Skip to main content

Posts

Menyelami Kolam Kalam

Salah satu sumber ide menulis bagi saya adalah media sosial. Bisa dari pengamatan aktivitasnya, bisa juga dari memanfaatkan fiturnya. Fitur favorit saya di Instagram adalah Ask Me Question. Fitur ini sempat jadi perdebatan karena ada dua aliran cara penggunaannya.  1) Versi pertama mereka yang berlaku sebagai penanya dan followers menjawab  2) Versi kedua mereka yang menjawab pertanyaan followers.  Pihak Instagram mengonfirmasi, cara yang benar adalah versi kedua. Tapi saya lebih suka versi pertama. #TimNanyaJawaban Terlepas dari gimana cara pakainya yang benar, fitur ini banyak banget manfaatnya. Bicara sebagai blogger, dari fitur ini, saya bisa banyak ngobrol sama teman-teman followers. Misal, saran buat blog saya. Fitur Question menjadi jembatan saya berkomunikasi dengan teman-teman. Aktivitas ngeblog saya mungkin lagi semangat-semangatnya. Semangat ini bikin terpikirkan satu hal yang ... cukup iseng: saya mau bikin sesuatu. Tapi, entah apa yan...

Mengapa Ingin Menjadi Guru? (Sebuah Refleksi Semester 6)

Hari ini, setidaknya ketika tulisan ini diposting, status saya adalah mahasiswa semester 6 jurusan Pendidikan Kimia Universitas Negeri Jakarta. Status ini, seringkali membawa saya pada obrolan yang cukup sering saya alami. Orang lain: “Kuliah di mana, Dek?” Saya: “UNJ, Pak/Bu/Mas/Mbak.” Orang lain: “Jurusan apa?” Saya: “Pendidikan Kimia, Pak/Bu/Mas/Mbak.” Orang lain: “Oh, mau jadi guru ya?” Kadangkala, percakapan baris kelima punya variasi jawaban seperti ini: Orang lain: “Oh, berarti bisa ngerakit bom dong? Kan kimia!” Bagaimana pun pandangan orang lain tentang jurusan Pendidikan Kimia, percayalah, di sinilah saya banyak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam hidup. Tentang cita-cita menjadi guru. *** Apakah saya berkeinginan menjadi seorang guru? Tentu, hal ini sudah saya niatkan sejak SD. Meskipun ada sedikit pergeseran; yang tadinya mau jadi guru matematika, berubah menjadi kimia. Semua perubahan itu pernah saya tulis di posti...

Berdasarkan Pengalaman: Tips Konsisten Menulis

Suatu hari saya iseng bikin question story di Instagram. Saya bikin question tentang “topik apa yang orang lain pengin baca di blog saya” . Biasa. Saya lagi bingung mau nulis tentang apa. Kehabisan ide. Di luar dugaan, jawabannya banyak. Banyak yang nggak nyambung. Ada yang minta follow back , ada yang dagang, ada yang “yuk kak cek IG kami”. Ada satu jawaban, tulisannya: "tips istiqomah menulis" . Nah, ini yang saya tunggu. Bisa jadi tulisan nih, kata saya dalam hati. Alhamdulillah, akhirnya ada bahan buat nulis. Saya mengartikan jawaban tersebut sebagai "tips konsisten menulis". Semoga nggak jauh-jauh artinya. Baca juga: Sumber Ide untuk Lancar Menulis Kepada Siapa Tulisan-tulisan Ini Ditujukan Sebelum bahas lebih jauh, harus diakui bahwa saya belum begitu konsisten dan rutin dalam menulis. Mungkin baru akhir-akhir ini, ketika pandemi covid-19 menyerang, saya jadi lebih sering nulis. Ketemu laptop terus soalnya. Sebenarnya, untuk tulisan...

