipun gue nggak terlalu suka dengan fitur timeline yang ada di Line, gue beberapa kali membukanya untuk sekadar baca-baca artikel dari official account atau status dari teman-teman. Status yang di-like teman pun ikut-ikutan muncul di timeline sehingga mau nggak mau ikutan kebaca. Bagus kalau yang muncul kontennya menarik. Bagaimana kalau sebaliknya? Berarti, kalau begini jadinya, siasatnya adalah: selamat pilih-pilih teman. Gue terpikirkan dua jenis tulisan berbentuk curhat yang sering muncul di timeline Line. Entah kenapa, curhat ini kebanyakan ditulis oleh akun dengan foto atau nama perempuan. Jenis post itu adalah: 1) Post pelecehan seksual dan 2) Post cerita orang asing minta uang. Untuk yang pertama, gue jarang baca sampai selesai karena baru sampai pertengahan atau saat bagian konflik, gue ngilu bacanya. Untuk contoh yang kedua, gue beberapa kali nggak terlalu permasalahin. Cuma ada orang tua, entah pura-pura atau sungguhan, minta uang. Jadi, cerita lengkapnya kira-...

Tentang Tidur dan Bangun

“Lihat ke depan deh.” “Ibunya tidur?” tanya gue menunjuk seorang guru. “Iya.” Teman gue mengangguk. “Kata mama gue, orang yang capek bisa tidur di mana aja kalau ada kesempatannya.” Percakapan itu kira-kira membentuk sebuah pola pikir baru di kepala gue: Sibuk artinya bisa tidur di mana saja. Seandainya gue seperti ibu guru tadi, orang-orang ngelihat gue penuh rasa kagum, dan pasti mengira gue adalah orang sibuk ketika melihat gue tertidur di emperan toko, sekaligus bakal melapor satpol pp. Pola pikir itu akhirnya benar-benar terwujud saat SMA. Sudah beberapa kali gue menceritakan di blog kalau gue sering tidur tidak hanya di kasur rumah saja. Sekadar mengingatkan kembali, sewaktu SMA gue sering tidur di angkot, di masjid, di bangku yang dipepetkan, dan di lantai beralaskan jaket. Bangun-bangun langsung terasa kayak dilumurin ulet bulu. Gatel. Gue pernah merenungi suatu hal tentang kebiasaan itu. Rasanya gue sering banget tidur sewaktu SMA. Harusnya, sesuai dengan pola pikir...

Maaf untuk Keputusan Ini

Maaf, motonya pake flash kamera belakang. Andai saja ada kata yang benar-benar bisa menggantikan judul postingan ini, mungkin gue nggak akan menulis ratusan atau ribuan kata ke depan nanti. Ini seperti ingin mengatakan "Bu, ulangannya ditunda dulu dong, please" kepada guru Fisika dulu. Butuh hening yang lama. Butuh kertas buram untuk menulis salinan rumus. Butuh waktu untuk berpikir sedemikian rupa, sampai akhirnya gue benar-benar bisa mulai untuk menuliskan ini. Andai saja postingan ini dites menggunakan Turnitin , percayalah, tulisan ini akan dicap plagiat. Dari judul dan tiga paragraf sudah menunjukkan penjiplakan. Maaf untuk keputusan ini. ^^^ Entahlah, gue masih belum habis pikir harus memulai pembicaraan ini dari mana. Padahal guru mengaji selalu berpesan untuk memulai pengajian diawali taawuz dan basmalah. Gue masih sulit untuk mengeluarkan unek-unek pada tulisan ini. Apa yang membuat gue begitu sulit untuk bicara? Gue sadar beberapa hari ini. Mun...

Destinasi Wisata Menarik di Magelang, Sangat Cantik dan Menarik!

sumber:instagram.com/ilookisee - Sunrise di Punthuk Setumbu  Setiap pulang ke kampung halaman Bapak, gue selalu bertanya-tanya kota-kota apa saja yang akan dilewati. Hal itu sudah gue lakukan sejak kecil. Itu semua dipengaruhi oleh kesukaan gue melihat jalan dari balik jendela, lalu melihat spanduk yang biasanya dipasang di depan warung. “Abis Semarang, nanti ke mana, Pak?” Bapak gue mengingat-ingat. “Batang." Batang yang beliau maksud adalah kota di Jawa Tengah. Bukan salah satu bagian tumbuhan. Berbeda dengan bapak gue, mama gue adalah orang yang nggak terlalu suka menjawab pertanyaan, apalagi yang datangnya berentetan. “Ma, katanya dulu di sini (Alas Roban—daerah perhutanan di Jawa Tengah) sepi, nyeremin, ya?” “Iya.” “Lah, kok sekarang banyak lampu? Dulu perasaan gelap. Kenapa sekarang jadi rame?” tanya gue penuh rasa penasaran. Mama gue menjawab, “Nggak tau. Tanya aja orang sini!” Gue merengut dan bungkam. Gue kembali ngelihatin jalan dengan menyisakan p...

Perkuliahan

Hampir tiga minggu gue mulai aktif kuliah. Rasanya masih ringan-ringan aja (atau gue yang ngeringanin?). Maklum gue bilang begitu karena gue belum ketemu yang namanya praktikum. Praktikum, khususnya bagi anak kimia, adalah sebuah santapan istimewa. Bukan berlebihan, memang praktikum buat anak kimia adalah hal yang rasanya campur aduk antara menyenangkan, menakutkan, membosankan dan misterius. Kami bakal ketemu zat-zat yang jenisnya banyak. Salah penggunaan bisa bikin kulit melepuh. Salah hirup bisa bikin mabuk. Salah tiga nilai tujuh puluh. Sebelum praktikum, para praktikan—orang yang mengikuti praktikum—disuruh membuat laporan awal. Isinya dari latar belakang sampai ke tabel kosong untuk mencatat data yang diperoleh dari percobaan. Kemudian dilanjutkan praktikum. Praktikum sendiri durasinya berbeda-beda. Praktikum mata kuliah Fisika Dasar misalnya, butuh waktu 2 jam untuk praktikum saja. Untuk praktikum biologi gue belum tahu. Dan yang paling istimewa adalah praktikum bidang...

Bukan Mahasiswa Semester Lima

Setelah Ujian Nasional, gue menjadi try out maniac . Mengetahui ada informasi try out SBMPTN di mana saja, selama ada di Jakarta, gue ikutin. Gue percaya, selama ada di Jakarta masih banyak akses untuk menuju ke lokasi tertentu. Akan beda cerita bila gue sotoy, lalu kena batunya hingga menemukan tugu bertuliskan "SELAMAT DATANG DI KOTA CIREBON". Jauh sebelumnya gue sudah dua kali mengikuti try out online yang diadakan akun-akun di LINE. Dilihat dari hasil-hasilnya yang nggak pernah mencapai target, gue sedikit ragu sama diri gue sendiri. Masalahnya, hampir semua try out yang gue ikuti berbayar. Sudah sering ikut try out, tapi nilainya nggak pernah mencapai target program studi incaran . Lama-lama bikin kesal, uang habis tanpa menghasilkan progres. Nilai try out gue konsisten. Konsisten nggak mencapai target. Nilai try out nggak pernah memuaskan, sedangkan SBMPTN tinggal menghitung hari. Gue, yang pengin banget masuk PTN, apa kabar? ^^^ Sudah dua minggu terakhir gue...