Skip to main content

Posts

Pengalaman Berjualan Buku

Sudah saya sadari sejak lama bahwa lemari buku saya semakin penuh dari tahun ke tahun. Terhitung sejak kelas 9 SMP, diawali dengan memiliki buku Marmut Merah Jambu-nya Raditya Dika, hingga kini buku saya sudah mencapai puluhan jumlahnya. Memang belum sampai 40, tapi rasanya sudah saatnya saya harus menyikapi hal ini. Buku-buku itu kebanyakan hanya dibaca sekali (kecuali buku-buku Raditya Dika yang rata-rata minimal 3 kali baca ulang). Mereka berbaris rapi menempati lemari. Lemari saya kepenuhan. Terinspirasi dari seorang blogger, saya memberanikan diri menjual buku-buku saya. Saya upload ke Tokopedia semua buku yang sudah lama tidak dibaca, dibaca cuma sekali, atau nggak ada keinginan lagi untuk membacanya ulang. Dapat dipastikan, dengan kriteria seperti itu, buku-buku Raditya Dika nggak saya upload. Sayang banget waktu itu (sekarang sudah masuk ke toko virtual saya di sana). Awalnya saya ragu. Apa iya ada yang mau beli? Kalaupun ada, nunggu sampai kapan? Namanya anak baru, maunya...

Always Listening, Always Understanding

Petang itu perut saya terasa menggelitik. Sedari pagi belum ada apa pun yang masuk ke kerongkongan. Botol minum kesayangan lupa diisi dari rumah. Uang... punya, sih. Rasanya capek banget buat ke mana-mana. Jadi males beli makanan atau minuman. Alhamdulillah, berkat air dari seorang teman kuliah kerongkongan saya basah kembali. Tegukan pertama sejak fajar. Ingin sekali mulut ini mengunyah sesuatu. Kayaknya ini nih, tanda-tanda kalau manusia nggak ada puasnya. Melihat benda-benda sekitar rasanya nggak mungkin ada yang bisa dimakan: karpet, kertas, dan batu. Dua teman saya sedang sibuk menuliskan kalimat di sticky notes warna warni. “Kalian masih punya makanan nggak?” tanya saya. “Nggak ada,” jawab mereka bersahutan. “Hmmm oke.” Saya membayangkan, saya melangkah pergi keluar masjid untuk mencari makanan. Tinggal pilih. Uang lagi cukup-cukupnya. Namun, kok tubuh ini berat untuk melangkah? Mungkin nanti sembari di perjalanan pulang saya bisa beli sedikit makanan, batin saya. Unt...

Katakan pada Dunia, Inilah Resolusi 2019-ku!

Seperti biasanya, setiap tahun baru di kepala saya banyak muncul keinginan yang ingin dicapai. Agak bingung juga kenapa harus sampai di momen pergantian tahun keinginan itu menggebu untuk tercapai. Mungkin lebih tepat dikatakan bila momen pergantian tahun sebagai momen untuk membuat daftar keinginan. Menata lagi mana yang penting untuk ditunaikan. Tidak masalah sepertinya. Lebih baik seperti ini ketimbang bingung harus apa. Setidaknya dengan adanya tujuan, arah gerak saya menjadi lebih teratur. Menjelang pergantian tahun saya sudah melihat beberapa teman membuat daftar harapannya. Ada yang benar-benar mempublikasikannya di media sosial. Keren. Semua orang bisa lihat itu. Dari situ, bisa jadi orang-orang yang melihat tulisannya ikut berperan untuk membantu orang itu mewujudkannya. Berbeda dengan saya. Kali ini, untuk daftar-daftar semacamnya biar menjadi rahasia saya (sebenarnya belum dibuat versi rapi dan tersusunnya juga, sih). Namun, bukan berarti keinginan itu menjadi satu hal ya...