Ingatlah Hari Ini saat Pulih Nanti: Mengasingkan Diri

Saat tulisan ini diketik, pandemi covid-19 sudah memasuki pekan ketiga. Kondisi semakin mengerikan. Angka-angka kasus positif semakin meningkat hari ke hari. Semoga pandemi ini segera usai. Selama tiga pekan pula saya masih terus di rumah aja. Nggak banyak keluar rumah. Aktivitas harian di luar rumah jadi berkurang. Waktu-waktu yang membosankan di jalan berganti menjadi waktu-waktu rebahan di rumah. Mengasingkan diri. Alhamdulillah, disyukuri aja. Baca juga: Tetap Produktif Walaupun #DiRumahAja Merawat Niat Sesekali saya kangen dunia luar, seperti yang diungkapkan teman-teman di media sosial saya. Postingan tentang masa SMA, aktivitas kampus, dan jalan-jalan ke puncak. Saya kangen semuanya! Saya nggak posting bukan berarti nggak kangen. Saya nahan aja. Saya juga kangen dunia yang penuh keramaian, yang penuh mobilitas tinggi, dan banyak bergerak. Masa-masa itu sedang menjadi satu hal berharga yang kelak akan saya kenang dalam hidup saya. Betapa berkesannya masa-masa...

Kepada Siapa Tulisan-tulisan Ini Ditujukan

Saya pernah mengalami masa-masa itu. Menjadi seorang secret admirer . Pengagum rahasia. Nggak tau kenapa, menurut saya, kebanyakan orang yang terbiasa menulis sering mengalami hal ini. Mereka, lewat kelihaiannya dalam menulis, akan mencurahkan perasaannya lewat kata demi kata. Kalimatnya disusun serapih mungkin, semanis mungkin. Sehingga ketika tulisan itu sengaja atau tidak disengaja oleh teman, tidak akan meninggalkan celah untuk memunculkan pertanyaan: “Lu lagi suka sama si itu ya?” Ya, saya pernah mengalami masa-masa itu. Dapat pertanyaan begitu rasanya kayak ditodong, terus gelagapan menjawabnya. Salah sendiri nulis begitu. Ada dua jenis pengagum rahasia dalam menuliskan pesan rahasianya. Pertama, mereka yang benar-benar rahasia. Orang seperti ini akan banyak menulis di buku catatan kecil. Ditaruhnya buku itu di tempat yang jarang dijangkau orang lain. Hanya dia dan Allah yang tahu. Baca juga Diangkat dari Buku Harian Tipe kedua, orang yang senang ca...

Tetap Produktif Walaupun #DiRumahAja

Tetap produktif walaupun #DiRumahAja jadi salah satu tekad saya menghadapi fenomena social distancing . Rugi banget kalau melakukan hal sia-sia pokoknya. Seperti yang dikatakan Rasulullah, “Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaaat.” sumber: unsplash.com Sepekan terakhir ramai kampanye tagar #DiRumahAja . Tagar itu sebagai dukungan terhadap social distancing yang tujuannya mengurangi aktivitas di luar rumah . Sebelum lebih jauh, social distancing adalah strategi kesehatan publik untuk mencegah dan menghambat penyebaran virus. Caranya dengan menjaga jarak dengan mereka yang sedang sakit, termasuk menghadiri pertemuan dengan jumlah banyak seperti konser dan festival. Kebijakan tersebut, mengutip salah satu artikel di internet, adalah upaya untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit yang disebabkan virus corona . Banyak hal positif yang saya rasakan selama masa-masa social distancing ini. Saya, yang jarang di ru...

Kita Targetkan di Bulan Ramadan Tahun Ini

Dua Ramadan terakhir, saya senang membuat target-target yang akan dicapai selama Ramadan . Biasanya, saya membuat daftar target ibadah beserta jumlahnya. Ada yang targetnya harian, pekanan, dan sebulan. Tentu, target-target itu berusaha sebenar mungkin niatnya hanya karena Allah. Sumber: https://elmafitria.wordpress.com Meskipun masih ada waktu 39 hari sebelum Ramadan (terhitung dari postingan ini di- upload ), semangat itu harus mulai dibangkitkan. Terutama teman-teman saya di WhatsApp yang semangat  upload pengingat Ramadan sejak h-100. Masya Allah. Semoga kita disampaikan pada bulan Ramadan. Sedikit flashback . Belum pernah terpikirkan akan target-target seperti khatam Quran dalam sebulan, rutin qiyamullail, dan lain-lain. Belum, sama sekali belum. Satu-satunya targetan yang saya buat kala itu adalah puasa sebulan penuh tanpa bolong . Harus, soalnya nggak ada halangan kayak perempuan. Sekalipun pas berangkat pulang kampung, saya sering request untuk berangka...