Skip to main content

Posts

Menata Diri Lewat Blog

Libur semester kadang membuat saya bingung. Terbiasa di kampus disibukkan dengan segudang aktivitas, sesampainya pada liburan malah kebingungan. True story , pada liburan semester sebelumnya saya sempat sakit karena ... liburan. Tekanan yang sudah terbiasa diterima di kampus menghilang ketika liburan.  Untuk mengisi liburan, saya ikut beberapa kepanitiaan di kampus. Hal ini cukup membuat saya beberapa kali ke kampus. Saya nggak peduli ada teman saya yang bilang, "Ngapain sih, udah liburan masih aja ke kampus?" Ya, kalau boleh saya jawab, saya belajar dari pengalaman. Hitung-hitung mencegah sakit dan tetap membuat tubuh selalu fit. Halah. Kebetulan saya hari ini tidak ke kampus. Saya berpikir untuk mencari kesibukan lain. Di rumah, saya bisa bantu-bantu orang tua dan main bareng keponakan yang sekarang berumur 2 tahun. Namun, kangen juga rasanya liburan begini untuk ngeblog. Saya pergi ke warnet dan kembali menulis. Maklum, laptop saya sudah pensiun alias rusak. ...

Membuat Blog Semakin Keren

Blog yang dulu saya kenal ternyata berbeda dengan sekarang. Dulu, saya hanya berpikir sederhana soal ngeblog: tulis aja apa yang mau ditulis. Hal sederhana itu ternyata yang tetap membuat saya tetap ngeblog sampai sekarang—meskipun sekarang semakin sedikit jumlah tulisan yang saya buat. Saya nggak ada beban untuk menulis seperti apa dan bagaimana memulainya. Asalkan aman, saya lanjut terus. Kemudian dihapus dan ditambahkan dalam pengeditan, memastikan layak baca. Sesederhana itu. Seiring berjalannya waktu, saya menemukan tips dan trik dalam membuat blog yang semakin keren. Hal ini saya ketahui dari pengalaman, rekomendasi teman, dan sedikit baca-baca artikel di internet. Bisa jadi, hal ini adalah langkah awal untuk membuat blog ramai pengunjung, sebelum membahas hal-hal yang lebih jauh. Ramah pengunjung Anggap saja kita sedang bertamu ke rumah seorang teman. Kita tahu seperti apa teman kita tersebut. Lalu, sesampai di rumahnya, adik teman kita menjitak kepala kita dari belakan...

Jembatan Antara Cemas dan Tenang

Perasaan ini semakin menguat. Baru kali ini saya merasa secampur aduk ini. Tentang rindu. Membuat saya bingung, cemas, sedih. "Emang nggak kangen?" ujar wanita itu pada suatu malam. "Kangen sih, tapi gimana lagi ya." Saya cuma senyum, berusaha mengobati momen-momen yang hilang di antara kami. Bukan hal yang biasa bagi kami. Sudah terlalu lama kami tidak bertukar senyum. Saya hampir lupa rasanya deg-degan untuk mengawali cerita atau berkeluh kesah sejenak. Untuk hal sesederhana minum teh bareng, kami pun tak sempat. Terlalu sering saya meninggalkannya dengan senyum. Entah, rasanya seperti senyum yang berat karena harus menahan suatu beban. Wanita itu adalah ibu saya. Mungkin, kalau saya boleh membandingkan, lebih kangen lagi teman-teman saya yang berasal dari luar kota, yang jaraknya lebih jauh dari saya. Jarak rumah saya ke tempat menimba ilmu ini hanya 25 km. Naik bus Transjakarta, transit sekali, dilanjut naik angkot, jalan sebentar, sampai. Terbayang ...