Langkah Kecil untuk Senyum Mereka

Satu dari sekian banyak keuntungan yang saya rasakan saat menjadi mahasiswa adalah banyaknya kesempatan untuk berbuat kebaikan. Bukan berarti selama menjadi siswa saya tidak pernah melakukan hal baik, tetapi yang dilakukan di kampus skalanya lebih besar. Itu mungkin yang saya rasakan. Contoh kecilnya adalah setiap kali ada bencana alam, pihak sekolah akan menggalang dana ke setiap siswa di kelas-kelas melalui ketua kelas. Siswa digerakkan oleh guru-guru untuk mengumpulkan uang atau bahan makanan. Beda ketika setelah saya menjadi mahasiswa. Saya benar-benar merasakan kesempatan untuk menjadi penggerak. Skala terkecil, saya mengajak beberapa teman-teman saya di kelas untuk ikut menggalang dana. Bila saya tidak menjadi penggerak pun kesempatan dalam membantu sangat terbuka. Penyalur bantuan sudah banyak dan menjamur. Andaikata saya cuma berniat untuk berdonasi, penyalur bantuan akan terus hadir. Mungkin ini hanya langkah kecil. Raga kami tidak ada untuk mereka. Setiap orang bisa me...

Untuk Kesekian Kalinya...

Untuk kesekian kalinya, saya pengin ngeblog lagi. Alhamdulillah, akhirnya bisa punya kesempatan ngisi tulisan di blog tersayang sejak SMA kelas 10 ini.  Salah satu faktor penguat niat mengisi blog ini adalah domain. Sering kali kepikiran tentang hal yang sama: bayar domain mahal kalau nggak diisi buat apa blognya? Belum lagi harga domain setelah diperpanjang jadi mahal banget. Namun, hal itu nggak jadi terasa memberatkan. Rasanya seperti lebih berat ninggalin robbyharyanto.com dibanding bayar lebih untuk sewa domain setahun. Demi sebuah branding .  Selanjutnya, tinggal memaksimalkan domain yang diperpanjang. Faktor lain yang jadi pendorong untuk saya mengisi blog kembali adalah faktor lingkungan. Entah kenapa, saya seperti “dipaksa” melihat hal-hal keren akhir-akhir ini. Maksudnya, orang-orang di sekitar saya kok bisa ya punya sesuatu yang mereka kerjakan selain bergelut dengan kesibukan utamanya? Dalam hal ini, saya melihat contoh teman sesama mahasiswa yang produktif. J...

5 Keunggulan Sertifikat SSL yang Kamu Harus Tahu

Keamanan adalah salah satu faktor paling penting saat kita surfing di internet. Dari dulu hingga sekarang dunia internet bagaikan pisau bermata dua karena banyak hal positif yang bisa didapatkan melalui internet. Namun, tidak sedikit pula hal negatif bisa didapatkan dari surfing di internet, contohnya yang paling sederhana adalah perangkat terkena virus karena mengunjungi website. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk berhati-hati ketika berada di internet. Tapi di masa kini anda bisa sedikit santai dalam menanggapi hal ini karena sertifikat SSL hadir menyingkiran masalah tersebut. Dan di artikel ini kami akan membahas lebih lanjut keunggulan sertifikat SSL yang kerap melindungi anda saat berada di internet. Namun sebelumnya, kita akan membahas tentang apa itu sertifikat SSL. Sertifikat SSL atau singkatan dari Secure Socket Layer merupakan suatu sistem keamanan standar global yang menggunakan enkripsi modern untuk menerima atau mengirim informasi penting di internet, ...

Obat yang Ditawarkan Senja

Apa yang mampu mengobati lelah setelah seharian beraktivitas? Saya pernah mendengar jawaban: "menikmati senja". Tidak ada cara tertentu untuk menikmati senja. Boleh memotret langit, melipir ke tukang buah untuk makan nanas di pinggiran fly over--seperti yang biasa teman saya ceritakan pada saya, atau bahkan semudah menatap langit jingga. Senja adalah waktu yang sibuk bagi orang-orang untuk pulang. Hari itu saya pulang dari Kebun Raya Bogor (KRB) dalam acara bersama teman-teman. Saya dibonceng seorang teman menggunakan sepeda motor. Kami meninggalkan KRB sekitar pukul 5 sore. Sebelumnya kami harus mengalami "drama parkir motor" selama 30 menit. Gara-gara teman saya parkir bukan di tempat semestinya dan bikin geger penjaga KRB, terpaksa kami pulang lebih sore daripada teman-teman lainnya. Suara azan Magrib mengangkasa. Teman saya sesering mungkin melihat ke kiri jalan untuk mencari masjid terdekat. Saya merasa aman dan bersyukur dibonceng dia. Teman saya me...