Akrab dengan Kimia

Saya menyukai kimia. Mungkin sebelum melanjutkan bacaan hingga kata terakhir, ada baiknya saya mengatakan, bahwa postingan ini tetap bisa dinikmati semua orang. Bukan hanya untuk orang-orang yang sedang dan/atau pernah mempelajari ilmu kimia. Bagi saya, kimia adalah mata pelajaran yang cara mendapatkan nilai bagus bisa diraih relatif mudah. Bayangkan, 60 persen soal berupa hitungan sederhana. Tinggal masuk ke rumus, voila , hasilnya ketemu. Bahkan ada soal hitungan yang nggak perlu pake rumus! Menyenangkan bukan? Bagaimana dengan 40 persennya? Sisanya cuma berupa hafalan kok. Pahit-pahitnya, bisa pake cara "ngitung kancing". Soal pilihan ganda mempermudah segalanya. Namun, semuanya berubah sejak saya masuk perkuliahan. Jangan harap ada soal pilihan ganda. Soal yang bermodalkan hafalan juga jarang. Lagipula berat kalau mau ngafalin semua materi sebuku. Soal hitungan sedikit banget. Sekalinya ada, angkanya nggak ada yang sebagus soal kimia SMA. Hal ini cuk...

Memulai Lagi?

Gue kira, gue akan benar-benar berhenti menulis. Kenyataannya, meski nggak pernah menambahkan entri baru di blog ini, gue nggak pernah terlepas dari kegiatan menulis. Baik menulis hal ringan, misalnya nulis status dan nulis pesan, maupun hal yang perlu 'mikir', misalnya nulis laporan. Ternyata manusia memang nggak akan pernah berhenti menulis. Tinggal memilih di media mana dia akan menampilkan tulisannya. Kemudian membiasakan diri sehingga menulis bukan lagi suatu kegiatan yang berat. Sewaktu masa-masa kejayaan gue ngeblog (standar gue sendiri adalah ketika bisa membuat post lebih dari empat dalam waktu sebulan), gue sering menemui blog-blog dengan domain dot com (.com) yang mulai kehilangan gairahnya. "Sayang banget nih blog dot com, tapi nggak ada postnya lagi," kata gue saat itu. Sampai akhirnya, gue merasakan sendiri hal itu. Jelas rugi banget kalau uang untuk bayar domain terus keluar, tapi nggak ada tulisan baru yang keluar. Agak sedih juga mengingat b...

WISGR, Bukti Kreativitas Anak Bangsa

Apa yang membanggakan dari Indonesia?  Menurut gue, manusianya, terutama kreativitasnya. Banyak banget orang Indonesia yang kreatif. Misalnya, di jalur 3 in 1. Orang-orang kreatif tadi memanfaatkan aturan itu menjadi peluang mencari uang sebagai joki 3 in 1. Oke, kayaknya itu bukan contohnya deh. Terbukti, kreativitas anak bangsa telah membuahkan hasil—bukan jadi joki 3 in 1 tentunya. Salah satu buktinya adalah dengan munculnya game WISGR . Game ini dibuat oleh developer game Guklabs. Game ini sudah mulai ramai dibicarakan di banyak forum digital. Ramainya perbincangan mengenai WISGR karena diprediksi game ini akan menjadi game yang dapat sambutan baik di pasar game internasional. Kekuatan WISGR ada pada story dari gameplaynya. WISGR berusaha membawakan cerita yang dapat menyentuh perasaan pemain serta ceritanya pun full original. WISGR adalah game PC bergenre action adventure . Karakter utama dalam game ini bernama Boghe yang merupakan seorang pema...

Backpackeran ke Lombok, Nggak Perlu Tunggu Low-Season Kalau Ada Bus AKAP

foto:img-o.okeinfo.net Lombok itu jauh, apalagi dari tempat tinggal gue di Jakarta. Karena alasan ini, gue dan banyak orang yang berpikiran sama, jadi mikir-mikir beribu kali untuk backpacker- an ke Lombok, terutama lewat jalur darat. Karena perjalanan sangat panjang, ditambah dengan dua kali penyeberangan laut yang bakal menguji fisik dan kesabaran. Kamu setuju, kan, perjalanan darat itu melelahkan? Untuk backpacker sejati, perjalanan jauh bukanlah halangan karena mereka memang terlahir untuk suka menghabiskan waktu menikmati perjalanan. Misalnya, kamu berangkat dari Jakarta menuju Lombok dengan bekal selembar tiket bus di tangan. Mampukah kamu menaklukkannya? Jarak yang sangat jauh, sekitar 1.300 kilometer, itu bisa ditempuh dalam waktu 1 jam 50 menit dengan pesawat terbang. Namun, untuk backpacking dengan menggunakan bus kota, bersiaplah dengan petualangan duduk lebih dari 30 jam duduk di kursi penumpang bus. Karenanya, butuh lebih dari sekadar niat untuk bisa sampai ke ...